Category  |  Santapan Rohani

Iman Timbul dari Pendengaran

Ketika Pendeta Bob mengalami cedera yang mempengaruhi suaranya, ia pun memasuki masa lima belas tahun yang penuh krisis dan depresi. Apa yang dapat dilakukan seorang pendeta yang tidak dapat berbicara? begitu pikirnya. Ia terus berkutat dengan pertanyaan itu, sambil mencurahkan kesedihan dan kebingungannya kepada Allah. Ia pun merenung, “Hanya satu yang aku tahu harus kulakukan—mencari firman Tuhan.” Setelah beberapa saat lamanya ia mengambil waktu membaca Alkitab, kasihnya kepada Allah semakin bertumbuh: “Saya telah menyerahkan hidup saya untuk menyerap dan memenuhi diri saya dengan Kitab Suci, karena iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Allah.”

Langkah demi Langkah

Dua belas tim, masing-masing beranggotakan tiga orang yang bersisian, tengah bersiap-siap menempuh lomba “empat kaki”. Lutut dan tungkai anggota yang berada di tengah diikat menjadi satu dengan kaki rekan-rekan setimnya di kiri dan kanan menggunakan kain warna-warni. Kemudian, ketiganya akan memusatkan perhatian mereka kepada garis finis. Ketika peluit dibunyikan, sejumlah tim langsung melangkah maju. Banyak dari mereka yang jatuh dan sulit untuk bangkit kembali. Sebagian kecil tim memutuskan untuk melompat daripada berjalan. Sebagian lagi memilih untuk menyerah. Namun, ada satu tim yang tidak terburu-buru melangkah. Mereka memastikan lagi strategi yang akan ditempuh, dan terus berkomunikasi sepanjang lomba. Mereka sempat tersandung, tetapi bangkit lagi bersama-sama, hingga akhirnya mengalahkan semua tim yang lain. Kemauan mereka untuk bekerja sama, langkah demi langkah, memampukan mereka melewati garis akhir bersama-sama.

Ibadah Sejati

Pada musim panas setelah tahun kedua saya di bangku kuliah, seorang teman sekelas tiba-tiba meninggal dunia. Padahal baru beberapa hari sebelumnya kami bertemu dan ia terlihat baik-baik saja. Kami masih muda dan merasakan hidup sedang jaya-jayanya. Kami bahkan baru saja mengikat janji persaudaraan dalam komunitas mahasiswa di kampus.

Hidup dalam Kebebasan

Setiap tanggal 19 Juni di Texas, kampung halaman saya, diadakan pawai dan piknik yang meriah di tengah komunitas kulit hitam. Namun, saat sudah beranjak remaja, saya baru mengetahui makna memilukan di balik perayaan Juneteenth (paduan dari kata “June” dan “nineteenth”). Juneteenth diselenggarakan untuk memperingati hari ketika para budak di Texas pada tahun 1865 akhirnya menyadari bahwa Proklamasi Emansipasi yang membebaskan mereka dari perbudakan telah disahkan oleh Presiden Abraham Lincoln—dua setengah tahun sebelumnya. Selama itu para budak di Texas masih hidup dalam perbudakan karena tidak tahu tentang kebebasan mereka.

Memperbaiki Gokart

Garasi rumah masa kecil saya menyimpan banyak kenangan. Biasanya pada Sabtu pagi, ayah saya mengeluarkan mobil dari garasi sehingga kami mempunyai ruang untuk mengerjakan proyek favorit saya: memperbaiki mobil gokart rusak yang kami temukan. Di lantai garasi, kami memberi gokart itu roda baru, memasang kaca depan plastik yang sporty, dan—dengan Ayah di jalan mengawasi lalu lintas—saya akan membawanya ngebut di depan rumah dengan penuh semangat! Mengingat kembali masa-masa itu, saya pikir, apa yang kami lakukan di garasi itu lebih daripada sekadar memperbaiki gokart. Di sana, seorang anak laki-laki sedang dibentuk oleh ayahnya—dan dalam prosesnya saya melihat sekilas sosok Allah sebagai Bapa.

Kekuatan Suara

Sering kali, para orator paling hebat dalam sejarah adalah pemimpin-pemimpin yang telah menggunakan suara mereka untuk membawa perubahan positif. Orang-orang seperti Frederick Douglass, yang pidatonya mengenai abolisi dan kebebasan memicu gerakan yang mendorong diakhirinya praktik perbudakan di Amerika Serikat. Bayangkan apa yang terjadi jika ia memilih diam? Kita semua memiliki kapasitas untuk menggunakan suara kita untuk menginspirasi dan membantu orang lain, tetapi rasa takut untuk angkat bicara dapat melumpuhkan kita. Saat rasa takut menguasai, kita dapat memandang kepada Allah, sumber hikmat dan pengobar semangat kita.

Ingatan Allah yang Tak Pernah Gagal

Seorang pria memiliki lebih dari 400 juta dolar dalam mata uang bitcoin, tetapi ia tidak dapat mengakses satu sen pun kekayaannya itu. Ia lupa kata sandi dari perangkat yang menyimpan dananya tersebut, dan bahaya pun mengancam: setelah sepuluh kali keliru memasukkan kata sandi, perangkat itu akan hancur dengan sendirinya. Harta itu terancam lenyap selamanya. Selama satu dekade, pria itu merana dan mati-matian berusaha mengingat kata sandi untuk investasi yang dapat mengubah hidupnya itu. Ia telah mencoba delapan kata sandi dan semuanya gagal. Pada tahun 2021, ia mengeluh hanya memiliki dua kesempatan lagi sebelum semuanya lenyap seperti asap.

Menyusun Semua Kepingan

Saat berada dalam karantina karena pandemi global, kami sekeluarga memutuskan untuk mengerjakan sebuah proyek ambisius—menyusun puzzle yang berisi delapan belas ribu kepingan! Meski mengerjakannya hampir setiap hari, sering kali kami merasa tidak mencapai banyak kemajuan. Namun, lima bulan kemudian, dengan gembira kami memasang keping terakhir dari puzzle berukuran sekitar 3x2 meter yang menutupi lantai ruang makan kami tersebut.

Pergumulan dan Kemenangan

Jimmy tidak membiarkan gejolak sosial, ancaman bahaya, dan ketidaknyamanan menghalanginya pergi ke salah satu negara paling miskin di dunia untuk membantu pelayanan pasutri di sana. Pesan-pesan singkat yang diterima tim pelayanan kami secara teratur mengungkapkan beragam tantangan yang dihadapinya. “Oke, teman-teman, mohon doakan kami. Kami baru menempuh enam belas kilometer dalam dua jam terakhir . . . tetapi mesin mobil sudah belasan kali kepanasan.” Gara-gara kendala transportasi itu, ia baru sampai di tujuannya persis menjelang tengah malam untuk berkhotbah kepada orang-orang yang sudah menantinya selama lima jam. Kemudian kami menerima sebuah pesan lagi dengan nada berbeda. “Sungguh persekutuan yang sangat ajaib dan indah . . . Sekitar selusin orang maju untuk didoakan. Malam yang benar-benar luar biasa!”