Category  |  Santapan Rohani

Kekuatan untuk Bertahan Hidup

Ketika saya masih anak-anak, saya mempunyai sebuah balon tinju yang terbuat dari plastik. Balon bersosok boneka setinggi saya itu menampilkan wajah yang tersenyum. Saya tertantang untuk meninju boneka itu sekeras mungkin sampai boneka itu roboh. Namun sekeras apa pun pukulan saya, boneka itu akan selalu berdiri tegak kembali. Rahasianya? Ada pemberat berbahan timah di bagian dasar yang membuat boneka itu selalu tegak. Kapal layar beroperasi dengan prinsip yang sama. Pemberat-pemberat timah pada lambung kapal menjaga kapal tersebut agar tetap seimbang dan tegak ketika angin kencang melanda.

Menyibak Misteri

Salah satu daya tarik wisata yang paling populer di Inggris ialah pilar-pilar batu raksasa Stonehenge. Pilar-pilar granit raksasa itu juga merupakan sumber misteri yang besar. Setiap tahun, orang-orang berkunjung ke Stonehenge dengan pertanyaan: Mengapa bangunan raksasa ini dibangun? Siapa yang menyelesaikan karya agung yang mengagumkan ini? Mungkin pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana mereka memba-ngunnya. Namun, para pengunjung tidak memperoleh jawaban apa pun dari batu-batu yang membisu itu. Semuanya tetap misterius.

Dimulai dari Saya

Saya menyebutnya Catatan Mell—catatan-catatan kecil yang dibuat putri saya, Melissa, di dalam Alkitab miliknya untuk membantunya menerapkan ayat-ayat Alkitab dalam hidupnya.

Semut Pencari Rumah

Menurut para peneliti dari Universitas Bristol, semut-semut batu asal Eropa mungkin lebih maju daripada kita dalam mengikuti perkembangan pasar perumahan. Para peneliti menemukan bahwa koloni-koloni semut menggunakan semut-semut pencari untuk terus-menerus mengawasi kondisi kehidupan koloninya. Lewat kemampuan sosial yang begitu rumit hingga membuat takjub para ilmu-wan, semut-semut batu itu bergotong-royong dalam mencari ruang, kegelapan, dan perlin-dungan yang pas untuk menemukan sarang yang terbaik bagi ratu semut dan larva-larvanya.

Segala Sesuatu Ada Masanya

Anda mungkin pernah kesulitan untuk menolak tanggung jawab baru yang ditawarkan kepada Anda, terutama jika hal itu bertujuan baik dan langsung memberi manfaat kepada orang lain. Kita mungkin memiliki alasan kuat untuk memilih-milih pekerjaan mana yang kita prioritaskan. Namun terkadang, setelah menolak untuk terlibat lebih jauh, kita bisa jadi merasa bersalah atau berpikir bahwa kita telah undur dalam perjalanan iman kita.

Senjata Mematikan

Petinju legendaris Muhammad Ali memakai sejumlah taktik di atas ring untuk mengalahkan lawan; salah satunya dengan ejekan. Dalam pertarungan melawan George Foreman di tahun 1974, Ali mencecar Foreman, “Ayo, pukul lebih keras! Tunjukkan padaku, George. Tinjumu tak berasa. Kupikir kau lebih kejam dari itu.” Foreman pun bertinju dengan marah, sehingga tenaganya terbuang dan kepercayaan dirinya melemah.

Sadari Harganya

Baru-baru ini kami memberikan sepasang sepatu bot baru untuk putra kami yang berumur 2 tahun. Ia sangat senang hingga ia tidak mau melepaskan sepatunya itu sampai tiba waktunya tidur. Namun keesokan harinya, ia sudah lupa sama sekali pada sepatu bot itu dan kembali memakai sepatu kets lamanya. Suami saya berkata, “Andai saja ia tahu berapa harga sepatu bot itu.”

Dirongrong Oleh Kesalahan

Melalui sebuah tulisan di surat kabar, seorang pendeta menceritakan penga-lamannya berikut ini. Ia pernah berbincang dengan seorang pria lebih tua yang baru saja dikenalnya. “Anda pernah bekerja di sebuah perusahaan layanan listrik?” kata sang pendeta sembari menyebutkan nama perusahaan itu. “Betul,” jawab si pria. Sang pendeta bercerita bahwa saat ia masih kanak-kanak, kabel-kabel listrik dari perusahaan itu melintas di atas rumah orangtuanya. “Di mana Anda tinggal?” tanya pria tersebut. Ketika pendeta itu menyebutkan alamat rumah orangtuanya, pria tadi berkata, “Oh, saya ingat rumah itu. Saya sering kesulitan menjaga papan peringatan tentang bahaya kabel di sana untuk tetap berdiri. Ada anak-anak yang selalu menem-baki papan itu sampai jatuh.” Ketika wajah pendeta tersebut memerah karena malu, pria itu berkata, “Anda salah satu dari anak-anak itu, bukan?” Pendeta itu pun mengakuinya.

Hidup Yang Tekun

Ketika sedang mempelajari kitab Daniel, saya terkesan saat mengetahui bahwa Daniel sebenarnya dapat dengan mudah meluputkan dirinya supaya tidak dilempar-kan ke dalam gua singa. Para pejabat tinggi dalam pemerintahan Babel yang merasa iri hati kepada Daniel telah mengatur sebuah jebakan yang dipicu oleh ketekunan Daniel dalam berdoa kepada Allah setiap hari (Dan. 6:2-10). Daniel sepenuhnya telah menyadari rencana jebakan yang mereka siapkan itu. Sebenarnya ia bisa saja memutus-kan untuk berdoa secara sembunyi-sembunyi selama satu bulan sampai keadaan tenang kembali. Namun Daniel bukanlah orang seperti itu.