Category  |  Santapan Rohani

Bahan Berbahaya

Suara sirene meraung-raung semakin keras saat sebuah mobil gawat darurat menyalip mobil saya. Terang lampu sirenenya yang berpendar menembus kaca depan mobil saya dan menerangi tulisan “Awas, bahan berbahaya” pada badan mobil itu. Belakangan saya baru tahu kalau truk tersebut sedang mengebut menuju sebuah laboratorium sains karena asam sulfat seberat 400 galon yang diangkutnya mulai bocor. Para petugas harus segera menampung zat tersebut karena kemampuannya merusak apa pun yang bersentuhan dengannya.

Ucapan Terima Kasih yang Tulus

Untuk mempersiapkan Xavier, putra kami, menghadapi wawancara kerja pertamanya, Alan, suami saya, memberikan setumpuk kartu ucapan terima kasih untuk dikirimkan kepada calon pemberi kerja setelah selesai wawancara. Suami saya lalu berpura-pura menjadi pewawancara dan mengajukan berbagai pertanyaan kepada Xavier. Selesai latihan, Xavier memasukkan beberapa lembar surat lamarannya ke dalam map. Ia tersenyum ketika Alan mengingatkannya tentang kartu ucapan itu. “Aku tahu, Ayah,” katanya. “Ucapan terima kasih yang tulus akan membuatku terlihat berbeda dari pelamar-pelamar yang lain.”

Menggenggam Terlalu Erat

Dalam fabel kuno The Boy and the Filberts (Nuts), seorang bocah laki-laki memasukkan tangannya ke dalam stoples berisi kacang dan meraup segenggam penuh isinya. Namun, tangannya terlalu penuh sehingga tersangkut di mulut stoples. Karena tidak rela kehilangan sebutir kacang pun, bocah itu mulai menangis. Pada akhirnya, ia dinasihati untuk membuka genggamannya dan melepaskan sebagian kacang supaya tangannya dapat keluar dari stoples. Memang, ketamakan dapat memberikan pelajaran yang pahit kepada kita.

Dia Memegang Kita

Pendeta Watson Jones teringat saat dahulu ia belajar naik sepeda. Sang ayah berjalan di sampingnya ketika Watson melihat ada sejumlah teman perempuan duduk di teras. Karena gengsi, ia berseru, “Ayah, aku sudah bisa sendiri!”, padahal kenyataannya tidak. Ia baru menyadari bahwa ia belum belajar menyeimbangkan dirinya di atas sepeda tanpa dipegang ayahnya. Ternyata ia belum sedewasa yang ia kira.

Harta Istimewa Allah

Bayangkan sebuah ruang singgasana yang megah dan luas. Seorang raja agung duduk di takhtanya. Ia dikelilingi oleh banyak pelayan, masing-masing menunjukkan sikap yang terbaik. Sekarang, bayangkan ada sebuah peti yang diletakkan di dekat kaki sang raja. Dari waktu ke waktu, raja memasukkan tangannya ke dalam peti itu dan memegang-megang isinya. Apa yang ada di dalam peti tersebut? Perhiasan, emas, dan batu permata kesukaan raja. Peti itu menyimpan harta sang raja, suatu koleksi yang mendatangkan kebahagiaan baginya. Dapatkah Anda membayangkannya?

Berbicara Tentang Allah

Penelitian Barna Group di tahun 2018 mendapati bahwa sebagian besar orang Amerika tidak suka berbicara tentang Tuhan. Hanya tujuh persen yang membicarakan hal-hal rohani secara teratur—dan ini tidak jauh berbeda di antara orang percaya. Hanya tiga belas persen dari jemaat yang rutin beribadah yang mengatakan bahwa mereka membicarakan hal-hal rohani setidaknya satu kali dalam seminggu.

Pengakuan dari Satu Pribadi

Ketika komponis legendaris Giuseppe Verdi (1813–1901) masih muda, kehausannya untuk diakui orang menjadi motivasinya meraih sukses. Warren Wiersbe pernah menulis, “Ketika Verdi menampilkan karya operanya yang perdana di kota Firenze, sang komponis berdiri seorang diri di bawah bayang-bayang dengan mata yang terus tertuju kepada wajah seseorang di bangku penonton—Rossini yang agung. Bagi Verdi, tidak penting baginya apakah para penonton bersorak atau mencemoohnya; yang terpenting baginya adalah senyum tanda pengakuan dari sang maestro.”

Si Anak Sulung

Penulis Henri Nouwen mengingat kembali kunjungannya ke sebuah museum di St. Petersburg, Rusia. Ia pernah menghabiskan waktu berjam-jam di sana merenungi lukisan karya Rembrandt tentang kisah anak yang hilang. Seiring berjalannya waktu, pergeseran dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela ke arah lukisan membuat Nouwen seolah-olah melihat lukisan yang berbeda-beda akibat pencahayaan yang berubah-ubah. Setiap pergeseran seolah menyingkapkan hal baru tentang kasih seorang ayah kepada anak lelakinya yang terpuruk.

Beban yang Indah

Tiba-tiba saya terbangun di tengah malam yang gelap gulita. Saya baru terlelap kurang dari tiga puluh menit tetapi rasanya saya akan sulit untuk tidur lagi. Suami teman saya sedang terbaring di rumah sakit setelah menerima kabar yang menakutkan, “Kankernya kambuh lagi—sekarang menyerang otak dan tulang belakangnya.” Sekujur tubuh saya terasa sakit memikirkan mereka. Alangkah beratnya beban mereka! Namun, entah bagaimana, roh saya seperti disegarkan setelah saya berdoa semalaman. Bisa dikatakan saya merasakan beban yang indah untuk mereka. Bagaimana mungkin?