Bau Kandang
Kandang? Sebuah tempat yang tidak lazim untuk kelahiran Mesias! Bau dan bisingnya sebuah peternakan merupakan pengalaman pertama yang dialami Sang Juruselamat kita sebagai manusia. Sama seperti bayi-bayi lainnya, Dia mungkin menangis saat mendengar suara binatang dan orang asing yang lalu-lalang di sekitar tempat tidur sementara-Nya itu.
Damai Yang Abadi
Pada malam Natal tahun 1914, di masa Perang Dunia I, tidak terdengar suara desing tembakan di Front Barat yang berjarak sepanjang 48 km. Dari parit-parit pertahanan, para prajurit mengintip dengan penuh kewaspadaan, sementara beberapa prajurit lainnya memperbaiki posisi mereka dan menguburkan rekan-rekan mereka yang telah gugur. Seiring datangnya kegelapan malam, sejumlah prajurit Jerman menyalakan lentera dan menyanyikan lagu-lagu Natal. Para serdadu di pihak Inggris pun bertepuk tangan, lalu meneriakkan salam.
Yang Paling Utama Dan Berarti
Ketika anak-anak kami masih tinggal bersama kami, kami suka merayakan Natal di pagi hari dengan sebuah tradisi keluarga yang sederhana tetapi sangat berkesan. Kami sekeluarga berkumpul di sekeliling pohon Natal, di antara bungkusan-bungkusan hadiah yang akan kami berikan kepada satu sama lain. Di sana kami lalu membaca kisah Natal bersama. Hal tersebut sangat berguna untuk mengingatkan bahwa alasan kami untuk bertukar hadiah bukanlah karena para Majus datang membawa hadiah untuk bayi Kristus. Namun hadiah yang kami berikan kepada setiap anggota keluarga dalam kasih itu merupakan cerminan dari Hadiah yang jauh lebih indah dan agung yang diberikan Allah kepada kita dalam kasih.
Ingat Kemasannya
Ada beberapa hal yang tidak pernah berubah dalam perayaan Natal di rumah kami. Salah satunya adalah himbauan Martie, istri saya, kepada anak-anak dan cucu-cucu saat mereka menyerbu hadiah mereka: “Kertas kadonya jangan dirusak. Kita bisa pakai lagi tahun depan!” Martie senang memberikan hadiah-hadiah yang indah, tetapi ia juga menghargai kemasannya. Penampilan meru-pakan bagian dari keindahan hadiah itu.
Saat Yang Tepat
Sang dirigen telah berdiri di atas podium-nya, pandangan matanya menyusuri seluruh anggota paduan suara dan orkestra. Para penyanyi telah mengatur partitur musik di dalam map mereka, mengambil sikap berdiri yang nyaman, dan memegang map mereka sedemikian rupa agar mereka dapat melihat arahan sang dirigen. Para pemain orkestra menaruh partitur musik mereka di atas tiang penyangga kertas, menempati posisi yang nyaman di tempat duduk mereka, lalu duduk dengan tenang. Sang dirigen menunggu dan mengamati sampai setiap orang dalam keadaan siap. Kemudian, dengan satu ketukan dari tongkatnya, dimulailah “Overture to Messiah” (Lagu pembuka bagi oratorio Mesias) karya Handel yang berkumandang memenuhi seluruh ruang katedral.
Dalam Nama Yesus
Salah satu koleksi foto favorit saya adalah foto dari acara makan malam bersama keluarga kami. Foto-foto yang tersimpan dalam album itu menampilkan ayah, putra-putranya beserta para istri, dan cucu-cucunya, dalam suatu acara pengucapan syukur dan doa bersama.
Makna Natal
Novel A Christmas Carol karya Charles Dickens diterbitkan pada 19 Desember 1843, dan hingga kini selalu dicetak ulang. Novel itu berkisah tentang Ebenezer Scrooge, seorang pria kaya yang sinis dan kikir. Scrooge berkata, “Semua orang tolol, yang ke mana-mana mengucapkan ‘Selamat Hari Natal’, seharusnya ikut direbus dalam puding yang mereka masak sendiri!” Namun di suatu malam Natal, Scrooge berubah drastis menjadi pribadi yang ramah dan bahagia. Dengan humor dan wawasan yang memikat, novel karya Dickens tersebut menangkap dengan baik adanya kerinduan umat manusia di mana saja untuk memiliki kedamaian batin.
Saya Dan Sahabat Saya
John Chrysostom (347–407), seorang Uskup Agung dari Konstanstinopel, pernah mengucapkan ini: “Demikianlah yang disebut persahabatan, ketika melaluinya kita mencintai setiap tempat dan musim yang dilalui; karena bagaikan . . . bunga-bunga meluruhkan daun-daun indahnya pada tanah di sekitarnya, demikian juga para sahabat menebarkan kebaikan kepada tempat-tempat di mana mereka berada.”
Masih Terus Bertumbuh
Pablo Casals dipandang sebagai pemain alat musik cello terbaik di pertengahan pertama dari abad ke-20. Ketika Casals masih bermain cello pada usianya yang menjelang satu abad, seorang wartawan muda pernah bertanya, “Tn. Casals, Anda sudah berumur 95 tahun dan Anda adalah pemain cello terbaik yang pernah ada. Mengapakah Anda masih berlatih selama 6 jam sehari?”