Gandakan
Amy telah berjuang melawan kanker selama 5 tahun. Suatu hari dokter memberitahunya bahwa pengobatan yang dijalaninya tidak berhasil dan ia pun hanya mempunyai sisa waktu beberapa minggu untuk hidup. Karena rindu untuk mengerti beberapa hal dan mendapatkan jaminan mengenai kehidupan kekal, Amy bertanya kepada pendetanya, “Akan seperti apakah surga itu?”
Tenaga Kuda
Bayangkanlah sejenak tentang kekuatan, keindahan, dan keanggunan dari seekor kuda yang sedang berderap. Bayangkanlah kepala sang kuda yang terangkat tinggi, surai pada tengkuknya yang melambai tertiup angin, dan kaki-kaki yang bergerak serentak untuk memberikan kecepatan, tenaga, dan kebebasan.
Tidak Layak
Tidak seperti orang-orang yang meninggi-kan diri mereka, Yakub sadar bahwa hidupnya telah dirusak oleh dosa (Kej. 32:10). Ia memandang dirinya tidak layak untuk menerima kasih karunia Allah. Ia telah menipu kakaknya Esau untuk mendapatkan hak kesulungan (psl.27), dan sang kakak pun membencinya karena hal itu. Sekarang, bertahun-tahun kemudian, Yakub harus kembali berhadapan dengan Esau.
Persepsi Atau Realitas?
Kita sering mendengar pemeo, “Persepsi adalah realitas.” Bagi warga Amerika Serikat, pendapat itu mungkin terbukti pada 26 September 1960. Pada tanggal itu, berlangsung debat calon presiden yang untuk pertama kalinya ditayangkan di televisi. Di depan kamera, John Kennedy tampil dengan meyakinkan; sementara Richard Nixon terlihat gugup. Persepsi yang ditangkap pemirsa adalah bahwa John Kennedy akan menjadi pemimpin yang lebih tangguh. Debat tersebut tidak hanya mengubah hasil pemilihan, tetapi juga mengubah praktik politik di Amerika Serikat. Politik berdasarkan persepsi menjadi praktik yang umum.
Apakah Allah Peduli?
Hidup Minnie dan George Lacy didera oleh berbagai pertanyaan seperti: “Apakah Yesus sanggup? Apakah hubungan kita dengan Kristus sanggup menopang kita? Apakah Dia sanggup menolong kita untuk terus melangkah? Apakah Dia peduli?”
Lepas Saja!
Saya ingat saya pernah mengikuti lomba makan apel ketika saya masih kecil. Permainan itu mengharuskan kedua tangan saya diikat di balik punggung. Apel yang tergantung pada seutas tali itu sangat sulit untuk saya gigit tanpa dibantu kedua tangan saya. Usaha itu membuat saya frustrasi. Perlombaan itu juga mengingatkan saya akan arti penting kedua tangan kita—kita makan dengan bantuan tangan, menyapa orang dengan tangan, dan menggunakan tangan untuk melakukan sebagian besar aktivitas penting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mosaik
Selama 3 minggu pada setiap musim gugur, kota tempat tinggal kami menjadi semacam galeri seni. Hampir 2.000 seniman dari berbagai penjuru dunia memamerkan karya-karya mereka di sejumlah galeri, museum, hotel, taman, jalan kota, tempat parkir, restoran, gereja, dan bahkan di sungai.
Makna Kasih
Bertahun-tahun lalu saya pernah bertanya kepada seorang pria muda yang sudah bertunangan, “Bagaimana engkau tahu bahwa kau mencintainya?” Pertanyaan tersebut begitu sarat makna, dan dimaksudkan untuk membantu pria itu menyadari maksud hati-nya dalam melangkah menuju ke jenjang pernikahan. Setelah memikirkannya sejenak, ia pun menjawab, “Aku tahu aku mencintai-nya, karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk membuatnya bahagia.”
Musik Dan Pengeras Suara
Christopher Locke membeli sejumlah trompet, trombon, dan trompet tanduk kuno, lalu mengubah semua itu menjadi pengeras suara akustik untuk perangkat iPhone dan iPad. Kreasinya itu didasarkan pada pengeras suara berbentuk trompet yang digunakan pada alat pemutar piringan hitam di akhir abad ke-19. Musik yang dimainkan melalui karya Christopher yang dinamai AnalogTelePhonographers itu memiliki “suara yang lebih keras, jernih, kaya, dan dalam” jika dibandingkan suara yang dihasilkan oleh pengeras-pengeras suara mungil di dalam perangkat digital. Selain menjadi karya seni yang menarik, alat-alat musik bekas berbahan perunggu itu tidak memerlukan daya listrik untuk memperkeras suara musik agar dapat didengar orang.