Meninggalkan Masa Lalu
Chris Baker adalah seorang seniman pembuat tato yang mengubah lambang penderitaan dan perbudakan menjadi karya seni. Banyak dari pelanggannya adalah mantan anggota geng dan korban perdagangan manusia yang telah ditato dengan nama, simbol, atau kode tertentu sebagai identitas mereka. Chris mengubah tato-tato tersebut menjadi karya seni yang indah dengan cara menato gambar yang baru di atas tato mereka yang lama.
Jangan Hanyut Terbawa Arus
Di akhir suatu semester, saya dan istri menjemput putri kami dari sekolahnya yang berjarak sekitar 100 km dari rumah. Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke suatu tempat istirahat di pantai terdekat untuk membeli makanan ringan. Sambil bersantai, kami memperhatikan perahu-perahu yang ada di pinggir pantai. Biasanya perahu-perahu dilabuhkan agar tidak hanyut terbawa arus, tetapi saya melihat di antara perahu-perahu itu ada sebuah perahu yang terombang-ambing dengan bebas dan lambat laun hanyut ke laut lepas.
Kejujuran yang Mengejutkan
Ketika seorang pendeta meminta salah seorang penatua gerejanya memimpin umat untuk berdoa, penatua itu memberi tanggapan yang mengejutkan. “Maafkan saya, Pak,” katanya, “saya baru saja bertengkar dengan istri saya di sepanjang perjalanan menuju gereja. Saya tidak siap untuk berdoa.” Seketika itu juga keadaan menjadi canggung. Akhirnya pendeta itu yang berdoa dan kebaktian dilanjutkan. Pendeta itu memutuskan untuk tidak lagi meminta seseorang berdoa di depan umum tanpa terlebih dahulu menanyakan kesediaan yang bersangkutan secara pribadi.
Tempat Berpijak yang Kukuh
Daerah tepian sungai yang bersejarah di Savannah, Georgia, Amerika Serikat, ditutupi oleh batu-batu yang tidak sama besar. Penduduk setempat mengatakan bahwa berabad-abad lalu, batu-batu tersebut digunakan sebagai pemberat bagi kapal-kapal yang menyeberangi Samudera Atlantik. Setelah kargo selesai dimuat di Georgia, batu-batu pemberat itu tidak lagi dibutuhkan dan kemudian digunakan untuk melapisi jalan-jalan di dekat dermaga. Batu-batu tersebut telah menyelesaikan tugas utamanya, yaitu menstabilkan kapal yang sedang melewati perairan yang berbahaya.
Kehadiran-Nya yang Penuh Kasih
Kami sangat sedih ketika mengetahui bahwa teman dekat kami, Cindy, didiagnosa mengidap penyakit kanker. Sebagai pribadi yang sangat bersemangat, hidup Cindy telah memberkati siapa saja yang bertemu dengannya. Saya dan istri senang sekali ketika ia sempat dinyatakan bebas kanker, tetapi beberapa bulan kemudian kankernya muncul lagi dalam kondisi yang lebih ganas. Kami sempat berpikir bahwa ia masih terlalu muda untuk meninggal dunia. Suaminya menceritakan kepada saya tentang waktu-waktu terakhir sebelum Cindy dipanggil Tuhan. Dalam keadaannya yang lemah dan sulit bicara, Cindy sempat berbisik kepada suaminya, “Tetaplah di dekatku.” Yang Cindy inginkan melebihi apa pun dalam masa-masa kekelaman tersebut adalah kehadiran suaminya yang penuh kasih.
Melayani Kristus
Aku seorang sekretaris,” ujar seorang teman kepada saya. “Ketika aku menyebutkan pekerjaanku kepada orang lain, terkadang mereka melihatku dengan rasa iba. Namun saat mereka tahu siapa atasanku, mereka berubah dan menjadi sangat kagum!” Dengan kata lain, orang sering memandang sebelah mata sejumlah pekerjaan tertentu, kecuali pekerjaan tersebut ada kaitannya dengan orang-orang yang kaya atau terkenal.
Lokasi Terpencil
Pulau Tristan da Cunha terkenal karena lokasinya yang terpencil. Pulau itu merupakan pulau berpenghuni paling terpencil di dunia, dengan penduduk sebanyak 288 orang. Pulau tersebut terletak di Lautan Atlantik Selatan, 2.816 km jauhnya dari Afrika Selatan sebagai daratan yang paling dekat. Siapa saja yang mau mengunjunginya harus menempuh perjalanan dengan kapal selama 7 hari karena pulau tersebut tidak mempunyai lapangan udara.
Belajar Mengasihi
Cinta tidak saja membuat “dunia ini berputar”, seperti kata sebuah lagu lama. Cinta juga bisa menjadikan kita sangat rentan. Mungkin adakalanya kita berkata pada diri sendiri: “Apa gunanya mencintai seseorang yang tak menghargainya?” atau “Untuk apa mengasihi jika itu dapat membuatku terluka?” Namun Rasul Paulus memberikan alasan yang jelas dan sederhana untuk mengejar kasih: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Kejarlah kasih itu” (1Kor. 13:13–14:1).
Hoo-ah!
Seruan “hoo-ah” merupakan geraman yang disuarakan oleh para tentara Angkatan Darat Amerika Serikat ketika mereka menyatakan persetujuan bersama. Asal-usulnya tidak diketahui dengan jelas, tetapi konon ucapan itu diambil dari singkatan lama HUA—Heard, Understood, and Acknowledged (Dengar, Paham, dan Terima). Pertama kalinya saya mendengar kata itu adalah saat mengikuti pelatihan dasar militer.