Menyenangkan Telinga Kita
Sebagai manusia, kita cenderung mencari informasi yang mendukung pendapat kita. Riset menunjukkan bahwa kita sebenarnya berusaha dua kali lipat untuk mencari informasi yang mendukung posisi kita. Kita cenderung menjauhi pemikiran lain yang menentang pemikiran yang kita pegang dengan teguh.
Kesegaran di Teras Depan
Pada suatu hari yang sangat panas, Carmine McDaniel yang berusia 8 tahun ingin memastikan tukang pos yang berkeliling di kompleks rumahnya tidak kepanasan atau mengalami dehidrasi. Jadi, ia menaruh tempat pendingin berisi sekaleng minuman berenergi dan beberapa botol air mineral di teras depan rumahnya. Kamera keamanan di rumahnya merekam reaksi tukang pos itu: “Wow, minuman dingin. Sangat menyegarkan! Terima kasih, Tuhan!”
Manis dan Pahit
Sejumlah orang menyukai cokelat pahit dan yang lain lebih menyukai cokelat manis. Bangsa Maya kuno di Amerika Tengah menikmati cokelat sebagai minuman dan menambahi rasanya dengan cabai. Mereka menyebut minuman itu sebagai “air pahit”. Bertahun-tahun kemudian cokelat dibawa ke Spanyol, tetapi orang Spanyol lebih menyukai cokelat manis. Oleh karena itu, mereka menambahkan gula dan madu untuk menyeimbangkan rasa pahit alami dari cokelat.
Kebaikan Orang yang Tak Dikenal
Ketika baru lulus kuliah, keadaan mengharuskan saya untuk membatasi uang belanja saya tidak lebih dari 25 dolar seminggu. Suatu hari, saat sedang antre membayar, saya merasa bahwa total harga dari barang-barang yang saya ingin beli lebih besar daripada sisa uang yang saya kantongi. Oleh karena itu, saya berkata kepada kasir, “Tolong berhenti kalau total harganya sudah 20 dolar.” Ternyata saya dapat membeli semua barang yang saya pilih, kecuali sebungkus merica.
Dihina karena Semua Dosa Kita
Susannah Cibber dikenal luas pada abad ke-18 karena bakatnya sebagai penyanyi. Namun, ia juga terkenal karena masalah-masalah dalam pernikahannya. Itulah sebabnya ketika oratorio karya Handel yang berjudul Messiah (Mesias) pertama kali ditampilkan di Dublin pada April 1742, banyak penonton mengecam keterlibatan Cibber sebagai solois dalam pertunjukan tersebut.
Mahkota Raja
Kami duduk mengelilingi sebuah meja dan setiap dari kami menancapkan tusuk gigi pada lembaran gabus di depan kami. Pada saat makan malam, di minggu-minggu menjelang Paskah, kami bersama-sama membuat mahkota duri. Setiap tusuk gigi melambangkan perbuatan kami di hari itu yang kami sesali dan yang telah ditanggung Kristus lewat pengorbanan-Nya. Malam demi malam, aktivitas tersebut menyadarkan kami betapa kami sungguh bersalah atas dosa-dosa kami dan betapa kami membutuhkan Juruselamat. Kami pun menyadari kembali bahwa Tuhan Yesus telah membebaskan kami melalui kematian-Nya di kayu salib.
Jalan Kesengsaraan
Sepanjang Minggu Suci, kita mengenang hari-hari terakhir yang dijalani Yesus sebelum penyaliban-Nya. Jalan yang dilalui Yesus di antara jalanan kota Yerusalem untuk tiba di tempat penyaliban itu kini dikenal sebagai Via Dolorosa atau jalan kesengsaraan.
Sebaskom Kasih
Bertahun-tahun lalu, dalam mata pelajaran fisika, guru kami meminta kami untuk menyebutkan warna dari dinding belakang kelas kami, tanpa kami menoleh ke belakang. Tak satu pun dari kami bisa menjawabnya karena kami memang tidak pernah memperhatikan warna dinding itu.
Melihat dan Termenung
Dalam lagu “Look at Him” (Pandanglah Dia), Rubén Sotelo, pencipta lagu asal Meksiko, menggambarkan Yesus yang tergantung di kayu salib. Sotelo mengajak kita untuk melihat Yesus dan termenung, karena tak satu pun kata dapat terucap saat kita menghayati kasih yang Yesus tunjukkan di kayu salib. Dengan iman, kita dapat membayangkan adegan yang digambarkan dalam Injil. Kita dapat membayangkan salib dan darah Yesus, serta paku dan penderitaan yang dialami-Nya.