Month: Desember 2025

Juruselamat yang Penuh Kasih

Suatu saat, di tengah kebakaran hutan yang hebat, seorang penjaga hutan berhasil menyelamatkan seekor anak beruang. Ia kemudian meletakkan hewan itu di lokasi yang aman dan jauh dari kobaran api. Berdiri dengan kaki belakangnya yang mungil, anak beruang itu memeluk betis sang pria. Ketika penjaga hutan itu mencoba melepaskan diri dengan lembut, beruang kecil itu membuka mulutnya seolah berteriak dengan putus asa. Ia berusaha memanjat dan meraih sang penjaga karena ingin tetap berada dalam pelukan sosok pelindungnya itu. Saat anak beruang itu memegangi lengannya, pria yang baik hati tersebut akhirnya mengalah dan mengusap kepala hewan berbulu itu dengan penuh kasih.

Mata yang Dibuka oleh Allah

Suatu sore di sebuah kafe, saya memperhatikan seorang balita yang duduk bersama orangtuanya di meja sebelah. Sementara orangtuanya asyik berbincang dengan teman-teman mereka, seekor merpati terbang masuk dan mulai mematuk remah-remah di lantai. Kagum melihat peristiwa ini, gadis kecil tersebut menjerit kegirangan dalam usaha untuk menarik perhatian orang-orang dewasa di sekitarnya. Namun, mereka semua tidak melihat apa yang dilihatnya. Mereka hanya tersenyum sebentar kepadanya, lalu kembali melanjutkan percakapan.

Yesus, Hadiah Terbesar

“Musik apakah paling indah / Selain kidung penuh berkah / Tentang Sang Raja lahir bawa anugerah?” Baris-baris syair abad ke-17 berjudul “What Sweeter Music” karya Robert Herrick ini diinterpretasikan ulang oleh komposer paduan suara masa kini, John Rutter, dan menjadi salah satu favorit di masa Adven. Melodinya yang lembut menggambarkan musim penantian yang panjang dan dingin, yang menghangat oleh pengharapan akan kedatangan Yesus. Para penyanyi membawakan kidung Natal bagi-Nya, sementara para pendengar diundang untuk mempersembahkan hati mereka.

Ketakutan Berganti Kesukaan

Banyak ahli sejarah meyakini bahwa siaran musik dan pidato melalui radio pertama kalinya didengar oleh para operator radio Angkatan Laut AS dan kapal-kapal lainnya di Samudra Atlantik pada malam Natal tahun 1906. Mereka tidak mendengar bunyi bip atau denyut kode Morse seperti biasanya, melainkan suara Reginald Fessenden yang memainkan biola solo lagu Natal “O, Holy Night” (O Malam Kudus). Fessenden menutup siaran bersejarah itu dengan menggemakan pujian para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 2:14). Para pendengar pertama itu pasti tertegun mendengar alunan musik yang menyentuh jiwa dan kata-kata pujian yang mengagungkan kelahiran Yesus Kristus.

Tidak Pilih Kasih

Pada tahun 1872, Presiden Amerika Serikat, Ulysses S. Grant, diberhentikan karena mengendarai kereta kudanya secara gegabah di Washington DC. Menurut sebuah artikel, petugas yang menghentikannya, William West, menegur Grant dengan berkata, “Tuan, cara mengendara Anda yang ugal-ugalan bisa membahayakan nyawa orang-orang yang menyeberangi jalan.” Grant meminta maaf. Namun, pada malam berikutnya, ia kembali berkendara dengan cara yang sama. West kembali menghentikan kereta kuda itu dan berkata, “Mohon maaf, Bapak Presiden. Saya harus melakukan ini. Anda memang kepala negara, dan saya hanya seorang petugas polisi, tetapi saya harus menjalankan tugas.” West pun menahan sang presiden.