Sebelum Meminta Tolong
Sebagai seorang ibu dari anak-anak yang masih kecil, terkadang saya mudah menjadi panik. Apabila putra saya terkena alergi atau putri saya tiba-tiba terserang batuk, reaksi pertama saya adalah menelepon ibu saya dan menanyakan apa yang harus dilakukan untuk menolong mereka.
Apakah Ini?
Ibu saya pernah mengajar Sekolah Minggu selama puluhan tahun. Suatu waktu, ia ingin menjelaskan tentang bagaimana Allah menyediakan makanan bagi bangsa Israel di tengah padang gurun. Untuk membuat cerita tersebut lebih hidup, ia membuat sesuatu yang melambangkan “manna” bagi anak-anak di kelasnya. Ia memotong roti kecil-kecil dan melapisinya dengan madu. Resepnya diilhami oleh penjelasan Alkitab tentang manna yang menyatakan “rasanya seperti rasa kue madu” (Kel. 16:31).
Tetap Menjadi Pertanyaan
Pada 31 Oktober 2014, sebuah pesawat ruang angkasa uji coba mengalami kehancuran saat melakukan uji penerbangan dan jatuh di Gurun Mojave. Kecelakaan itu menewaskan sang kopilot, sementara pilotnya secara ajaib bertahan hidup. Para penyelidik dapat segera menentukan apa yang telah terjadi, tetapi tidak dapat mengetahui apa penyebabnya. Judul artikel sebuah surat kabar tentang jatuhnya pesawat itu menuliskan: “Tetap Menjadi Pertanyaan”.
Kata-Kata yang Sembrono
Kesehatan putri saya sering bermasalah akhir-akhir ini, dan suaminya sangat memperhatikan dan mendukungnya. “Kamu sungguh beruntung!” kata saya.
Memuliakan Allah
Pagi itu di gereja, kami kedatangan sejumlah pengunjung baru. Kebaktian masih berlangsung dan pengkhotbah baru menyam-paikan setengah dari khotbahnya ketika saya melihat salah satu pengunjung itu berjalan keluar. Merasa penasaran dan khawatir, saya pun berjalan keluar untuk berbicara dengannya.
Pelajaran untuk Si Kecil
Ketika putri kecil saya menceritakan masalah yang sedang dihadapinya di ruang makan sekolah, saya langsung bertanya-tanya bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah itu untuknya. Namun kemudian muncul pemikiran lain. Mungkin Allah telah mengizinkan putri saya mengalami masalah itu agar ia bisa melihat-Nya berkarya dan mengenal-Nya dengan lebih baik. Alih-alih secepat mungkin menolong putri saya, saya memutuskan untuk berdoa bersamanya. Masalah itu lalu beres tanpa bantuan saya sedikit pun!
Tak Lagi Terpenjara
Seorang pria setengah baya mendekati saya setelah saya memimpin sebuah lokakarya di tempat kerjanya. Ia bertanya demikian: “Saya sudah menjadi Kristen hampir di sepanjang hidup saya, tetapi saya terus-terusan kecewa pada diri sendiri. Mengapa saya merasa selalu melakukan hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan dan tidak pernah melakukan hal-hal yang saya tahu seharusnya dilakukan? Tidakkah Allah lelah melihat saya?” Dua orang yang berdiri di samping saya juga tampak bersemangat menunggu tanggapan saya.
Datang Kembali!
Ketika kami tengah mengalami saat-saat sulit dengan putra kami, seorang teman menemui saya seusai kebaktian di gereja. “Aku ingin kamu tahu, tiap hari aku mendoakanmu dan putramu,” katanya. Lalu ia menambahkan: “Aku merasa begitu bersalah.”
Manusia Biasa, Allah Luar Biasa
Beberapa tahun silam setelah saya menuliskan tentang tragedi yang dialami keluarga kami, saya menerima sepucuk surat dari seorang pembaca Our Daily Bread. “Ketika Anda menceritakan tentang tragedi yang Anda alami,” tulis pembaca itu, “saya menyadari bahwa para penulis renungan pun manusia biasa yang punya masalah nyata.” Benar sekali pernyataan itu! Saya mencermati daftar pria dan wanita yang menulis renungan ini, dan saya melihat adanya penyakit kanker, anak yang memberontak, mimpi yang kandas, dan berbagai kehilangan lainnya. Kami semua hanyalah manusia biasa yang menulis tentang Allah yang luar biasa, yang memahami masalah-masalah kami.