Category  |  Santapan Rohani

Bangku Persahabatan

Ketika mendengar seorang pasien muda bunuh diri karena tak mampu membayar ongkos bus menuju rumah sakit untuk menjalani perawatan mentalnya, Dr. Chibanda merasa sangat terpukul. Ia pun mencari cara agar perawatan tersebut dapat lebih mudah diakses. Maka lahirlah program konseling unik yang disebut “Bangku Persahabatan,” dengan para terapis yang duduk di bangku-bangku tersembunyi di ruang publik, siap mendengarkan siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Lalu, siapa yang ia latih sebagai terapis? Para nenek! “Mereka sudah tertanam dalam komunitas mereka,” ujar Dr. Chibanda. “Jadi, mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk . . . membuat orang lain merasa dihormati dan dimengerti.”

Tidak Ada Lagi Utang

Seorang dokter memutuskan pensiun setelah hampir 30 tahun merawat pasien kanker. Saat menyelesaikan urusan keuangan kliniknya bersama perusahaan penagihan, ia memilih untuk menghapus utang seorang pasien sebesar 650.000 dolar AS. Dalam sebuah wawancara, ia berkata, “Saya selalu merasa gelisah melihat pasien yang sedang sakit masih harus memikirkan hal-hal lain selain kesehatan mereka, seperti keluarga, pekerjaan, dan tekanan finansial. Itu terus membebani hati saya.”

Dapatkah Kita Hidup Selamanya?

Masuk ke kolom komentar situs berita daring memang berisiko, tetapi menarik. Dalam komentar terhadap wawancara dengan seorang jutawan yang sedang berupaya untuk hidup selamanya di dunia ini, seorang pembaca mengunggah kutipan dari Matius 16:25: “‘Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.’ —Yesus.” Menanggapi komentar itu, pembaca lain menulis, “Bukankah ada kitab yang ditulis tentang Yesus itu?” Seorang pembaca ketiga menjawab, “Ya, buku fiksi.”

Bertekad untuk Berbuat Lebih Sedikit

Ketika kita memikirkan resolusi Tahun Baru, yang mungkin muncul adalah daftar ambisi muluk-muluk yang jarang tercapai—faktanya, 80 persen resolusi biasanya gugur sebelum pertengahan Februari. Penulis Amy Wilson menawarkan pendekatan yang berbeda: ia menolak gagasan bahwa kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu agar hidup kita berubah menjadi lebih baik. Alih-alih menambah komitmen, saran Wilson, kita perlu melihat tahun baru sebagai kesempatan untuk berbuat lebih sedikit. Kita perlu mulai “berkata tidak” kepada sejumlah “komitmen yang terlalu besar dan berkepanjangan, yang menguras waktu dan energi kita tetapi tidak memberi imbalan yang sepadan.”