Category  |  Santapan Rohani

Sukacita yang Menetap

Pada tahun 2014, penduduk sebuah desa di Norwegia memasang rambu lalu lintas yang mendorong para penyeberang jalan untuk melakukannya dengan cara yang konyol. Tujuannya adalah untuk menghadirkan momen-momen lucu—bagi “para pejalan kaki yang konyol” dan juga mereka yang menyaksikannya—agar suasana hati semua orang menjadi lebih cerah. Kekonyolan yang sekilas itu dapat menjadi dorongan semangat sekejap bagi mereka yang sedang murung.

Sudut Pandang Allah

Pada tahun 2018, Pendeta Tan Flippin mengalami kecelakaan sepeda yang membuat ia harus dirawat di rumah sakit karena patah tulang pinggul. Ketika para dokter meminta dilakukannya pemindaian CT untuk memeriksa apakah terjadi gegar otak, mereka justru menemukan tumor ganas berukuran besar di bagian depan otaknya. Penemuan tersebut membawa Flippin kepada proses pengobatan yang panjang, dengan semakin banyak massa tumor yang ditemukan dan perawatan ekstensif yang harus dijalaninya—termasuk transplantasi sumsum tulang belakang. Flippin meyakini bahwa “Allah mengizinkan kecelakaan itu terjadi agar tumor otaknya ditemukan.”

Jawaban yang Tidak Hambar

Bert meletakkan kartu debitnya di atas lembar tagihan restoran. Saat hendak mengambilnya, si pelayan restoran sempat bertanya, “Tunggu, siapa yang berkata, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ ini? Sombong sekali orang itu!” Bert menyadari bahwa pelayan tersebut bereaksi terhadap kalimat yang tercetak pada kartu nama perusahaan keuangan Kristen yang dimilikinya, yakni ucapan Yesus di Yohanes 14:6. Karena tertarik mendengar tanggapan pelayan itu, Bert kemudian menjelaskan identitas dari “orang itu” juga pengorbanan-Nya yang membawa kita kembali kepada Allah.

Mendengar Suara Allah 

Pada awal abad ke-20, kota New York telah menjadi tempat yang ramai. Bunyi kereta api, mobil, dan trem yang lewat, ditambah teriakan penjual koran serta orang-orang yang lalu-lalang membuat suasana sangat berisik! Namun, suatu hari di persimpangan antara Broadway dan jalan nomor 34, seorang pria bernama Charles Kellogg berkata kepada temannya, “Hei, saya mendengar suara jangkrik.”

Benar-Benar Mempercayai Allah

Seekor kucing liar mengeong sedih, sehingga saya pun menghentikan langkah saya. Saya baru saja berjalan melewati setumpuk makanan yang dibuang dengan sembarangan di tanah. Wow, Allah telah menyediakan makanan untuk kucing yang kelaparan ini, pikir saya. Makanan itu tersembunyi di balik sebuah pilar, jadi saya mencoba memancing kucing yang kurus kering itu ke sana. Kucing itu bergerak ke arah saya seakan percaya penuh—tetapi ia kemudian berhenti dan menolak untuk mengikuti saya lebih jauh. Saya ingin bertanya, Mengapa kamu tidak mempercayai arahan saya? Ada banyak makanan yang menantimu, nih!

Tanpa atau Penuh Pengharapan

Setiap musim gugur, tanaman seperti ragweed (sejenis rumput liar) menimbulkan iritasi sinus pada anak saya. Suatu malam, gejalanya begitu parah sehingga saya memutuskan untuk membawanya ke dokter. Keluarga kami baru saja pulih dari masalah kesehatan yang serius selama berbulan-bulan, dan saya sangat berkecil hati sampai-sampai saya tidak ingin berdoa. Namun, suami saya menemukan secercah pengharapan di dalam semua yang telah kami lalui dengan pertolongan Allah. Ia pun berdoa memohon petunjuk. Tak lama kemudian, dengan bantuan obat-obatan, kondisi anak kami membaik.

Tirulah Aku

Saat sang ayah melemparkan tali pancing ke danau, Thomas yang berusia dua tahun meniru tindakan ayahnya dengan pancing mainannya sendiri. Kemudian, saat berdiri di tepian danau yang dangkal, Thomas juga mencoba meniru gaya ayahnya yang melemparkan ikan kembali ke air dengan mencelupkan pancingnya di dalam air dan “menangkap” rumput liar. Setiap kali selesai “menangkap”, Thomas mengangkat rumput liar untuk dikagumi oleh ayahnya sebelum melepaskannya kembali ke danau.

Kasih Allah Tidak Berkesudahan

Ketika sang ayah yang sakit dan lanjut usia pindah untuk tinggal bersamanya, Josie sempat merasa kewalahan dengan kebutuhan perawatannya sehari-hari. Obat-obatan yang harus dibelinya sangatlah mahal. Selain itu, tanggung jawab perawatan dan hikmat yang diperlukan untuk mengambil berbagai keputusan terkait kondisi kesehatan ayahnya yang makin memburuk, ditambah pekerjaannya yang utama, membuatnya sangat kelelahan. Ia pun bertanya, “Bagaimana aku bisa terus menerima dan membagikan kekuatan, bantuan praktis, hikmat, dan kasih?”

Penuh Perhatian dan Siap Bertindak

Seorang sopir bus sekolah jatuh pingsan saat mengemudi, dan kendaraan besar berisi 60 siswa yang dikemudikannya pun melaju di luar kendali. Salah seorang murid kelas tujuh bernama Dillon Reeves bangkit dari kursinya, bergegas ke bagian depan bus, dan perlahan-lahan menginjak rem tepat pada waktunya. Saat sebagian besar siswa sibuk mengetik pesan atau bermain dengan ponsel mereka, Dillon—yang tidak mempunyai ponsel—tersadar lalu bertindak. Ia tahu bagaimana cara menginjak rem dengan perlahan karena melihat sopir itu sering melakukannya. Perhatian Dillon yang terus terjaga dan tidak teralihkan telah menolongnya dalam menyelamatkan nyawa semua penumpang bus, termasuk sang sopir yang akhirnya siuman.