Terus Maju dengan Iman
Untuk dapat berprofesi sebagai pengacara di California, AS, Maxcy Filer harus lulus ujian tingkat negara bagian yang berlangsung tiga hari berturut-turut. Bukan hanya sekali atau dua kali, Filer harus mengikuti ujian tersebut sebanyak 48 kali sebelum akhirnya berhasil. Ia mempunyai tujuan yang jelas: menjadi pembela hukum bagi kaum kurang mampu dan terpinggirkan di kota Compton yang ia cintai. Selama 25 tahun perjuangan itu—dari ujian pertama sampai lulus—Filer dan istrinya membesarkan tujuh anak, yang semuanya berhasil duduk di perguruan tinggi. Ketika akhirnya Filer disumpah sebagai pengacara, sang hakim berkata, “Tiga kata yang mewakili Maxcy Filer: ketekunan, ketekunan, ketekunan.”

Air Mata dan Harapan
Bagi Mary Edwar, hari Minggu Palem—perayaan masuknya Yesus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan—telah meninggalkan luka mendalam. Seusai ibadah, Mary dan suaminya, Kareem, berjalan bergandengan tangan keluar dari gereja. Tiba-tiba sebuah bom meledak, merenggut nyawa Kareem, melukai Mary, dan membuatnya kehilangan calon bayinya.

Berdoa dengan Janji Allah
“Tidak, kamu tidak boleh pergi ke danau,” kata saya kepada putri saya sembari menunduk di bawah wastafel untuk memperbaiki pipa bocor. “Tapi Papa berjanji kalau aku sudah menyelesaikan tugasku, aku boleh pergi,” katanya mengingatkan. Saya memang lupa sudah menjanjikan itu karena kesibukan saya. Masalah yang saya hadapi membuat saya lalai menepati kata-kata saya.

Allah Hadir dalam Hal-Hal Terkecil
Keponakan saya yang baru masuk kuliah mulai sibuk dengan berbagai tugas dan penyesuaian diri di tempat tinggalnya yang baru. Suatu kali, karena masalah keamanan yang muncul belakangan ini, pihak kampus mewajibkan mahasiswa untuk mendaftarkan kendaraan mereka. Karena menyadari bahwa hal itu akan menambah daftar tugasnya yang sudah banyak, saya pun menawarkan diri untuk menolongnya.

Identitas yang Diberikan Kristus
Bertahun-tahun lalu, seniman Michael Landy menghitung seluruh barang miliknya dan tiba pada angka 7.227. Yang ia lakukan setelah itu sungguh mengejutkan. Landy mendirikan sebuah pabrik di pusat perbelanjaan tersibuk di London dan menghancurkan semua miliknya di muka umum. Pakaian, karya seni, surat cinta, bahkan mobilnya dilucuti dan dibongkar, lalu ditaruh di atas ban berjalan yang membawa benda-benda itu masuk ke dalam mesin penghancur. Sementara orang-orang lalu-lalang dan sibuk berbelanja di sekitarnya, karya seni Landy seolah bertanya: “Siapakah kita tanpa kepemilikan kita?”