Category  |  Santapan Rohani

Pembawa Kasih

Dalam pelayanan saya sebagai pembina rohani, terkadang saya diminta untuk menolong seseorang dalam pergumulannya. Saya merasa senang bisa membantu mereka, dan kenyataannya, sayalah yang belajar banyak dari mereka. Contohnya ketika seorang petobat baru yang jujur berkata kepada saya dengan pasrah, “Saya rasa lebih baik tidak membaca Alkitab. Semakin banyak saya tahu tentang apa yang Allah harapkan dari diri saya, saya justru semakin menghakimi orang lain yang tak berperilaku seperti yang tertulis dalam Alkitab.”

Awal yang Baru

Sewaktu masih kecil, salah satu buku favorit saya adalah Anne of Green Gables (Anne dari Green Gables) karya Lucy Maud Montgomery. Dalam salah satu bagian yang kocak, diceritakan bahwa Anne yang masih kecil tidak sengaja memasukkan obat kulit dan bukannya bubuk vanili ke dalam adonan kue yang sedang dibuatnya. Setelah itu, ia berseru dengan nada ceria pada Marilla, pengawasnya yang bertampang galak, “Alangkah menyenangkannya membayangkan bahwa esok adalah hari baru yang belum ternoda oleh kesalahan apa pun!”

Senjata Ilahi Kita

Di bawah pengawasan Nehemia, para pekerja Israel membangun kembali tembok yang mengelilingi Yerusalem. Akan tetapi, di tengah proses pembangunan itu, mereka mendengar berita tentang musuh-musuh mereka yang bersekongkol untuk menyerang Yerusalem. Kabar itu semakin menjatuhkan semangat para pekerja yang sudah kelelahan itu.

Teruslah Mendaki!

Richard membutuhkan dorongan, dan ia mendapatkannya. Ia sedang memanjat tebing bersama Kevin, temannya yang bertugas sebagai belayer (orang yang mengamankan pemanjat dengan memegangi tambang di bawahnya). Karena merasa lelah, Richard ingin menyerah saja dan meminta Kevin menurunkannya agar ia dapat kembali ke tanah. Namun Kevin mendorong Richard untuk bertahan, dengan berkata bahwa ia sudah mendaki cukup jauh dan sayang jika ia memilih untuk turun. Sambil terayun di udara, Richard pun memutuskan untuk melanjutkan usahanya. Luar biasa, Richard berhasil mengait-kan dirinya kembali dengan tebing itu dan menyelesaikan pemanjatan berkat dorongan dari temannya.

Tidak Dilupakan

Dalam perayaan ulang tahun sang ibu yang ke-50, di hadapan ratusan tamu yang hadir, Kukua si putri sulung menceritakan kembali tentang apa yang telah dilakukan sang ibu untuknya. Kukua teringat pada masa-masa sulit di mana mereka tidak memiliki banyak uang. Di tengah keadaan itu, sebagai orangtua tunggal, sang ibu rela melepaskan kenyamanan dirinya. Ibunya menjual perhiasan yang disayanginya dan barang-barang berharga lainnya supaya Kukua dapat bersekolah hingga tamat SMA. Dengan berlinang air mata, Kukua mengatakan bahwa sesulit apa pun situasi pada masa itu, ibunya tidak pernah meninggalkannya ataupun saudara-saudaranya.

Roh Kudus yang Dijanjikan

Kegigihan dan keberanian—dua sifat yang menonjol dari Elisa. Meluangkan waktu bersama Elia telah membuat Elisa menyaksikan cara Tuhan bekerja melalui nabi-Nya dengan melakukan mukjizat dan menyatakan kebenaran di tengah zaman yang bengkok. 2 Raja-Raja 2:1 bercerita tentang Elia yang hendak diangkat Tuhan ke surga, dan Elisa yang tidak ingin Elia pergi.

Tak Ada Sukacita yang Lebih Besar

Sebagai pasangan suami-istri dengan tiga anak laki-laki yang masih kecil, hidup Bob dan Evon Potter mengalami perubahan yang dahsyat dan indah. Pada tahun 1956, mereka menghadiri KKR yang dipimpin Billy Graham di kota Oklahoma, dan di sana mereka memberikan hidup mereka kepada Kristus. Setelah itu, mereka rindu menjangkau sesama dengan membagikan kesaksian mereka dan kebenaran tentang Kristus. Maka mereka membuka pintu rumah mereka setiap Sabtu malam bagi para siswa dan mahasiswa yang rindu mempelajari Alkitab. Seorang teman mengajak saya untuk bergabung sehingga saya pun sangat sering berkunjung ke rumah keluarga Potter.

Doa Maraton

Apakah Anda bergumul untuk memiliki kehidupan doa yang teratur? Banyak dari kita bergumul dengan hal itu. Kita tahu bahwa doa itu penting, tetapi doa itu juga dapat sulit dilakukan. Adakalanya kita merasa begitu erat bersekutu dengan Allah. Namun, di waktu-waktu lain kita bisa merasa doa hanyalah rutinitias belaka. Mengapa kita bergumul begitu rupa dengan doa-doa kita?

Bangkit dari Reruntuhan

Di kawasan Jewish Quarter, Yerusalem, Anda dapat menemukan Sinagoge Tiferet Yisrael. Dibangun pada abad ke-19, sinagoge itu diledakkan tentara pada masa Perang Arab-Israel tahun 1948.