Harapan Untuk Terus Melangkah
Sebuah pesawat udara bertenaga surya yang dinamai “Solar Impulse” dapat terbang siang-malam tanpa bahan bakar. Para penemunya, Bertrand Piccard dan André Borschberg, berharap dapat menerbangkan pesawat itu keliling dunia pada tahun 2015. Sembari terbang di sepanjang siang dengan menggunakan tenaga surya, pesawat itu juga mengumpulkan cukup banyak tenaga yang memampukannya untuk dapat terbang sepanjang malam. Ketika matahari terbit di hari berikutnya, Piccard berkata, “Fajar selalu membawa kembali harapan baru yang mendorong kami untuk bisa melanjutkan perjalanan.”
Mengangguk Pun Tidak
Jalanan sedang macet-macetnya, dan orang-orang mudah terpancing untuk marah pada siang yang terik itu. Saat itu saya melihat sebuah mobil berisi dua pemuda yang tengah antre untuk dapat masuk ke jalan dari parkiran suatu restoran. Saya merasa pengemudi di depan saya telah berbaik hati dengan membiarkan mereka lewat terlebih dahulu.
Saya Tidak Dilupakan
Menanti merupakan perbuatan yang sulit; tetapi ketika hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan bulan demi bulan berlalu tanpa ada jawaban bagi doa-doa kita, sangatlah mudah merasa bahwa Allah telah melupakan kita. Mungkin kita bisa berjuang dari pagi hingga sore hari dengan menyibuk-kan diri, tetapi saat malam tiba, lebih sulit rasanya untuk dapat mengatasi kecemasan yang menghantui pikiran kita. Kekhawatiran terbayang di depan mata, dan masa-masa yang gelap tampaknya tak berujung. Kelesuan yang begitu membebani membuat kita tidak lagi sanggup menghadapi hari esok.
Pengorbanan Terbesar
Ketika Deng Jinjie melihat ada orang-orang yang sedang berjuang menyelamat-kan diri mereka agar tidak terbawa arus Sungai Sunshui di provinsi Hunan, China, ia tidak mengabaikan mereka. Bertindak bak seorang pahlawan, ia pun melompat ke dalam air dan berhasil membantu menyelamatkan empat orang dari satu keluarga. Sayangnya, keluarga itu meninggalkan wilayah tersebut sementara Jinjie masih berada di dalam air. Alangkah mengenaskan, Jinjie yang begitu kelelahan karena usahanya itu harus terseret dan tersapu arus sungai hingga kemudian ia pun tenggelam.
Bertindaklah!
Saat seekor marmot tanah mulai meng-gerogoti garasi kami (maksud saya, kusen garasinya), saya membeli sebuah perangkap dengan maksud untuk menjebak binatang kecil itu. Saya memasang umpan dari beragam makanan, lalu membuka pintu perangkapnya. Esok paginya, saya pikir akan melihat makhluk kecil itu ada di dalam perangkap tersebut—tetapi bukan marmot tanah yang tertangkap, melainkan seekor musang yang dapat mengeluarkan bau busuk.
Ketentuan Layanan
Jika Anda seperti orang pada umumnya, Anda pasti jarang membaca teks kontrak untuk suatu layanan online sampai habis sebelum Anda menyetujuinya. Panjang teks itu biasanya berlembar-lembar, dan sebagian besar dari istilah hukumnya tidak dapat dimengerti oleh orang awam seperti saya.
Gambaran Kerendahan Hati
Pada masa Paskah, saya dan istri pernah menghadiri sebuah kebaktian gereja di mana jemaatnya berusaha meneladan peristiwa yang dialami Yesus dan murid-murid-Nya pada malam sebelum Dia disalibkan. Sebagai bagian dari kebaktian, para pekerja gereja bersama-sama membasuh kaki sejumlah relawan dalam gereja tersebut. Saat menyaksikan peristiwa itu, saya pun bertanya-tanya, manakah yang dipandang lebih rendah oleh orang pada masa kini—membasuh kaki orang lain atau memberikan kaki kita dibasuh oleh orang lain. Bagi saya, baik orang yang membasuh maupun mereka yang dibasuh sama-sama menyajikan dengan jelas gambaran dari suatu sikap rendah hati.
Saat-Saat Terkelam
Charles Whittlesey adalah seorang pahlawan sejati. Sebagai pemimpin dari unit yang disebut “Batalyon yang Hilang” dalam Perang Dunia I, ia dianugerahi Medali Kehormatan atas keberaniannya di tengah keadaan unitnya yang terjebak di belakang garis musuh. Dalam peresmian Makam untuk Prajurit Tak Dikenal di Amerika Serikat, Charles dipilih sebagai salah satu pengangkat keranda bagi prajurit pertama yang dimakamkan di sana. Dua minggu kemudian, diduga ia mengakhiri hidupnya sendiri dengan meloncat keluar dari sebuah kapal pesiar di tengah laut.
Penunjuk Arah Rohani
Longitude (Garis Bujur), buku pemenang penghargaan, karya Dava Sobel, meng-gambarkan satu dilema yang dihadapi para pelaut masa lalu. Mereka bisa dengan mudah menentukan posisi mereka pada garis lintang utara atau selatan dengan memperhatikan panjang hari atau ketinggian matahari. Namun cara menentukan posisi pada garis bujur timur atau barat tetaplah tidak mudah dan tidak benar-benar dapat diandalkan. Hal itu terjadi sampai John Harrison, seorang pembuat jam asal Inggris, menemukan kronometer laut. Itulah “jam yang akan selalu menunjuk-kan waktu yang tetap dari titik awal berlabuh . . . hingga ke sudut terpencil mana pun di dunia” sehingga para pelaut dapat menentu-kan posisi mereka pada garis bujur.