Category  |  Santapan Rohani

Tempat Perlindungan Sejati

Pada Maret 2014, terjadi konflik antar suku di kota kelahiran saya yang memaksa keluarga ayah saya, bersama para pengungsi lainnya, mencari perlindungan di ibu kota provinsi tersebut. Sepanjang sejarah, orang-orang yang merasa nyawa mereka terancam di tanah kelahirannya telah berkelana untuk mendapatkan rasa aman dan hidup yang lebih baik.

Mata Air Keselamatan

Biasanya orang mengebor hingga ke dalam perut bumi guna mengambil contoh bebatuan, menggali sumber minyak, atau mencari air.

Kebahagiaan Tertinggi

Semua orang melakukannya” tampaknya menjadi argumen terbaik saat saya masih muda. Namun argumen semacam itu tak pernah berhasil melunakkan orangtua saya, sekalipun saya telah berusaha keras memperoleh izin untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap tidak aman atau tidak bijaksana.

Mulai dari Atas

Rumah saya terletak di tepi anak sungai pada ngarai di dekat sebuah gunung besar. Setelah salju mencair di musim semi dan hujan turun dengan lebat, aliran anak sungai itu meluap dan lebih menyerupai aliran sungai. Banyak orang pernah tenggelam di anak sungai itu. Suatu hari saya menyusuri anak sungai itu hingga ke sumbernya—padang salju di puncak gunung. Dari sanalah salju yang mencair memulai perjalanannya menuruni gunung dan bergabung dengan aliran air lainnya membentuk anak sungai yang mengalir di bawah rumah saya.

Lonceng Pengingat

Menara jam di Westminster, dengan loncengnya yang dikenal dengan nama Big Ben, merupakan simbol terkenal di kota London, Inggris. Konon melodi dari dentangan lonceng itu diambil dari nada lagu “I Know That My Redeemer Liveth” (Ku Tahu Penebusku Hidup) dari Messiah karya Handel. Lirik pun ditambahkan dan dipajang di ruang menara jam tersebut:

Saat-Saat Kesepian

Di antara tumpukan surat yang saya terima setelah masa Natal, saya menemukan sesuatu yang berharga, yakni selembar kartu Natal buatan tangan dengan lukisan yang dibuat di atas karton tebal hasil daur ulang. Sapuan cat air yang sederhana itu melukiskan suasana perbukitan di musim dingin yang dicerahkan oleh pepohonan hijau yang asri. Di bagian tengah bawah, tergores tulisan tangan yang dibingkai gambar buah beri merah, dengan kata-kata:

Apakah Dia Mendengarkan?

Kerap kali aku merasa seolah Allah tak mendengarkanku.” Kata-kata itu diucapkan seorang wanita yang berusaha tetap teguh dalam perjalanan imannya bersama Allah sementara ia masih mendampingi suaminya yang kecanduan alkohol. Kata-kata itu juga menggemakan jeritan hati banyak orang percaya. Bertahun-tahun lamanya, wanita itu meminta Allah untuk mengubah suaminya. Namun perubahan itu tidak pernah terjadi.

Segala Kebaikan-Nya

Perjalanan hidup kita sering menjadi sulit karena perhatian kita begitu tersita pada apa yang kita pikir kita butuhkan saat ini sehingga kita lupa pada apa yang sesungguhnya sudah kita miliki. Saya diingatkan akan hal itu ketika paduan suara di gereja kami menyanyikan sebuah pujian yang indah dari Mazmur 103. “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” (ay.2). Bagi kita, Tuhan itu maha pengampun, penyembuh, penebus, penyedia, pemuas, dan pembaru (ay.4-5). Bagaimana mungkin kita melupakan semua itu? Namun kenyataannya, itulah yang sering kita lakukan ketika pengalaman hidup sehari-hari membuat perhatian kita tersita oleh berbagai kebutuhan yang mendesak, kegagalan yang berulang, dan keadaan yang tidak lagi dapat kita kendalikan.

Dia akan Menjawab

Saya begitu gembira ketika menemukan halaman Twitter dari bintang film Korea favorit saya. Saya pun memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat untuknya. Saya menuliskan pesan terbaik yang bisa saya tuliskan, lalu menunggu jawaban darinya. Saya sadar, kecil kemungkinan saya akan mendapatkan balasan. Seorang selebriti seperti dirinya bisa menerima banyak sekali surat dan pesan dari para penggemar setiap harinya. Namun demikian, saya berharap ia akan membalas pesan saya. Saya pun sangat kecewa ketika tak ada balasan yang saya terima.