Kasih Setia Allah
Dalam kegiatan penjangkauan yang diadakan gereja kami di sebuah panti jompo, seorang penghuni lansia bernama Ed menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya bertahun-tahun silam. Hari itu, ia diantar oleh putrinya ke tempat itu lalu ditinggalkan begitu saja di trotoar. Karena duduk di atas kursi roda, Ed tidak mampu berdiri untuk mengejar putrinya. Putrinya kembali ke mobil tanpa menoleh sedikit pun, lalu pergi. Padahal sebelumnya ia sempat berkata, “Kita akan pergi ke hotel yang bagus.” Namun, hari itu adalah terakhir kalinya Ed melihat putrinya.
Resiliensi yang Penuh Sukacita
Para ilmuwan mempelajari resiliensi (daya tahan) dari 16 peradaban di berbagai belahan dunia, seperti kawasan Yukon dan pedalaman Australia. Mereka menganalisis ribuan tahun catatan arkeologi serta menelusuri dampak kelaparan, peperangan, dan perubahan iklim yang terjadi pada rentang waktu tersebut. Satu faktor menonjol yang mereka temukan adalah frekuensi kemunduran yang dialami peradaban tersebut. Sekilas, hal ini mungkin tampak melemahkan komunitas tersebut. Namun, para peneliti justru menemukan yang sebaliknya—komunitas yang sering menghadapi kesulitan cenderung lebih tahan banting dan mampu pulih lebih cepat dari tantangan di masa depan. Tampaknya, tekanan dan stres dapat membentuk resiliensi.

Hati yang Diubahkan oleh Allah
Seperti banyak orang lainnya, Russell mulai mengenal pornografi sejak usia muda. Dorongan untuk mengaksesnya begitu kuat hingga meracuni hatinya. “Hidupku sepenuhnya diselubungi oleh pornografi,” tulisnya, “sampai itu menjadi seperti kanker yang mengakar kuat pada diriku.” Namun, oleh anugerah Allah, Russell akhirnya terbebas dari jerat pornografi—dan juga dari berbagai kecanduan lainnya—ketika ia menerima keselamatan dalam Yesus Kristus dan mengalami perubahan dari dalam batinnya. “Ini semua karena Yesus Kristus, . . . [Dialah] yang sudah menyelamatkan saya,” ungkapnya.

Juruselamat yang Penuh Kasih
Suatu saat, di tengah kebakaran hutan yang hebat, seorang penjaga hutan berhasil menyelamatkan seekor anak beruang. Ia kemudian meletakkan hewan itu di lokasi yang aman dan jauh dari kobaran api. Berdiri dengan kaki belakangnya yang mungil, anak beruang itu memeluk betis sang pria. Ketika penjaga hutan itu mencoba melepaskan diri dengan lembut, beruang kecil itu membuka mulutnya seolah berteriak dengan putus asa. Ia berusaha memanjat dan meraih sang penjaga karena ingin tetap berada dalam pelukan sosok pelindungnya itu. Saat anak beruang itu memegangi lengannya, pria yang baik hati tersebut akhirnya mengalah dan mengusap kepala hewan berbulu itu dengan penuh kasih.

Mata yang Dibuka oleh Allah
Suatu sore di sebuah kafe, saya memperhatikan seorang balita yang duduk bersama orangtuanya di meja sebelah. Sementara orangtuanya asyik berbincang dengan teman-teman mereka, seekor merpati terbang masuk dan mulai mematuk remah-remah di lantai. Kagum melihat peristiwa ini, gadis kecil tersebut menjerit kegirangan dalam usaha untuk menarik perhatian orang-orang dewasa di sekitarnya. Namun, mereka semua tidak melihat apa yang dilihatnya. Mereka hanya tersenyum sebentar kepadanya, lalu kembali melanjutkan percakapan.
Yesus, Hadiah Terbesar
“Musik apakah paling indah / Selain kidung penuh berkah / Tentang Sang Raja lahir bawa anugerah?” Baris-baris syair abad ke-17 berjudul “What Sweeter Music” karya Robert Herrick ini diinterpretasikan ulang oleh komposer paduan suara masa kini, John Rutter, dan menjadi salah satu favorit di masa Adven. Melodinya yang lembut menggambarkan musim penantian yang panjang dan dingin, yang menghangat oleh pengharapan akan kedatangan Yesus. Para penyanyi membawakan kidung Natal bagi-Nya, sementara para pendengar diundang untuk mempersembahkan hati mereka.