Bersedia Menunggu
Menunggu sering kali membuat kita kehilangan damai sejahtera. Menurut ahli komputer Ramesh Sitaraman, salah satu sumber “rasa frustrasi dan kemarahan universal” terbesar dari para pengguna internet adalah menunggu perambah (browser) yang lamban saat memuat halaman web. Penelitian menyatakan bahwa waktu untuk kita bersedia menunggu video daring dimuat rata-rata adalah dua detik. Setelah lima detik, sekitar dua puluh lima persen pengguna akan urung, dan setelah sepuluh detik, setengah dari pengguna membatalkan niatnya. Betapa tidak sabarannya kita!
Kelu Lidah Saat Berdoa
Ketika adik laki-laki saya masih bayi, ia harus menjalani operasi pada mulutnya. Ibu menjelaskan bahwa sejak lahir, adik saya menderita “tongue-tie” (ankyloglossia). Jika tidak dioperasi, kemampuannya untuk makan dan berbicara akan terhambat. Hari ini istilah “tongue-tied” digunakan untuk menggambarkan kesulitan seseorang untuk kata-kata atau terlalu malu untuk berbicara—dalam bahasa Indonesia, ini mirip dengan istilah “kelu lidah”.
Tangan yang Aman
Seperti tali yang terburai, benang-benang kehidupan Doug Merkey putus satu demi satu. “Ibu saya tumbang oleh kanker yang menggerogotinya; hubungan cinta yang telah lama saya jalin kandas; kondisi finansial saya buruk; karier saya suram . . . Kegelapan emosional dan spiritual yang menyelimuti dan saya alami sendiri begitu dalam, pekat, dan tak dapat ditembus,” tulis pendeta sekaligus pematung itu. Rangkaian peristiwa yang menimpanya bertubi-tubi, ditambah keadaan yang mengharuskannya tinggal di kamar loteng yang sempit, menjadi latar belakang karya pahatannya yang berjudul The Hiding Place (Tempat Persembunyian). Pahatan itu menggambarkan kedua tangan Kristus yang kuat dan berlubang paku, dalam posisi ditangkupkan, sebagai tempat yang aman.
Iman yang Tak Tergoyahkan
Setelah ayahnya meninggal dunia, Kevin pergi ke panti jompo untuk mengambil barang-barang almarhum. Staf panti menyerahkan dua kotak kecil, dan hari itu Kevin sadar, tidak diperlukan banyak harta untuk merasa bahagia.
Dikuatkan di dalam Allah
Langston Hughes adalah pekerja restoran di sebuah hotel yang bercita-cita menjadi penulis. Suatu hari pada tahun 1925, Hughes mendengar penyair idolanya, Vachel Lindsey, sedang menginap di sana. Dengan malu-malu Hughes pun memberikan beberapa lembar puisi karyanya kepada Lindsey. Di kemudian hari, Lindsey memuji-muji puisi Hughes di depan umum. Pujian itu membuat Hughes mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di sebuah universitas, yang kemudian menolongnya meraih sukses dalam karier sebagai penulis.
Mengelola Karunia Kita
Pada tahun 2013, aktor Inggris David Suchet melakukan syuting untuk beberapa episode terakhir dari serial televisi Hercule Poirot. Suchet memerankan tokoh detektif Belgia ciptaan Agatha Christie itu dalam film serta dalam sebuah pementasan teater. Di sela-sela kesibukannya, Suchet melakukan apa yang disebutnya sebagai “peranan terbesar dalam hidup”, yaitu merekam suaranya untuk proyek Alkitab audio, dari Kejadian sampai Wahyu—752.702 kata dalam bahasa Inggris—yang berdurasi lebih dari dua ratus jam.
Percakapan yang Hangat
Saya dan Catherine berteman baik di SMA. Selain senang ngobrol di telepon, kami juga saling berkirim pesan di kelas untuk merencanakan acara menginap bersama. Kadang-kadang kami berkuda bersama dan berpasangan dalam mengerjakan tugas sekolah.
Memilih untuk Merayakan
Penulis Marilyn McEntyre bercerita, dari seorang teman ia belajar bahwa “lawan dari iri hati adalah perayaan”. Meskipun memiliki cacat fisik dan penyakit kronis yang membatasi kemampuannya mengembangkan bakat sesuai harapannya, sang teman sanggup menjalani hidup dalam sukacita dan merayakannya bersama orang lain. Sebelum meninggal dunia, ia dikenal telah menghadirkan “rasa syukur dalam setiap pertemuan”.
Kabar Baik Pembawa Sukacita
Suatu malam pada tahun 1964, gempa bumi besar dengan kekuatan 9,2 skala Richter mengguncang Alaska selama lebih dari empat menit. Di Anchorage, seluruh blok kota lenyap, hanya menyisakan kawah besar dan puing-puing. Sepanjang malam yang gelap dan menakutkan, reporter berita Genie Chance berdiri di depan mikrofonnya, menyampaikan pesan kepada orang-orang putus asa yang duduk di dekat radio mereka. Suami yang bekerja di padang mendengar kabar istrinya masih hidup; keluarga yang cemas mendengar kabar putra mereka yang pergi berkemah ternyata baik-baik saja; sepasang suami-istri mendengar kabar anak-anak mereka telah ditemukan. Siaran radio memberitakan secuplik kabar baik demi kabar baik—sungguh sukacita yang luar biasa di tengah kehancuran yang mengenaskan.