Hari Yang Biasa-Biasa Saja
Ketika menyusuri suatu pameran bertajuk “A Day in Pompeii” (Suatu Hari di Pompeii) di suatu museum, saya pun tersentak oleh satu benang merah yang berulang kali menunjukkan bahwa tanggal 24 Agustus tahun 79 M diawali sebagai suatu hari yang biasa-biasa saja. Orang sedang melakukan kegiatan mereka sehari-hari di rumah, pasar, dan pelabuhan yang terdapat di kota Romawi yang makmur itu dan berpenduduk sekitar 20.000 orang. Pada pukul 8 pagi, serangkaian emisi kecil (pancaran gas panas) terlihat datang dari Gunung Vesuvius yang dekat dengan kota itu, kemudian dilanjutkan dengan letusan hebat pada sore harinya. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, Pompeii dan sebagian besar penduduknya telah terkubur di bawah lapisan debu vulkanik yang tebal. Sungguh tidak terduga.
Ke Mana Saja Selama Ini?
Seorang misionaris bernama Egerton Ryerson Young pernah melayani suku Salteaux di Kanada pada dekade 1700-an. Sang kepala suku berterima kasih kepada Young yang telah membawa kabar baik tentang Kristus kepada mereka. Ia mengaku baru mendengar kabar itu untuk pertama kali sepanjang hidupnya yang sudah lanjut itu. Karena kepala suku ini tahu bahwa Allah adalah Bapa surgawi bagi Young, ia bertanya, “Apakah itu berarti Dia juga Bapaku?” Sang misionaris menjawab, “Ya,” dan orang banyak yang berkumpul di situ pun bersorak gembira.
Garis Beban
Pada abad ke-19, kapal-kapal laut sering dimuati beban yang terlalu berat dengan sembrono, sehingga kapal-kapal tersebut tenggelam dan awak kapalnya hilang di laut. Pada tahun 1875, untuk memperbaiki kondisi yang buruk ini, seorang politisi Inggris bernama Samuel Plimsoll mendesak disahkannya undang-undang untuk membuat sebuah garis pada dinding kapal sebagai penanda apakah kapal tersebut telah membawa muatan yang terlalu banyak. “Garis beban” tersebut dinamakan Garis Plimsoll, dan cara itu masih digunakan untuk menandai lambung kapal sampai saat ini.
Bata Tanpa Jerami
Banyak di antara kita menghadapi tantangan untuk bekerja dengan sumber daya yang terbatas. Kita menghadapi dana yang lebih sedikit, waktu yang lebih singkat, tenaga yang semakin terkuras, dan rekan kerja yang semakin dikurangi, tetapi dengan beban pekerjaan yang mungkin tetap sama. Ada kalanya beban pekerjaan kita justru semakin bertambah. Ada sebuah ungkapan yang merangkum situasi ini: “Membuat lebih banyak bata dengan lebih sedikit jerami.”
Selaras
Saya suka memainkan alat musik banjo yang memiliki 5 senar. Hanya saja, alat musik itu punya satu kekurangan. Senar ke-5 itu hanya dapat diselaraskan dengan sejumlah kecil paduan nada (chord) sederhana. Apabila para pemusik lainnya ingin memainkan musik yang lebih kompleks, si pemain banjo harus melakukan penyesuaian. Dengan penyesuaian yang tepat, ia akan dapat menyumbangkan nada-nada yang luar biasa merdu dalam suatu pertunjukan bersama.
Keagungan Sejati
Ada orang-orang yang merasa dirinya bagaikan sebuah batu kerikil kecil yang tak berarti di tengah suatu jurang yang dalam. Namun sekecil apa pun kita menilai diri sendiri, Allah dapat memakai kita secara luar biasa.
Dua Pria
Ada dua pria yang meninggal pada hari yang sama dalam peristiwa pembunuhan di kota tempat kami tinggal. Pria yang pertama adalah seorang perwira polisi yang tertembak mati ketika berusaha menyelamatkan sebuah keluarga. Pria yang kedua adalah seorang tunawisma yang ditembak pada saat ia sedang minum-minum bersama teman-temannya pada dini hari itu.
Tampil Rapi
Menjaga penampilan anak-anak kami agar tetap rapi selama di gereja selalu menjadi tantangan bagi kami. Sepuluh menit setelah tiba di gereja dalam keadaan rapi, anak kami yang kecil, Matthew, akan terlihat seakan-akan ia tidak terurus oleh orangtuanya. Saya melihatnya berlarian dengan kemeja yang keluar sebagian dari celana, kacamata yang miring, sepatu yang diseret, dan pakaian yang dipenuhi dengan remah-remah kue. Jika dibiarkan sendiri, Matthew pasti akan menjadi anak yang kotor dan berantakan.
Sudut Pandang Kekekalan
Fanny Crosby telah kehilangan daya penglihatannya sejak ia masih bayi. Namun yang mengagumkan, ia bertumbuh menjadi salah seorang penulis lagu himne Kristen yang paling dikenal sepanjang masa. Fanny, yang dikaruniai umur panjang, menulis lebih dari 9.000 lagu di sepanjang hidupnya. Beberapa himnenya yang menjadi favorit sampai sekarang adalah “Blessed Assurance” (‘Ku Berbahagia) dan “To God Be the Glory” (Terpujilah Allah).