Natal Bangsa Ukraina
Bangsa Ukraina memasukkan banyak unsur yang indah dalam perayaan Natal yang mereka lakukan. Ada kalanya mereka meletakkan beberapa helai jerami di atas meja makan pada saat makan malam untuk mengingatkan mereka pada palungan di Betlehem. Bagian lain dari perayaan Natal yang mereka selenggarakan melukiskan peristiwa-peristiwa pada malam kelahiran Sang Juruselamat ke dunia. Ada sepenggal doa Natal yang dipanjatkan, kemudian ayah sebagai kepala rumah tangga akan memberikan salam, dengan ucapan, “Kristus telah lahir.” Seluruh keluarga lalu membalasnya dengan menjawab, “Mari kita muliakan Dia!”
Penatalayan Kisah Hidup
Banyak orang begitu teliti untuk memastikan bahwa harta benda mereka akan digunakan dengan baik setelah mereka meninggal dunia. Mereka akan mengatur pengelolaan harta, menulis surat wasiat, dan mendirikan yayasan untuk menjamin agar aset mereka akan terus digunakan untuk tujuan yang baik setelah berakhirnya masa hidup mereka di dunia. Sikap itu kita sebut sebagai penatalayanan yang bertanggung jawab.
Kelahiran Istimewa
Dalam lembaran-lembaran Kitab Suci, tercatat sejumlah kelahiran bayi laki-laki yang cukup menonjol. Kain adalah anak pertama yang lahir setelah penciptaan. Ishak adalah harapan bagi masa depan bangsa Israel. Samuel menjadi jawaban dari doa yang dengan tekun dipanjatkan oleh seorang ibu. Semua kelahiran itu sangatlah penting. Semua itu telah dinantikan dengan penuh sukacita. Semuanya digambarkan persis sama oleh para penulis Kitab Suci: dalam setiap peristiwa kelahiran itu, disebutkan bahwa sang ibu mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (Kej. 4:1, 21:2-3; 1Sam. 1:20).
Pahlawan Lain Dalam Natal
Hampir di sepanjang hidup saya, saya melewatkan pentingnya peran Yusuf dalam cerita Natal. Namun setelah saya sendiri menjadi seorang suami dan ayah, saya dapat lebih menghargai kepribadian Yusuf yang lemah lembut. Bahkan sebelum Yusuf tahu bagaimana Maria bisa mengan-dung, ia telah memutuskan tidak akan mempermalukan atau menghukum Maria atas kecurigaan bahwa ia telah berselingkuh (Mat. 1:19).
Bergelung Bagai Kepompong!
Saat saya masih kecil, keluarga kami tinggal di sebuah rumah yang dibangun oleh ayah saya di bagian barat dari kota Duncanville, Texas, Amerika Serikat. Rumah kami mempunyai sebuah dapur sekaligus ruang makan kecil, dua kamar tidur, dan satu ruangan luas dengan perapian batu yang besar tempat kami biasa membakar batang-batang kayu pohon aras sepanjang 60 CM. Perapian itu menjadi pusat kehangatan dalam rumah kami.
Ular Dalam Kotak
Di suatu kebun raya, saya menyaksikan putri teman saya, seorang batita mungil berpipi kemerahan, menepuk-nepuk sisi luar dari sebuah kotak kaca yang besar. Di dalam kotak itu ada seekor ular bull snake bernama Billy yang sedang merayap lambat dan menatap gadis kecil itu. Billy mempunyai lingkar badan sebesar lengan atas saya dan tubuhnya berwarna cokelat kekuningan. Meski saya tahu Billy tidak akan kabur dari kotaknya, tetapi melihat makhluk yang berpenampilan ganas itu begitu dekat dengan seorang anak kecil, saya masih merasa ngeri.
Keajaiban Jantung
Setiap hari jantung kita berdetak sekitar 100.000 kali, memompa darah ke setiap sel yang ada dalam tubuh kita. Itu berarti secara total jumlahnya sekitar 35 juta detak per tahun dan 2,5 milyar detak sepanjang hidup manusia pada umumnya. Ilmu kedokteran memberi tahu kita bahwa setiap kontraksi yang terjadi itu setara dengan usaha yang kita butuhkan untuk menggenggam sebuah bola tenis dengan telapak tangan kita dan meremasnya kuat-kuat.
Hidup Kita Ibarat Buku
Buku The New England Primer (buku pelajaran dasar bagi siswa SD) diterbitkan di penghujung tahun 1600-an. Buku tersebut menjadi materi pelajaran yang digunakan secara luas di antara koloni-koloni yang di kemudian hari bersatu membentuk negara Amerika Serikat.
Batu-Batu Berteriak
Dari tahun ke tahun, tampaknya Natal semakin dikomersialkan. Bahkan di negara-negara yang sebagian besar penduduk-nya menyebut diri beragama “Kristen”, Natal lebih banyak dihubungkan dengan kegiatan belanja daripada beribadah. Tekanan untuk membeli hadiah dan merencanakan pesta yang meriah membuat orang semakin sulit memusatkan perhatian pada arti Natal yang sebenarnya, yakni kelahiran Yesus, Putra tunggal Allah, Sang Juruselamat dunia.