Sesuai yang Saya Butuhkan
Suatu waktu, saya berdiri di bagian belakang ruangan panti wreda di kota Palmer, Alaska, sembari mendengarkan paduan suara SMA putri saya menyanyikan pujian It Is Well with My Soul (Nyamanlah Jiwaku). Saya bertanya-tanya mengapa Lisa, anak saya yang memimpin paduan suara, memilih lagu itu. Pujian itu pernah dimainkan di upacara pemakaman kakaknya, Melissa, dan Lisa tahu persis bahwa saya tidak pernah mendengarkan lagu tersebut tanpa rasa haru.
Meneruskan Pancaran Terang
Seorang gadis kecil merasa penasaran dengan rupa orang kudus. Suatu hari mamanya membawanya ke sebuah katedral megah untuk melihat-lihat jendela-jendela kaca patri yang indah dan dihiasi dengan kisah-kisah Alkitab. Ketika melihat indahnya semua jendela itu, gadis kecil itu berseru dengan lantang, “Sekarang aku tahu seperti apakah rupa orang kudus itu. Mereka adalah orang-orang yang meneruskan pancaran terang!”
Bisnis Barang Bekas
Adam Minter memiliki bisnis barang bekas. Sebagai anak dari pengusaha barang bekas, ia berkeliling dunia untuk mencari tahu tentang sampah dan rongsokan. Dalam buku berjudul Junkyard Planet (Planet Barang Bekas), ia membahas tentang industri daur ulang sampah yang bernilai milyaran dolar. Ia bercerita tentang pengusaha-pengusaha di seluruh dunia yang mencurahkan tenaga mereka untuk mencari barang-barang bekas, seperti kawat tembaga, kain usang, dan plastik, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang baru dan berguna.
Berbuat yang Benar di Mata Allah
Tukang koboi” adalah istilah yang digunakan oleh banyak pemilik rumah di Inggris bagi para pekerja yang melakukan pekerjaan konstruksi mereka dengan kualitas buruk. Istilah itu biasanya diucapkan dengan rasa takut atau sesal, seringkali karena orang tersebut telah mengalami sendiri hasil pekerjaan yang buruk itu.
Keharuman Kristus
Dari kelima indra manusia, manakah yang paling kuat dalam membuat Anda terkenang akan sesuatu? Bagi saya sudah pasti indra penciuman. Bau dari sejenis minyak pelindung sinar matahari langsung membawa saya teringat pada sebuah pantai di Prancis. Bau makanan ayam mengingatkan saya pada masa kecil saat saya berkunjung ke rumah Nenek. Sekilas saja harum pinus membuat saya membayangkan tentang Natal, dan wewangian dari sebuah merek aftershave (semacam losion yang dipakai setelah bercukur) mengingatkan saya tentang masa remaja putra saya.
Kasih yang Ajaib
Tindakan bersejarah terakhir dalam Perjanjian Lama digambarkan di kitab Ezra dan Nehemia ketika Allah mengizinkan umat Israel kembali dari pengasingan dan menetap kembali di Yerusalem. Kota Daud kembali didiami oleh keluarga-keluarga orang Ibrani, sebuah bait suci yang baru dibangun, dan tembok-temboknya diperbaiki.
Badai di Cakrawala
Putra kami, Josh, adalah seorang penangkap ikan salmon profesional di Kodiak, Alaska. Beberapa waktu lalu, ia mengirimkan kepada saya foto sebuah perahu kecil berjarak beberapa ratus meter di depan perahunya dan sedang bergerak melalui suatu celah yang sempit. Awan badai yang kelihatannya buruk tampak bergulung-gulung di cakrawala. Namun terlihat pelangi, tanda pemeliharaan dan penyertaan Allah yang penuh kasih, membentang dari satu sisi ke sisi lain dari celah tersebut dan melingkupi perahu kecil itu.
Agar Kita Mengerti
Saya senang mengunjungi museum seperti Galeri Nasional di London dan Galeri Negara Tretyakov di Moskow. Meskipun sebagian besar karya seni di dalamnya sangat mengagumkan, ada juga di antaranya yang membingungkan saya. Saya bisa melihat sesuatu yang tampak seperti percikan warna yang serampangan di atas kanvas dan menyadari bahwa saya sama sekali tidak mengerti apa yang sedang saya lihat, meskipun pelukisnya adalah ahli di bidangnya.
Lebih Besar dari Semua Kekacauan
Bisa dikatakan bahwa tema utama dari kitab 2 Samuel di Perjanjian Lama adalah “Hidup ini memang kacau!” Membaca kitab itu seperti menyaksikan sebuah serial televisi yang seru dan menegangkan. Sementara Daud berusaha memantapkan kedudukannya sebagai raja di Israel, ia dihadapkan pada tantangan militer, intrik politik, dan pengkhianatan dari sahabat dan anggota keluarganya. Raja Daud sendiri tentu tidak lepas dari kesalahan, seperti yang dinyatakan dengan jelas melalui hubungannya dengan Batsyeba (pasal 11–12).