Category  |  Santapan Rohani

Kelegaan bagi yang Tertindas

Salah satu adegan favorit saya dalam karya sastra terdapat di novel yang ditulis oleh Charles Dickens dengan judul yang diambil dari nama tokoh utamanya, David Copperfield. Novel itu mengisahkan tentang seorang bibi yang berani menentang seorang ayah tiri jahat yang telah melecehkan David keponakannya.

Firman Allah yang Kekal

Di awal Perang Dunia II, serangan bom udara meluluhlantakkan sebagian besar isi kota Warsawa, Polandia. Balok-balok semen, pipa yang meledak, dan pecahan kaca berserakan di seluruh kota tersebut. Namun di pusat kota, sebagian besar dinding dari sebuah bangunan yang sudah rusak masih berdiri dengan kokoh. Itulah kantor pusat British and Foreign Bible Society (Lembaga Alkitab Britania dan Luar Negeri) di Polandia. Pada dinding yang masih bertahan tersebut tertulis kata-kata berikut: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mat. 24:35).

Roh Kudus Menyampaikan

Hingga beberapa tahun lalu, banyak kampung di pelosok Irlandia tidak memakai nomor rumah atau kode pos. Jika ada tiga orang bernama Patrick Murphy di kampung itu, Patrick Murphy yang paling belakangan tinggal di sana tidak akan menerima suratnya sebelum surat itu diantar terlebih dahulu pada dua warga bernama sama yang sudah lebih awal menetap. “Patrick-Patrick yang lain akan membaca suratnya terlebih dahulu,” kata Patrick Murphy (yang belakangan). “Setelah mencermatinya, mereka akan berkata, ‘Surat ini bukan untuk kami.’” Untuk mengakhiri kebingungan, baru-baru ini pemerintah menerapkan untuk pertama kalinya sistem kode pos yang akan menjamin pengiriman surat sebagaimana mestinya.

Yesus Menangis

Saya sedang asyik membaca sebuah buku ketika seorang teman melongok untuk melihat apa yang sedang saya baca. Seketika itu juga ia terperanjat dan menatap saya dengan ngeri. “Judulnya suram sekali!” katanya. Saya sedang membaca “The Glass Coffin” (Peti Mati Kaca) dari Grimm’s Fairy Tales (Serial Dongeng karya Grimm), dan ia terganggu dengan kata peti mati. Banyak dari kita tidak suka diingatkan tentang kematian kita. Padahal kenyataannya, setiap manusia pasti akan menemui ajalnya.

Jalan Tuhan

Kami sungguh membutuhkan petunjuk dari Allah. Kami diminta mengasuh dua anak kecil untuk sementara waktu selama tiga bulan dan kami harus memberikan keputusan. Karena kami sudah mempunyai tiga anak kandung, menjadi orangtua angkat bagi anak balita tampaknya tidaklah sesuai dengan rencana hidup kami. Kemudian kami membaca renungan karya seorang misionaris veteran, Amy Carmichael, yang mengarahkan kami pada beberapa ayat yang asing di kitab Bilangan pasal ke-7.

Allah yang Melukis

Nama Nezahualcoyotl (1402–1472) mungkin sulit untuk diucapkan, tetapi nama itu sarat dengan makna. Nama itu berarti “Anjing Hutan Lapar”, dan tulisan-tulisan karyanya menunjukkan adanya suatu kelaparan rohani. Sebagai seorang penyair dan penguasa di Mexico sebelum kedatangan orang-orang Eropa, ia menulis, “Sesungguhnya para dewa, yang kusembah, adalah berhala-berhala dari batu yang tak bisa bicara dan tak berperasaan. . . . Ada satu Allah yang mahakuasa, tersembunyi, dan tidak dikenal yang merupakan pencipta alam semesta ini. Dialah satu-satunya yang dapat menghiburku dalam kesusahanku dan menolongku ketika hatiku merasakan penderitaan, aku mau Dia menjadi penolong dan pelindung saya.”

Taktik yang Tidak Lazim

Pada tahun 1980, seorang wanita naik ke kereta bawah tanah ketika lomba maraton di Boston sedang berlangsung. Masalahnya, wanita itu adalah peserta lomba maraton itu! Ada sejumlah saksi mata yang melihat wanita itu masuk lagi ke dalam perlombaan kurang dari dua kilometer sebelum garis finis. Wanita itu berhasil menyelesaikan lomba jauh lebih cepat daripada para peserta wanita lainnya, dan anehnya, ia tampak tidak terlalu lelah atau banyak berkeringat. Untuk sesaat, wanita itu terlihat sebagai pemenang.

Langkah Bunglon

Ketika kita memikirkan tentang bunglon, mungkin kita terpikir tentang kelihaian bunglon dalam mengubah warna tubuh agar sesuai dengan lingkungannya. Namun bunglon mempunyai ciri lain yang unik. Saya pernah beberapa kali memperhatikan cara jalan bunglon dan sempat bertanya-tanya bagaimana bunglon dapat mencapai tujuannya. Dengan ogah-ogahan, bunglon menjulurkan satu kakinya ke depan, lalu seperti hendak berubah pikiran, kemudian mencoba untuk melangkah lagi, lalu dengan hati-hati menjejakkan kakinya dengan bimbang, seakan-akan takut tanah yang dipijaknya itu akan runtuh. Oleh sebab itu saya tak dapat menahan tawa jika ada orang yang berkata, “Jangan menjadi anggota gereja yang suka berubah pikiran seperti bunglon dengan berkata, ‘Hari ini aku akan ke gereja . . . ah tidak jadi, minggu depan saja . . . ah tidak usahlah, kapan-kapan saja!”

Seperti Biji Mata Tuhan

Ketika anak bayinya sedang menderita kejang-kejang, teman saya segera melarikannya ke rumah sakit dengan ambulans. Dengan hati yang berdegup kencang, ia mendoakan bayi perempuannya. Saat teman saya memegangi jari-jari kecil bayinya, kasih sayangnya yang menggebu-gebu pada sang anak telah membawanya teringat bagaimana Tuhan jauh lebih mengasihi kita dan menyebut kita sebagai biji mata-Nya sendiri.