Sungguh Besar Kasih Allah
Ketika seorang teman meminta saya berbicara tentang kesucian hidup kepada gadis-gadis remaja dalam sebuah lokakarya, saya sempat menolaknya. Sewaktu remaja, saya pernah memberontak dan bergumul bertahun-tahun dengan luka batin yang diakibatkan oleh perilaku saya yang amoral. Setelah menikah dan mengalami keguguran saat mengandung anak pertama, saya mengira Allah menghukum saya karena dosa-dosa masa lalu itu. Ketika akhirnya menyerahkan hidup kepada Tuhan Yesus di usia tiga puluh, saya mengakui dosa-dosa saya dan bertobat . . . berkali-kali. Namun, masih saja rasa bersalah dan malu menghantui saya. Bagaimana mungkin saya bercerita tentang kasih karunia Allah, apabila saya sendiri tidak bisa sepenuhnya menerima kasih karunia-Nya yang luar biasa itu? Syukurlah, seiring berjalannya waktu, Allah mengenyahkan kebohongan yang membelenggu saya kepada masa lalu sebelum saya bertobat. Oleh kemurahan-Nya, akhirnya saya rela menerima pengampunan yang telah ditawarkan Allah kepada saya selama ini.
Dibangun Bersama untuk Melayani
Orang-orang Amish membangun lumbung dengan cara bergotong royong. Butuh waktu berbulan-bulan bagi seorang petani dan keluarganya untuk membangun lumbung, tetapi orang-orang Amish dapat mendirikan lumbung dengan cepat karena pembangunannya dikerjakan bersama-sama. Kayunya sudah dikumpulkan jauh-jauh hari; perkakas pun telah disiapkan. Pada hari yang ditentukan, pagi-pagi benar, seluruh komunitas Amish berkumpul, membagi-bagi tugas, dan bersama-sama bekerja membangun lumbung, yang terkadang selesai dalam sehari.
Tanda Saksi
“Lihat itu?” tukang reparasi jam mengarahkan cahaya senternya ke sebuah goresan kecil yang diukir dengan kasar di bagian dalam jam besar kuno yang ada di rumah kami. “Kemungkinan goresan itu dibuat oleh tukang reparasi seabad lalu,” ia menjelaskan. “Goresan itu disebut ‘tanda saksi’, dan tanda itu membantu saya mengetahui cara mengatur mekanisme jam ini.”
Kedutaan Allah
Ludmilla, seorang janda berusia 82 tahun, menyatakan rumahnya di Republik Ceko sebagai “Kedutaan Kerajaan Surga”. Ia berkata, “Rumahku adalah perluasan dari Kerajaan Kristus.” Ia menyambut siapa saja, baik teman maupun orang asing, yang sedang menderita dan membutuhkan penerimaan yang hangat. Ludmilla terkadang menyediakan bagi mereka makanan dan tempat tidur—selalu dengan semangat penuh belas kasih dan doa. Dengan mengandalkan karya Roh Kudus untuk menolongnya mengurus para tamu, Ludmilla bersukacita melihat cara Allah menjawab doa-doa mereka.
Allah Membersihkan Semua Noda
Bagaimana jika pakaian kita bisa bersih sendiri setelah tertumpah saus tomat, kecap, atau minuman? Menurut kantor berita BBC, para insinyur di Tiongkok telah mengembangkan “lapisan khusus yang membuat katun bisa bersih sendiri dari noda dan bau ketika terkena sinar ultraviolet.” Bisakah Anda bayangkan akibatnya mempunyai pakaian yang bisa bersih sendiri?
Melampaui Batas Pemahaman
Sungguh hari yang sulit ketika suami saya diberi tahu, seperti banyak orang lain, bahwa ia akan diberhentikan dari pekerjaannya sebagai dampak dari pandemi COVID-19. Kami percaya Allah akan memenuhi kebutuhan kami, tetapi ketidakpastian tentang bagaimana itu akan terjadi tetaplah menakutkan.
Damai Sejahtera-Nya
Selama beberapa bulan, saya menghadapi politik dan intrik hebat di tempat kerja. Sebenarnya saya orang yang mudah mengkhawatirkan segala sesuatu, jadi saya heran saat itu saya justru merasa tenang. Alih-alih merasa waswas, saya justru dapat merespons keadaan itu dengan pikiran dan hati tenang. Saya tahu damai sejahtera itu hanya mungkin datang dari Allah.
Esensi Doa
Ketika Abraham Lincoln menjadi presiden Amerika Serikat, ia bertanggung jawab untuk memimpin negara yang sedang retak. Lincoln dipandang sebagai pemimpin yang bijak dan berbudi luhur, tetapi ada satu unsur lain dari karakternya yang mungkin menjadi fondasi seluruh sifatnya. Ia sadar dirinya tidak cukup cakap mengemban tanggung jawab yang diembannya. Namun, bagaimana respons Lincoln? Ia berkata, “Saya sudah sering didesak untuk berlutut dengan keyakinan kuat bahwa tidak ada jalan lain yang dapat saya tempuh. Hikmat dan seluruh kemampuan saya terasa tidak cukup untuk menghadapi hari itu.”
Hidup Berintegritas
Abel Mutai, seorang atlet lari asal Kenya, tinggal beberapa meter dari garis finis dan akan memenangi lomba lintas alam internasional. Namun, karena bingung melihat papan petunjuk dan mengira dirinya telah melewati finis, Mutai pun menghentikan larinya. Ivan Fernandez Anaya asal Spanyol yang membuntuti di posisi kedua melihat kesalahan Mutai. Namun, alih-alih memanfaatkan keadaan dan melesat ke garis finis, ia justru menghampiri Mutai, mengulurkan lengan, dan memberi isyarat agar Mutai terus berlari untuk meraih medali emasnya. Ketika ditanya oleh seorang reporter tentang alasannya berbuat demikian, Anaya menegaskan bahwa Mutai yang selayaknya menang, bukan dirinya. “Apa yang dapat dipuji dari kemenangan saya? Kebanggaan seperti apa yang saya dapatkan dari medali emas itu? Apa yang akan dipikirkan ibu saya jika saya berbuat demikian?” Sebuah berita menulis demikian: “Anaya lebih memilih jujur daripada menang.”