Category  |  Santapan Rohani

Kasih Bapa Kita

Kim duduk di dekat jendela, siap dengan tasnya, menunggu kedatangan ayahnya dengan penuh semangat. Namun, saat langit berubah gelap dan hari menjadi malam, antusiasmenya surut. Ia sadar, lagi-lagi ayahnya tidak datang.

Tergerak untuk Bercerita

“Kamu tahu Yesus mengasihimu. Dia benar-benar mengasihimu.” Itulah kata-kata terakhir John Daniels. Hanya beberapa detik setelah memberikan uang kepada seorang tunawisma dan mengucapkan kata-kata perpisahan itu, ia tertabrak mobil dan tewas seketika. Lembar warta dari kebaktian untuk mengenang hidup John mencantumkan kisah ini, “Ia ingin mencoba untuk menjangkau lebih banyak orang, jadi pada suatu Minggu sore, saat ia berusaha menolong seorang pria, Allah memberinya jalan untuk menjangkau dunia. Semua saluran TV lokal menyiarkan berita tentang dirinya, dan berita itu disaksikan oleh teman-teman, keluarga, dan banyak orang di seluruh negeri.”

Bertanya kepada Yesus

“Andaikan Yesus benar-benar duduk semeja dengan kita pagi ini, apa yang ingin kalian tanyakan kepada-Nya?” tanya Joe kepada anak-anaknya saat sarapan. Anak-anak yang laki-laki memikirkan beberapa pertanyaan yang mereka anggap paling sulit. Mereka memutuskan ingin menanyai Yesus soal matematika paling sukar dan meminta-Nya menjelaskan seberapa besar alam semesta itu sesungguhnya. Lalu, putrinya menjawab, “Aku ingin meminta-Nya memelukku.”

Menjadi Kudus

Setelah mengunjungi pameran patung keramik kelas dunia di sebuah museum seni, saya diundang untuk membuat sebuah wadah kecil dari tanah liat yang mudah mengering. Saya menghabiskan waktu dua jam untuk membuat sebuah mangkuk kecil, mengukir pola, dan melukisnya. Hasil kerja keras saya cukup mengecewakan: sebuah mangkuk mungil yang buruk rupa dengan warna yang tidak merata. Yang pasti, hasilnya tidak pantas untuk dipamerkan di museum mana pun.

Allah Fondasi Kita yang Teguh

Rumah kami perlu direnovasi, karena dinding dapur mulai rontok dan lantainya sudah melengkung. Setelah sebagian besar dapur dirobohkan, para tukang bangunan mulai menggali tanah untuk membuat fondasi yang baru. Saat itulah sesuatu yang tidak lazim terjadi.

Diberkati untuk menjadi Berkat

Selama bertahun-tahun menjadi jurnalis, saya senang menceritakan kisah-kisah orang lain, tetapi saya diajarkan untuk tidak memberikan pendapat saya sendiri. Jadi, bertahun-tahun setelah saya merasa Allah memanggil saya untuk meninggalkan karier jurnalistik tersebut, dan semakin yakin bahwa Allah mengarahkan saya untuk menulis blog dan berbicara tentang Dia, saya merasa cukup canggung harus membagikan isi pikiran saya, terutama tentang iman saya. Saat saya mulai menulis di blog, saya takut bahwa saya akan kehabisan bahan untuk dibahas. Namun, pekan demi pekan, saya menemukan kata-kata yang menguatkan dan wawasan untuk dibagikan. Semakin sering saya menulis, semakin banyak ide yang mengalir. Saya masih merasakannya sampai sekarang.

Sikap Takut yang Sehat

Jeremy menulis, “Saya cukup tahu tentang ketakutan akan kematian. Tujuh tahun yang lalu . . . saya merasakan ketakutan yang intens dan hebat, hingga membuat mual dan pusing, saat diberi tahu bahwa saya mengidap kanker yang tidak bisa disembuhkan.” Namun, ia belajar mengelola rasa takutnya dengan bersandar pada hadirat Allah, dan beralih dari ketakutan akan kematian kepada sikap takut yang mendalam akan Allah sendiri. Bagi Jeremy, itu berarti mengagumi Sang Pencipta alam semesta yang akan “meniadakan maut” (Yes. 25:8) sekaligus memahami secara mendalam bahwa Allah mengenal dan mengasihinya.

Perlindungan Allah yang Sempurna

David Vetter meninggal dunia pada usia 12 tahun setelah menghabiskan seluruh masa hidupnya di dalam sebuah gelembung. “Bocah Gelembung” itu lahir dengan penyakit yang disebut defisiensi imunitas kombinasi (SCID). Orangtua David pernah kehilangan anak pertama mereka karena penyakit yang sama, jadi mereka bertekad untuk melindungi anak mereka yang kedua. Untuk memperpanjang umur David, para insinyur NASA merancang gelembung pelindung dari plastik dan pakaian antariksa agar orangtuanya dapat mendampingi putra mereka di dunia luar. Kita semua ingin melindungi orang-orang yang kita kasihi.

Kristus yang Terutama

Saya dan istri menyukai film romantis yang ringan dan menyenangkan. Bisa dibilang itu favorit kami berdua. Pesona dan daya tarik film jenis itu terletak pada alur ceritanya yang dapat ditebak dan selalu diakhiri dengan para tokoh yang bahagia selamanya. Baru-baru ini, kami menonton satu film yang menyajikan sejumlah nasihat romantis yang patut dipertanyakan. Cinta adalah perasaan, begitu katanya. Lalu, Ikuti saja kata hatimu. Terakhir, Yang paling penting kamu bahagia. Memang, perasaan kita itu penting. Namun, perasaan yang terlalu berfokus pada diri sendiri adalah dasar yang buruk untuk pernikahan yang langgeng.