Category  |  Santapan Rohani

Pelajaran Dari Hula Hoop

Salah satu mainan kesukaan saya di masa kecil sekarang kembali marak dimainkan. Mainan itu adalah hula hoop. Saya dan teman saya, Suzi, suka menghabiskan waktu berjam-jam di halaman untuk menyempurnakan teknik kami dan bersaing untuk melihat siapa yang dapat paling lama memutar hula hoop tersebut di pinggang kami. Tahun ini saya mengingat kembali bagian dari masa kecil saya itu. Saat duduk di sebuah taman, saya menyaksikan anak-anak dari segala usia dan ukuran tubuh sedang berusaha keras untuk menjaga hula hoop-nya tidak jatuh ke tanah. Mereka meliuk dan memutar tubuh dengan sekuat tenaga, tetapi setelah mereka menge-rahkan segala kemampuan mereka, hula hoop itu tetap jatuh ke tanah. Kemudian ada seorang wanita muda datang dan mengambil sebuah hula hoop. Tanpa banyak gerakan, ia memindahkan hula hoop itu naik-turun dari pinggang ke bahu dan kembali ke pinggangnya dengan mulus. Keberhasilannya bergantung pada gerakan yang tepat, bukan pada besarnya tenaga dari gerakan itu.

Apa Yang Anda Harapkan?

Dalam God in the Dock (Allah Dihakimi), C. S. Lewis menulis: “Bayangkan ada sekelompok orang tinggal di sebuah gedung. Setengahnya berpikir gedung itu adalah hotel, setengah lainnya berpikir itu adalah penjara. Mereka yang berpikir bahwa itu hotel mungkin merasa tidak tahan tinggal di situ, dan mereka yang berpikir itu penjara mungkin merasa bahwa di luar dugaan mereka, tempat itu sangat nyaman untuk dihuni.” Dengan cerdik, Lewis memakai perbedaan tajam antara hotel dan penjara untuk menggambarkan cara kita memandang hidup menurut harapan-harapan kita. Ia menulis, “Jika Anda berpikir bahwa dunia ini dimaksudkan untuk menjadi tempat kita bersenang-senang, Anda akan merasa tidak tahan berada di sini; sebaliknya, jika Anda menganggap dunia ini sebagai suatu tempat pelatihan dan perbaikan diri, maka rasanya dunia ini tidak jelek-jelek amat.”

Kibarkan Bendera

Ratu Elizabeth II telah memerintah atas Kerajaan Inggris selama lebih dari 60 tahun. Kesan anggun dan berkelas telah menjadi ciri dari monarki yang dipimpinnya. Sepanjang hidupnya, sang ratu telah memberikan diri untuk melayani rakyatnya dengan giat, dan oleh karena itu, ia begitu dicintai dan dihormati oleh rakyatnya. Jadi, Anda dapat mengerti pentingnya bendera yang berkibar di atas Istana Buckingham. Berkibarnya bendera itu menandakan bahwa sang ratu sedang berada di dalam kediaman-nya di jantung kota London. Bendera itu menjadi suatu pernyataan bagi khalayak umum tentang kehadiran sang ratu di tengah-tengah rakyatnya.

Penolong Setia

Ketika Ayah masih kecil, ia harus memberi makan untuk kawanan babi yang lapar di peternakan tempat ia dibesarkan. Ia membenci tugas tersebut karena babi-babi itu suka menabraknya hingga jatuh saat ia masuk ke dalam kandang mereka. Tugas itu tidak mungkin dapat dikerjakan Ayah, seandainya ia tidak mempunyai penolong setia yang menemaninya. Penolong setia itu adalah seekor anjing gembala Jerman bernama Sugarbear. Sugarbear biasa menempatkan diri di antara Ayah dengan babi-babi itu sembari menahan kawanan babi yang ganas itu sampai Ayah menyelesaikan tugasnya.

Domba Merah Muda

Saat berada dalam perjalanan darat dari Glasgow ke Edinburgh, Skotlandia, dan menikmati indahnya pemandangan pedesaan, saya terpikat oleh suatu pemandangan yang lumayan menggelikan. Di kejauhan, pada puncak sebuah bukit kecil, terdapat sekawanan domba berwarna merah muda dalam jumlah besar.

Budaya Sekali Pakai

Di zaman modern ini, kita hidup dalam budaya sekali pakai. Coba pikirkan sejenak tentang sejumlah barang yang kita pakai sekali untuk kemudian kita buang—pisau cukur, botol air, korek api, piring kertas, alat makan plastik. Produk-produk itu kita pakai, buang, kemudian kita ganti dengan yang baru.

Cahaya Yang Menyusup

Lukisan berjudul A Trail of Light (Jejak Cahaya)—karya seniman Bob Simpich asal Colorado Springs, Amerika Serikat—menggambarkan sekumpulan pohon aspen dengan dedaunan keemasan yang disinari oleh cahaya matahari pada musim gugur. Dedaunan di bagian paling atas berkilauan terang, sementara tanah di bawah pepohonan itu menampilkan perpaduan antara sinar matahari dan bayang-bayang pepohonan. Sang pelukis menjelaskan pemandangan yang kontras itu, “Saya langsung terpikat pada cahaya yang menyusup dan terbayang pada dasar pepohonan itu. Sungguh suatu rangkaian keajaiban yang istimewa.”

Dalam Badai

Badai sedang mengancam—tidak hanya di langit, tetapi juga dalam keluarga dari seorang teman. “Saat aku berada di Hong Kong,” ceritanya, “dinas meteorologi setempat mengumumkan bahwa badai hebat sedang mendekat. Namun lebih dari badai yang sedang mengancam di luar jendela, ada badai lain yang lebih besar mengancam di keluarga kami. Ketika ayahku dirawat di rumah sakit, anggota keluarga lainnya sedang kerepotan menyeimbangkan tanggung jawab di rumah dengan pekerjaan mereka, sambil juga mengatur waktu untuk pulang-pergi ke rumah sakit. Mereka merasa begitu lelah sehingga kesabaran makin menipis, dan keadaan di rumah kami sedang tegang-tegangnya.”

Kekuatan Ritual

Pada masa kanak-kanak saya, salah satu peraturan di dalam keluarga kami adalah kami tidak boleh tidur dalam keadaan marah (Ef. 4:26). Semua pertengkaran dan perselisihan di antara kami harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum kami tidur. Peraturan itu juga disertai suatu ritual sebelum tidur: Ayah dan Ibu akan mengucapkan kepada saya dan saudara saya, “Selamat tidur. Ayah/Ibu sayang padamu.” Dan kami akan membalas, “Selamat tidur. Aku juga sayang Ayah/Ibu.”