Category  |  Santapan Rohani

Tidak Malu Bersaksi bagi Yesus

Sebelum mati martir karena imannya yang teguh di dalam Yesus, seorang pendeta tanpa nama asal Afrika menulis sepenggal doa yang diberi judul “Doa Seorang Martir.” Pesan mendalam dari masa silam itu kini dikenal sebagai “Persekutuan Mereka yang Tidak Malu.”

Menghayati Kebenaran Kristus

Ketika teman saya, Connor, mengambil foto dengan kamera tuanya, ia tidak mementingkan pencahayaan yang menarik, memoles bagian-bagian yang coreng-moreng, atau membuang bagian yang kurang enak dilihat. Hasil fotonya terlihat begitu apa adanya. Namun, di konten media sosial saya, karya foto Connor tampak menonjol di antara foto-foto orang atau tempat menarik yang telah diedit dengan sangat halus. Meski tidak lazim, karyanya begitu indah karena menyampaikan kebenaran tentang sesuatu tanpa ditutupi-tutupi.

Bergantung kepada Allah

“Oh, tampangmu serius sekali!” kata saya kepada cucu perempuan saya yang berusia sepuluh minggu, Leilani. Ia memandangi wajah saya dengan dahi berkerut saat saya berbicara dengannya. “Aku juga akan begitu melihat dunia ini,” lanjut saya, “Tetapi, kamu harus tahu kalau ayah-ibumu sayang padamu. Baba serta Papa [nama panggilan kami sebagai kakek dan nenek] juga sayang padamu. Tetapi, yang paling hebat dan paling penting, Yesus sayang padamu!”

Rasa Keadilan Allah

Suatu hari datang berita yang sangat mengerikan. Seorang imigran yang bekerja sebagai asisten rumah tangga mengalami penganiayaan hingga meninggal dunia oleh keluarga tempatnya bekerja. Kedua majikannya memang dipenjara, tetapi saya merasa hukuman itu belum cukup. Mereka seharusnya merasakan kekejian seperti yang mereka lakukan kepada gadis itu, pikir saya, dan kemudian dihukum mati. Namun, saya termenung, apakah kemarahan saya sudah berlebihan. Apakah saya salah telah berpikir seperti itu?

Kebebasan yang Allah Berikan

Sekelompok arsitek lanskap meneliti dampak dari pemasangan pagar di sekeliling arena bermain dari sebuah taman kanak-kanak. Di dalam arena bermain yang tidak dipagar, anak-anak cenderung enggan untuk berkeliaran dan memilih bergerombol dekat bangunan sekolah atau di dekat guru mereka. Namun, di dalam arena bermain yang berpagar, mereka dapat menikmati area tersebut secara menyeluruh. Para peneliti itu menyimpulkan bahwa batasan ternyata dapat menciptakan rasa kebebasan yang lebih besar. Fakta ini tampaknya bertolak belakang dengan pemikiran kebanyakan orang yang menganggap bahwa batasan akan mengurangi kesenangan. Namun sebaliknya, pagar justru dapat memberikan kebebasan!