Category  |  Santapan Rohani

Gambaran Kerendahan Hati

Pada masa Paskah, saya dan istri pernah menghadiri sebuah kebaktian gereja di mana jemaatnya berusaha meneladan peristiwa yang dialami Yesus dan murid-murid-Nya pada malam sebelum Dia disalibkan. Sebagai bagian dari kebaktian, para pekerja gereja bersama-sama membasuh kaki sejumlah relawan dalam gereja tersebut. Saat menyaksikan peristiwa itu, saya pun bertanya-tanya, manakah yang dipandang lebih rendah oleh orang pada masa kini—membasuh kaki orang lain atau memberikan kaki kita dibasuh oleh orang lain. Bagi saya, baik orang yang membasuh maupun mereka yang dibasuh sama-sama menyajikan dengan jelas gambaran dari suatu sikap rendah hati.

Saat-Saat Terkelam

Charles Whittlesey adalah seorang pahlawan sejati. Sebagai pemimpin dari unit yang disebut “Batalyon yang Hilang” dalam Perang Dunia I, ia dianugerahi Medali Kehormatan atas keberaniannya di tengah keadaan unitnya yang terjebak di belakang garis musuh. Dalam peresmian Makam untuk Prajurit Tak Dikenal di Amerika Serikat, Charles dipilih sebagai salah satu pengangkat keranda bagi prajurit pertama yang dimakamkan di sana. Dua minggu kemudian, diduga ia mengakhiri hidupnya sendiri dengan meloncat keluar dari sebuah kapal pesiar di tengah laut.

Penunjuk Arah Rohani

Longitude (Garis Bujur), buku pemenang penghargaan, karya Dava Sobel, meng-gambarkan satu dilema yang dihadapi para pelaut masa lalu. Mereka bisa dengan mudah menentukan posisi mereka pada garis lintang utara atau selatan dengan memperhatikan panjang hari atau ketinggian matahari. Namun cara menentukan posisi pada garis bujur timur atau barat tetaplah tidak mudah dan tidak benar-benar dapat diandalkan. Hal itu terjadi sampai John Harrison, seorang pembuat jam asal Inggris, menemukan kronometer laut. Itulah “jam yang akan selalu menunjuk-kan waktu yang tetap dari titik awal berlabuh . . . hingga ke sudut terpencil mana pun di dunia” sehingga para pelaut dapat menentu-kan posisi mereka pada garis bujur.

Hilang Ingatan

Ketika kita sedang menghadapi masa- masa sulit, adakalanya kita mungkin mengalami semacam amnesia rohani dan melupakan kasih karunia Allah. Namun ada satu cara yang baik untuk kembali memiliki hati yang bersyukur. Caranya adalah dengan menyediakan suatu waktu tertentu yang bebas dari segala gangguan untuk secara khusus mengingat pemeliharaan Allah bagi kita di masa lalu dan mengucap syukur pada-Nya.

Menghalau Kegelapan

Dalam The Hobbit, karya J. R. R. Tolkien, Gandalf si penyihir menjelaskan mengapa ia memilih seorang hobbit kecil seperti Bilbo untuk mendampingi kaum kurcaci dalam melawan musuh mereka. Gandalf berkata, “Saruman meyakini hanya kekuatan besarlah yang dapat menghadang kejahatan, tetapi bukan itu yang kutemukan. Aku menemukan, justru perbuatan sederhana yang dilakukan sehari-hari oleh orang-orang biasalah yang sanggup menghalau kegelapan. Perbuatan baik dan kasih yang sederhana.”

Hidup Dalam Kasih

Di negara Afrika, tempat tinggal teman saya, Roxanne, air merupakan komoditas berharga yang langka. Sering orang harus menempuh perjalanan yang jauh untuk mendapatkan air dari sungai-sungai kecil yang telah tercemar, dan akibatnya ada warga yang jatuh sakit bahkan meninggal. Kondisi kurangnya air bersih itu juga menyulitkan lembaga-lembaga seperti panti asuhan dan gereja yang hendak melayani mereka. Namun perubahan sudah mulai terjadi.

Penghiburan Bagi Yang Bergumul

Ada sebuah pepatah lama mengatakan, “Jangan menggigit lebih banyak dari-pada yang dapat Anda kunyah.” Dengan kata lain, tidak mengambil tanggung jawab lebih banyak daripada yang dapat kita tangani adalah suatu sikap yang bijaksana. Namun demikian, ada kalanya kita mungkin merasa dibuat kewalahan oleh besar dan beratnya tugas yang hendak kita dilakukan.

Mengikuti Sang Tuan

Pada sebuah pertunjukan anjing di dekat rumah saya, saya menyaksikan penam-pilan seekor anjing jenis corgi Cardigan Welsh bernama Trevor. Sesuai perintah sang tuan, Trevor berlari beberapa meter jauhnya dan kemudian kembali secepatnya, melompati sejumlah rintangan, dan mengenali benda-benda dengan menggunakan indera pen-ciumannya. Setelah menyelesaikan setiap perintah, Trevor pun duduk di dekat kaki sang tuan dan menunggu perintah selanjutnya.

Adakah Yang Bernyanyi?

Dari sekitar 320 km di atas bumi, Chris Hadfield, seorang astronot asal Kanada dan komandan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, ikut bernyanyi bersama sekelompok murid yang berada dalam sebuah studio di bumi. Bersama-sama mereka menyanyikan lagu Is Somebody Singing (Adakah Yang Bernyanyi), yang ditulis oleh Hadfield dan Ed Robertson.