![Rahmat [Allah] yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. (1 Petrus 1:3) Rahmat [Allah] yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. (1 Petrus 1:3)](https://da4kwgmu3ugvs.cloudfront.net/wp-content/uploads/sites/60/2025/10/20101444/SOCIAL-POST_20251112-940x1175.jpg)
Tidak Sekadar Impian
Semasa saya remaja, pada tiap musim gugur, nenek saya akan membawa katalog Natal dari toserba JCPenney. Dengan gembira, saya langsung mengambilnya dan menikmati foto-foto yang mengagumkan di dalamnya.

Kenangan Lama yang Membekas
Awal musim dingin tahun 1941. Ibadah Minggu baru saja berakhir. Ayah saya dan saudara-saudaranya berjalan kaki pulang ke rumah, sementara ayah mereka masih berada di gereja. Namun kemudian, ketika berjalan menapaki bukit bersalju menuju rumahnya, beliau terlihat sedang menangis. Ia baru saja mendengar kabar bahwa Pearl Harbor telah dibom. Semua putranya, termasuk ayah saya, akan dipanggil negara untuk berperang. Ayah saya selalu mengenang kejadian itu dengan sangat jelas.

Wanita yang Takut Akan Allah
Perayaan ulang tahun Rosie berlangsung sangat seru dan tak terlupakan. Selain makanan yang lezat dan canda tawa di meja, kehadiran cucu pertamanya menjadi pelengkap yang sempurna! Namun, semua hal baik itu tak sebanding dengan penghormatan yang diberikan oleh kedua putra Rosie. Meski pernikahan Rosie kandas, keterampilannya yang luar biasa sebagai orangtua tunggal tecermin lewat putra-putranya. Kalimat pujian mereka mencerminkan bagaimana Rosie sudah melakukan semampunya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ucapan putra bungsunya sangat tepat dalam menggambarkan sikap Rosie di hadapan mereka: “Mama adalah wanita yang takut akan Allah.”

Misi Radikal
Diognetus, seorang penyembah berhala dari abad ke-2, memperhatikan bahwa para pengikut Kristus “bertambah jumlahnya dari hari ke hari.” Hal ini terus terjadi meski mereka mengalami penganiayaan di bawah pemerintahan Romawi. Ia bertanya kepada salah seorang percaya mengapa hal itu dapat terjadi. Dalam sebuah dokumen yang dikenal sebagai Surat kepada Diognetus, bapa gereja mula-mula itu menjawab demikian, “Tidakkah Anda melihat bahwa semakin banyak dari mereka yang mendapat hukuman, semakin bertambah jumlah orang yang percaya? Tampaknya ini bukan pekerjaan manusia: ini adalah karya kuasa Allah.”
