Category  |  Santapan Rohani

Ketika Kesulitan Datang

Pernyataan pertama yang sering diucapkan banyak orang ketika malapetaka menimpa mereka adalah ayat Roma 8:28. Namun ayat itu tidaklah mudah diterima di masa-masa sulit. Saat saya mendampingi seorang pria yang telah kehilangan tiga anak laki-lakinya, ia meratap, “Bagaimana mungkin bencana ini mendatangkan kebaikan untukku?” Saya tidak bisa menjawab, dan hanya bisa duduk diam dan berduka bersamanya. Beberapa bulan kemudian, dengan penuh syukur ia berkata, “Kesedihanku telah membawaku lebih dekat kepada Allah.”

Ikut Mendampingi

Ketika saudara perempuan saya Carole didiagnosa mengidap kanker payudara, kami sekeluarga merasa khawatir. Diagnosa tersebut, dengan operasi dan perawatan yang harus dijalaninya, memang membuat kami mengkhawatirkan kondisinya. Namun semua itu menggerakkan kami sekeluarga untuk mendoakan dirinya. Bulan demi bulan, Carole dengan jujur menceritakan kepada kami segala tantangan yang dialaminya. Namun kami semua akhirnya bersukacita ketika ia melaporkan bahwa operasi dan perawatan yang dijalaninya ternyata berhasil. Carole pun berangsur-angsur pulih!

Matikan

Ketika anak-anak masih kecil, kami pernah pergi mengunjungi kakek-nenek saya di wilayah utara negara bagian Wisconsin. Sinyal siaran televisi di rumah mereka tidak terlalu baik, tetapi bagi mereka hal itu bukanlah masalah besar. Setelah anak saya Scott berusaha menyetel pesawat TV tersebut untuk sekian waktu lamanya, dengan frustrasi ia bertanya pada saya, “Apa yang harus kita lakukan kalau cuma ada satu saluran TV dan kita tak suka dengan siarannya?”

Inilah yang Kita Lakukan

Ayah saya pernah terluka parah ketika kakinya tertembak dalam suatu pertempuran di Perang Dunia II. Saat itu, sebagai seorang letnan dua, ia sedang memimpin pasukannya bertempur di Hill 609, Afrika Utara. Kondisi fisik ayah saya tidak pernah pulih kembali seperti semula. Saya lahir beberapa tahun setelah itu, dan ketika masih kecil, saya tak pernah menyadari bahwa ayah pernah terluka. Saya mengetahuinya belakangan ketika seseorang menceritakannya. Walaupun terus-menerus merasakan sakit di kakinya, ayah saya tidak pernah mengeluhkannya, dan ia tak pernah menggunakan rasa sakit tersebut sebagai alasan untuk tidak bekerja guna memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Setia Mengikut Kristus

Ketika masih remaja, pengalaman musim panas yang paling saya sukai adalah saat mengikuti retret seminggu bagi kaum muda Kristen. Di penghujung kegiatan itu, saya dan teman-teman akan duduk berdempetan di depan api unggun yang besar. Pada saat itu, kami saling berbagi tentang apa yang telah kami pelajari mengenai Allah dan Alkitab dan juga bernyanyi. Salah satu lagu yang masih saya ingat menyatakan tentang keputusan mengikut Yesus. Refreinnya mencantumkan frasa penting: “Ku tak ingkar” (Kidung Puji-Pujian Kristen, No. 214).

Siapakah Sesamaku Manusia?

Mary menikmati pertemuan kelompok kecil yang berlangsung pada tengah minggu di gerejanya. Di sana ia dan beberapa temannya berkumpul untuk berdoa, berbakti, dan membahas sejumlah pertanyaan yang mendalami tema khotbah Minggu sebelumnya. Kali ini mereka berencana membahas tentang perbedaan antara “pergi” ke gereja dan “menjadi” gereja di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan ini. Ia sangat antusias bertemu dengan teman-temannya dan menikmati diskusi yang hangat.

Mencerminkan Kemuliaan Allah

Li Tang, seniman asal Tiongkok dari abad ke-12, sering melukis pemandangan alam yang diramaikan dengan gambar orang, burung, dan kerbau. Karena keahliannya dalam membuat lukisan halus di atas bahan sutra, Li Tang dipandang sebagai pakar seni Tiongkok untuk lukisan pemandangan alam. Selama berabad-abad, para seniman dari mancanegara telah melukiskan apa yang mereka saksikan melalui galeri seni dari karya ciptaan Allah: “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:2). Alkitab memberi tahu kita bahwa kreativitas yang kita miliki sebagai manusia itu disebabkan karena kita diciptakan menurut gambar Allah, Sang Perancang Agung (Kej. 1:27).

Di Bawah Kepungan

Sepanjang Perang Bosnia (1992–1996), lebih dari 10.000 orang—penduduk sipil dan tentara—tewas di kota Sarajevo saat peluru dan mortir dimuntahkan dari arah bukit-bukit di sekitarnya. Peristiwa pengepungan terpanjang atas suatu ibukota dalam sejarah peperangan modern itu menjadi latar belakang dari novel mencekam karya Steven Galloway yang berjudul The Cellist of Sarajevo (Pemain Selo dari Sarajevo). Buku itu bercerita tentang tiga tokoh fiktif yang harus memilih untuk bersikap, apakah mereka akan sepenuhnya memikirkan diri sendiri dalam pergulatan untuk bertahan hidup atau mereka akan bangkit dari keadaan mereka yang mengenaskan dan mau mempedulikan orang lain di masa-masa yang sangat sulit itu.

Memanggang Roti Bersama Jess

Suatu pagi saat Lilia bersiap untuk berangkat kerja, Jess, putrinya yang berusia 4 tahun, juga ikut bersiap-siap. Keluarga mereka baru membeli sebuah pemanggang roti berukuran besar, dan cara kerja pemanggang roti itu membuat Jess terpesona. Beberapa menit kemudian, Lilia mendapati sudah ada setangkup roti dan setengah helai roti panggang di atas meja dapurnya. Jess pun berseru, “Aku sekarang jago memanggang roti!”