Category  |  Santapan Rohani

Mitos Kesempurnaan

Dr. Brian Goldman terobsesi untuk mengobati pasiennya secara sempurna. Namun, dalam suatu acara televisi, ia mengaku pernah melakukan kesalahan. Suatu waktu ia merawat seorang wanita di ruang gawat darurat, lalu memulangkannya. Kemudian, di hari yang sama, seorang perawat bertanya, “Anda ingat dengan pasien yang Anda pulangkan? Ia dibawa lagi ke sini.” Pasien itu kembali dirawat di rumah sakit dan akhirnya meninggal. Kejadian itu menghancurkan hati Dr. Goldman. Ia mencoba lebih keras lagi untuk menjadi dokter yang sempurna, tetapi akhirnya menyadari bahwa kesempurnaan itu mustahil untuk dicapai.

Proyek Babel

Dua tukang ditanya tentang apa yang sedang mereka bangun. Yang seorang menjawab bahwa ia sedang membangun sebuah garasi. Yang satu lagi mengatakan bahwa ia sedang membangun sebuah istana. Keesokan harinya, tinggal satu tukang yang sedang bekerja menyusun batu bata di sana. Ketika ditanya di manakah tukang satunya lagi, ia menjawab, “Oh, ia dipecat. Ia bersikeras membangun istana dan bukan garasi.”

Usia Bukan Kendala

Setelah 50 tahun bekerja di lab gigi miliknya, Dave Bowman berencana untuk pensiun dan menikmati usia senjanya. Ia makin yakin akan keputusannya setelah didera penyakit diabetes dan menjalani operasi jantung. Namun, ketika mendengar tentang sekelompok pengungsi muda dari Sudan yang membutuhkan bantuan, ia pun mengambil keputusan yang mengubah hidupnya. Ia memutuskan untuk mensponsori lima orang di antara mereka.

Jangan Tunda Lagi

Selama bertahun-tahun saya telah berbicara dengan sepupu jauh saya tentang kebutuhan manusia akan Juruselamat. Ketika ia mengunjungi saya baru-baru ini, saya kembali mendorongnya untuk menerima Kristus. Ia menjawab, “Aku mau saja menerima Yesus dan pergi ke gereja, tetapi belum sekarang. Aku tinggal di antara orang yang berbeda-beda keyakinan. Selama aku belum pindah dari sana, aku takkan bisa beribadah dengan bebas.” Ia menyebutkan bahwa ancaman penganiayaan, hinaan, dan tekanan dari rekan-rekannya membuatnya harus menunda keputusannya.

Memastikan Kebenaran

Seekor laba-laba hutan yang mematikan telah bermigrasi ke Amerika Serikat dan telah membunuh orang-orang.” Itulah cerita yang dikirimkan kepada saya dan beberapa orang lain melalui email seorang kawan. Ceritanya terdengar begitu masuk akal—ada banyak nama ilmiah dan kisah-kisah nyata. Namun ketika saya memeriksa berita itu di situs-situs yang dapat dipercaya, saya menemukan bahwa itu adalah suatu kabar burung yang tersebar di Internet. Kebenarannya hanya bisa dipastikan dengan cara mengeceknya dari sumber yang tepercaya.

Langkah-Langkah Bayi

Bayi saya sedang belajar berjalan. Saya harus memeganginya, dan ia pun bergantung pada jari-jari saya karena ia masih belum mantap untuk berdiri sendiri. Ia takut terpeleset, tetapi saya ada di dekatnya untuk menolong dan menjaganya. Ketika ia berjalan dengan bantuan saya, rasa terima kasih, bahagia, dan aman terpancar dari matanya yang bersinar-sinar. Namun terkadang ia menangis apabila saya tidak mengizinkannya untuk melangkah ke tempat-tempat yang berbahaya. Ia tidak menyadari bahwa saya sedang melindunginya.

Pahlawan yang Mengecewakan

Sebuah buku baru-baru ini menggambarkan dua jagoan penembak jitu di masa lalu, Wyatt Earp dan Doc Holliday, sebagai pemalas yang tidak ada apa-apanya. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah radio, penulis buku itu bercerita tentang pribadi Earp yang sesungguhnya, “Ia sama sekali tak pernah melakukan sesuatu yang luar biasa di sepanjang hidupnya.” Selama bertahun-tahun, dalam berbagai buku dan film Hollywood, mereka dicitrakan sebagai pahlawan. Namun, catatan sejarah yang tepercaya menunjukkan bahwa mereka tidak seperti penggambaran itu.

Tujuan Rutinitas

Sebuah jam dengan bola bergulir yang terdapat di Museum Inggris menyadarkan saya akan dampak rutinitas yang melumpuhkan. Dalam jam itu, sebuah bola baja kecil bergulir menyusuri alur-alur di atas lempengan baja yang diletakkan miring, dan akan berjalan terus dari satu sisi hingga mengungkit sebuah tuas di sisi lainnya. Gerakan itu memiringkan lempengan baja tersebut ke arah yang berlawanan sehingga bola pun bergulir kembali ke arah sebaliknya lalu menggerakkan jarum jamnya. Setiap tahunnya bola baja itu bergulir bolak-balik sepanjang kurang lebih 4.000 km, tanpa pernah menuju ke mana-mana.

Kuasa Perkataan

Nelson Mandela, tokoh penentang rezim apartheid di Afrika Selatan yang dipenjara selama hampir tiga dekade, sangat paham tentang kuasa perkataan. Kita sering mengutip perkataannya saat ini, tetapi selama dipenjara, ia tidak banyak bicara karena takut akan akibat buruk yang dapat ditimbulkannya. Satu dekade setelah pembebasannya, ia berkata: “Bukan kebiasaan saya untuk berkata-kata dengan sembarangan. Pengalaman selama 27 tahun mendekam di penjara telah mengajar kami untuk menggunakan kesunyian dari kesendirian itu guna memahami betapa berharganya perkataan, dan betapa kuat dampak perkataan terhadap hidup-mati seseorang.”