Jam Allah Selalu Tepat
Saya sesekali pergi mengunjungi dua wanita lansia. Yang seorang sama sekali tidak memiliki masalah keuangan, sangat sehat untuk ukuran wanita seusianya, dan tinggal di rumahnya sendiri. Namun ia selalu mempunyai komentar yang negatif terhadap apa saja. Wanita yang satu lagi mengalami kelumpuhan akibat penyakit artritis dan agak pelupa. Ia tinggal di tempat sederhana dan mempunyai buku agenda agar ia tidak lupa dengan janji-janji yang dibuatnya. Namun kepada setiap orang yang mengunjungi apartemen mungilnya, komentar pertamanya selalu sama, “Allah begitu baik kepadaku.” Di kunjungan terakhir saya, saat menyerahkan buku agenda itu kepadanya, saya melihat bahwa pada hari sebelumnya ia telah menulis, “Besok makan siang di luar! Asyik! Satu lagi hari yang menyenangkan.”
Percaya Saja
Ketika anak-anak kami masih kecil, membawa mereka ke dokter adalah pengalaman yang menarik. Ruang tunggu dokter itu dipenuhi mainan yang bisa mereka mainkan dan majalah anak-anak yang suka saya bacakan untuk mereka. Sampai di situ tidak ada masalah. Namun begitu saya menggendong mereka masuk ke kamar praktek dokter, segalanya berubah. Keceriaan tiba-tiba berubah menjadi ketakutan, apalagi ketika perawat mendekati mereka dengan jarum suntik. Semakin dekat langkah si perawat, semakin erat mereka memeluk saya. Mereka memeluk saya dengan erat untuk mendapat kelegaan, atau mungkin mereka berharap tidak perlu disuntik, tanpa menyadari bahwa suntikan itu sebenarnya untuk kebaikan mereka sendiri.
Cermin Pemantul
Desa Rjukan yang kecil dan nyaman di Norwegia adalah wilayah yang menyenangkan untuk ditinggali—kecuali sepanjang hari-harinya yang gelap di musim dingin. Terletak di lembah pada kaki Gunung Gaustatoppen yang menjulang, desa ini tidak menerima pancaran sinar matahari secara langsung selama hampir setengah tahun. Warga sudah lama mempertim-bangkan gagasan untuk menempatkan sejumlah cermin di puncak gunung untuk memantulkan sinar matahari. Namun konsep itu baru dapat direalisasikan akhir-akhir ini. Pada tahun 2005, seorang seniman lokal memulai proyek yang dinamai Proyek Cermin untuk mengumpulkan orang-orang yang bisa mengubah gagasan itu menjadi kenyataan. Delapan tahun kemudian, pada Oktober 2013, cermin-cermin tersebut mulai beroperasi. Warga pun memadati alun-alun kota untuk menikmati sinar matahari yang dipantulkan.
Keluarga dalam Iman
Pada dekade 1980-an, kelas pembinaan bagi kaum lajang di gereja kami menjadi sebuah keluarga yang akrab bagi banyak orang yang telah kehilangan pasangan akibat perceraian atau kematian. Ketika seseorang akan pindah, para anggota kelas itu akan membantu untuk mengemas barang-barang, mengangkut perabotan, dan menyediakan makanan. Hari ulang tahun dan hari libur tidak lagi dijalani seorang diri, karena iman dan persahabatan telah melebur menjadi suatu hubungan yang langgeng dan sangat menguatkan. Banyak dari ikatan yang terjalin pada masa-masa sulit tiga dekade lalu itu terus berkembang dan menopang sejumlah pribadi dan keluarga hingga saat ini.
Keadilan dan Belas Kasihan
Ketika seorang terdakwa berdiri di hadapan hakim, nasibnya bergantung pada keputusan pengadilan. Jika ia tidak bersalah, pengadilan menjadi tempat perlindungan baginya. Namun jika ia bersalah, kita berharap pengadilan akan menjatuhkan hukuman.
Anugerah Pengharapan
Ketika topan yang sangat kuat menerjang kota Tacloban di Filipina pada tahun 2013, diperkirakan 10.000 orang meninggal, dan banyak dari mereka yang selamat telah kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Kebutuhan sehari-hari menjadi langka. Tiga bulan kemudian, ketika kota itu masih berjuang untuk bangkit dari kerusakan besar akibat topan tersebut, seorang bayi lahir di tepi jalan dekat Tacloban, di tengah derasnya hujan dan angin kencang. Meskipun cuaca saat itu mengingatkan mereka kembali pada peristiwa yang menyakitkan, warga setempat bekerja sama untuk mencari bidan, lalu mengantar ibu dan bayinya ke klinik. Sang bayi pun selamat, tumbuh sehat, dan menjadi lambang pengharapan di tengah masa sulit.
Tempat Kita Kelak
Ribuan untaian waktu, peristiwa, dan orang terjalin menjadi selembar permadani yang kita sebut sebagai tempat. Lebih dari sekadar sebuah rumah, tempat adalah wadah meleburnya makna, rasa memiliki, dan rasa aman di bawah naungan usaha kita bersama untuk mengasihi tanpa pamrih. Tempat membekaskan kenangan yang merasuk ke dalam jiwa kita. Meskipun tempat kita tidak sempurna, kesan yang diberikannya begitu kuat memikat kita.
Jalan Pintas yang Berbahaya
Baru-baru ini diadakan pemilihan umum di negara saya. Kenalan saya, seorang ibu, tengah mengalami kesulitan hidup sehingga ia rela menukarkan hak suaranya demi mendapat sekantong popok bayi. Kami sudah pernah membicarakan keunggulan dari setiap calon, sehingga pilihan ibu itu mengecewakan saya. Saya bertanya, “Lalu bagaimana dengan keyakinanmu?” Ia diam saja. Enam bulan setelah calon yang dipilihnya itu menang, pajak pun dinaikkan. Sekarang harga barang-barang menjadi lebih mahal daripada sebelumnya, termasuk popok bayi!
Tamu Tak Diundang
Baru-baru ini, saya dan istri saya, Marlene, menerima telepon bernada panik dari putra kami dan istrinya. Malam sebelumnya, mereka menemukan dua ekor kelelawar di dalam rumah mereka. Saya tahu bahwa kelelawar memang bagian penting dari ekosistem, tetapi di antara segala binatang yang ada, saya merasa paling geli dengan kelelawar, apalagi jika kelelawar itu beterbangan di dalam rumah.