Category  |  Santapan Rohani

Kenangan Yang Telah Dilupakan

Baru-baru ini, seorang teman lama dari masa remaja saya mengirimkan foto regu lari SMP kami melalui e-mail. Pada foto hitam-putih yang agak buram itu tampak sekelompok anak remaja, yang saya ingat samar-samar, bersama dengan dua orang pelatih kami. Pikiran saya segera dipenuhi akan kenangan masa lalu yang menyenang-kan ketika kami berlari dalam perlombaan 1 mil dan ½ mil pada berbagai kejuaraan yang kami ikuti. Namun sekalipun saya menikmati kenangan akan masa silam itu, saya juga teringat betapa mudahnya saya melupakan semua itu dan kemudian beralih kepada hal-hal lainnya.

Shrek Si Domba Pelarian

Shrek adalah seekor domba pelarian. Ia pernah terpisah dari kawanannya dan menghilang selama 6 tahun. Akhirnya, seseorang menemukan Shrek tinggal dalam gua di sebuah tempat yang tinggi dan terjal di Selandia Baru. Orang itu bahkan tidak mengenali Shrek sebagai seekor domba. “Domba itu kelihatan seperti sesosok makhluk yang cuma ada dalam Alkitab,” kata orang itu. Komentar itu ada benarnya. Shrek merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada seekor domba yang telah terpisah dari gembalanya.

Senyum!

Saya membaca sebuah hasil penelitian yang dilakukan baru-baru ini yang menyimpulkan bahwa tersenyum itu baik untuk kesehatan. Penelitian itu menunjukkan bahwa senyum dapat memperlambat detak jantung dan mengurangi stres.

Cahaya Sang Anak Domba

Dari generasi ke generasi yang tidak terhitung banyaknya, umat manusia telah menggunakan matahari dan bulan untuk menerangi siang dan malam. Matahari dan bulan berguna untuk menerangi jalan kita atau untuk menyediakan sinar yang memberikan kehidupan bagi tanaman agar dapat berbuah baik dan memberikan nutrisi yang dibutuhkan tubuh kita. Kedua benda langit tersebut merupakan bagian dari alat penerang yang diberikan Allah dengan luar biasa. Kitab Kejadian menceritakan bahwa Allah menjadikan kedua benda penerang tersebut dengan maksud “yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam” (Kej. 1:16).

Anak-Anak Di Dunia

Setelah sekelompok siswa SMA berkun-jung ke sebuah panti asuhan dalam suatu pelayanan, seorang siswa terlihat sangat sedih. Ketika ditanya, ia mengatakan bahwa panti asuhan tersebut membuatnya teringat pada kehidupannya sendiri 10 tahun yang lalu.

Mengajar Melalui Teladan

Ketika sedang menunggu giliran untuk pemeriksaan mata, perhatian saya ter-paku pada sebuah tulisan yang tergantung di dinding kantor dokter mata itu: “Delapan puluh persen dari semua yang dipelajari anak-anak dalam 12 tahun pertamanya diserap melalui mata mereka.” Saya mulai memikir-kan semua hal yang diserap anak-anak oleh penglihatannya lewat berbagai bacaan, acara TV, film, peristiwa, lingkungan, dan peng-amatan terhadap perilaku orang lain, terutama keluarga mereka. Pada Hari Ayah ini, kita sering memikirkan tentang besarnya pengaruh yang diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya.

Sekokoh Batu Karang

Pada bulan Mei 2003, terjadi sebuah peristiwa yang tragis ketika “Si Pria Tua di Gunung” terbelah, runtuh dan terguling ke lereng gunung. Pahatan alam berbentuk wajah pria tua setinggi 12 meter itu terukir di pegunungan White Mountains di New Hampshire, Amerika Serikat. Wajah itu telah lama menjadi daya tarik bagi para wisatawan, kebanggaan bagi penduduk lokal, dan lambang resmi negara bagian tersebut. Nathaniel Hawthrone menulis tentang ukiran alam ini dalam cerita pendeknya yang berjudul The Great Stone Face (Wajah Batu yang Agung).

Kita Aman

The United States Bullion Depository (Pusat Penyimpanan Emas Amerika Serikat) di Fort Knox, Kentucky, adalah sebuah bangunan yang dijaga sangat ketat. Dalam bangunan itu tersimpan 5.000 ton emas batangan dan barang berharga lainnya yang berada di bawah tanggung jawab pemerintah federal. Fort Knox dilindungi pintu seberat 22 ton dan sistem keamanan berlapis yang terdiri atas alarm, kamera video, ladang ranjau, kawat berduri, pagar listrik, penjaga bersenjata, dan helikopter Apache siluman. Berdasarkan tingkat keamanannya, Fort Knox dianggap sebagai salah satu tempat paling aman di dunia.

Tetaplah Tenang Dan Lanjutkan

Tetaplah tenang dan hubungi Ibu.” “Tetaplah tenang dan nikmati makanan-nya.” “Tetaplah tenang dan masaklah airnya.” Perkataan-perkataan itu terilhami dari frasa: “Tetaplah Tenang dan Lanjutkan.” Pesan itu pertama kali muncul di Inggris Raya saat Perang Dunia II mulai berkecamuk tahun 1939. Para pejabat Inggris mencetaknya pada poster-poster yang dirancang untuk mengurangi kepanikan dan keputusasaan selama perang berlangsung.