Category  |  Santapan Rohani

Hikmah Dari Kekhawatiran

Seorang teman memberi saya segelas penuh air dan menyuruh saya untuk memegang gelas itu. Semakin lama saya pegang, semakin berat rasanya. Akhirnya, tangan saya pun kelelahan, dan saya harus meletakkan gelas tersebut. “Aku belajar bahwa rasa khawatir sama seperti memegang gelas yang penuh itu,” katanya. “Semakin lama aku mengkha-watirkan sesuatu, semakin ketakutanku menjadi beban yang memberatkan.”

Siapakah Orang Ini?

Sewaktu Kelly Steinhaus mengunjungi Harvard Square untuk menanyai para mahasiswa tentang Yesus, pendapat yang mereka berikan mengungkapkan suatu rasa hormat pada diri-Nya. Seorang mengatakan, “Dia begitu peduli pada sesama manusia.” Yang lain mengatakan, “Sepertinya Dia orang yang menyenangkan.” Yang lain menolak-Nya mentah-mentah: “Dia hanya manusia biasa. Kurasa Dia bukan Juruselamat.” Ada pula yang berkata, “Aku tidak bisa menerima keyakinan atau agama yang menyatakan, ‘Akulah satu-satunya jalan kepada Allah.’” Ada yang memang serius memikirkan tentang Yesus tetapi ada juga yang menolak-Nya.

Bangkit Kembali

Chad Pennington adalah seorang mantan pemain American football yang telah mengalami beragam cedera yang mengancam kelangsungan kariernya. Dua kali mengalami cedera, Pennington harus menjalani operasi, terapi fisik selama berbulan-bulan, dan latihan berminggu-minggu agar ia dapat kembali ke arena pertandingan. Namun dalam dua kali kesempatan itu, ia tidak saja kembali bermain, tetapi juga mencapai prestasi yang luar biasa hingga ia dianugerahi gelar “Pemain Terbaik yang Bangkit Kembali” dalam Liga Football Nasional (NFL). Bagi Pennington, usahanya tersebut memperlihatkan kegigihannya untuk kembali bertarung di lapangan football.

Fokus Pada Proses

Dalam bukunya On Writing Well (Menulis dengan Baik), William Zinsser berkata bahwa banyak penulis dibebani oleh “tirani dari hasil akhir”. Mereka begitu khawatir dengan hasil penjualan artikel atau buku mereka hingga lalai untuk mempelajari proses dalam berpikir, berencana, dan mengorganisir. Zinsser meyakini, apabila “sang penulis, dengan mata yang tertuju hanya pada garis akhir, tak pernah memikirkan sungguh-sungguh bagaimana caranya menempuh perlombaannya”, yang dihasilkan hanyalah sebuah naskah yang campur aduk.

Membuatnya Menarik

Alkisah pada zaman lampau, ada seorang bocah laki-laki yang berusaha mencari nafkah dengan cara menjual apel di atas kereta api berpenumpang. Ia menyusuri gerbong demi gerbong, sambil berseru, “Apel! Apel! Adakah yang mau membeli apel?” Sesampainya di gerbong terakhir, si bocah masih memiliki apel sekantong penuh, tetapi tidak ada uang.

Tidak Berbuat Jahat

Banyak orang memandang Hipokrates, sang tabib pada zaman Yunani kuno, sebagai bapak ilmu kedokteran Barat. Hipokrates memahami pentingnya mengikuti prinsip-prinsip moral dalam menerapkan pengobatan. Ia juga dikenang sebagai penulis Sumpah Hipokrates, yang sampai sekarang masih digunakan sebagai panduan etika untuk para dokter di zaman modern ini. Salah satu konsep penting dari sumpah tersebut adalah “untuk tidak berbuat jahat”. Hal itu mengandung arti bahwa seorang dokter hanya akan melakukan apa yang menurutnya baik dan bermanfaat untuk pasien-pasiennya.

Bantuan Pinggir Jalan

Seorang kenalan saya sedang berburu bersama teman-temannya di dekat Bal-moral, tanah di luar kota milik ratu Inggris. Saat berjalan, pergelangan kakinya terkilir amat parah sehingga ia tidak dapat meneruskan perjalanan. Ia pun meminta teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan mereka sementara ia akan menunggu di pinggir jalan.

Hikmat Dari Atas

Andai saja Kiera Wilmot melakukan proyek percobaannya di dalam ruang kelas sains di SMA-nya, mungkin ia akan mendapatkan nilai A. Namun ia justru dituntut karena telah menyebabkan sebuah ledakan. Meskipun ia telah berharap agar gurunya menyetujui percobaan itu, teman-teman sekelasnya berhasil membujuknya untuk melakukan percobaan tersebut di luar ruang kelas. Saat ia mencampur zat-zat kimia ke dalam sebuah botol plastik, botol itu meledak dan secara tidak sengaja ia telah membuat panik siswa-siswi yang lain.

Alur Emas

Ketika mengunjungi daerah Cotswold yang indah di Inggris, saya membeli sejumlah cangkir keramik sebagai cendera-mata. Saya memakainya dengan hati-hati, tetapi suatu hari sebuah cangkir terjatuh di wastafel dan pecah. Baru-baru ini saya ter-ingat pada cangkir yang pecah tersebut saat mengetahui tentang seni Kintsugi asal Jepang.