Menyaksikan Keagungan Allah
Dalam soneta “God’s Grandeur,” penyair abad ke-19 Gerard Manley Hopkins merayakan bagaimana alam ciptaan Allah dipenuhi dengan “keagungan Allah” di mana-mana. Hopkins melukiskan kemuliaan Allah yang menakjubkan, menyala, dan berkilau “bagaikan gemerlap lempengan logam yang memantulkan cahaya.” Namun, jika keindahan Allah begitu nyata, mengapa begitu banyak orang melewatkannya? Hopkins berpendapat bahwa salah satu alasannya adalah karena manusia menutupi segalanya dengan “noda” dan “bau” mereka sendiri, sehingga banyak orang tak sanggup melihat melampaui diri mereka.
Tanah yang Baik di dalam Allah
Setiap tahun, menjelang akhir musim semi, saya selalu menanam benih mentimun di kebun rumah kami. Benih itu cepat menghasilkan daun, tetapi butuh waktu cukup lama untuk menghasilkan buah. Pada suatu musim panas, setelah menyiraminya dan menunggu, saya sempat bertanya-tanya apakah buah mentimun akan benar-benar tumbuh. Saya juga berpikir, apakah saya menanam terlalu banyak benih yang terlalu berdekatan, atau tanahnya belum cukup hangat ketika saya menanamnya? Namun, suatu hari, saya melihat sebuah bulatan kecil berwarna hijau. Minggu berikutnya, muncul satu lagi. Lalu satu lagi. Dalam beberapa minggu, sulur-sulur pun berubah menjadi tanaman dengan buah yang cukup untuk membuat selada selama seminggu.

Menunggu Panen
Pada tahun 1962, Joanne Shetler dan Anne Fetzer menempuh perjalanan yang berat dengan bus dan berjalan kaki menuju daerah pegunungan terjal di Filipina demi memberitakan Injil kepada penduduk yang belum pernah mendengar tentang Tuhan Yesus.
![Hendaklah engkau berusaha sungguh-sungguh supaya diakui oleh Allah sebagai orang yang layak bekerja bagi-Nya [yang] mengajarkan dengan tepat ajaran-ajaran benar dari Allah. (2 Timotius 2:15 BIMK) Hendaklah engkau berusaha sungguh-sungguh supaya diakui oleh Allah sebagai orang yang layak bekerja bagi-Nya [yang] mengajarkan dengan tepat ajaran-ajaran benar dari Allah. (2 Timotius 2:15 BIMK)](https://da4kwgmu3ugvs.cloudfront.net/wp-content/uploads/sites/60/2026/04/16103509/SOCIAL-POST_20260512-940x1175.jpg)
Memperdalam Pengenalan akan Allah
Segera setelah saya melompat ke dalam air, kacamata renang saya dipenuhi air, membuat saya hampir tidak bisa melihat. Walaupun tidak pernah mengikuti les renang, saya berjuang pelan-pelan menyelesaikan dua putaran lomba yang saya ikuti secara spontan. Namun, bertahun-tahun kemudian, setelah mengikuti les dan mempelajari teknik pernapasan serta gaya renang yang benar, saya dapat menikmati keempat gaya renang yang dilombakan.
Firman Allah Tetap
Pada awal tahun 1900-an, seorang pengusaha baja sukses bernama Charles Schwab memutuskan untuk membangun rumah yang bisa dikatakan termewah di kota New York. Kediaman Schwab di Riverside Drive yang selesai dibangun pada tahun 1906 itu terinspirasi dari bangunan kastil Prancis dan membentang sepanjang satu blok, lengkap dengan taman rimbun, aula besar, dan interior yang mewah. Bangunan itu terlihat sangat kontras dengan gedung-gedung apartemen yang menjulang tinggi dan menjadi ciri khas Manhattan di kemudian hari. Namun, setelah Schwab meninggal, rumah megah itu sulit untuk dijual kembali—terlalu besar, terlalu mahal, dan tidak sesuai dengan tren perumahan masa itu. Akhirnya, rumah itu dihancurkan pada tahun 1948. Baik rumah maupun pemiliknya tidak bertahan lama.
Yesus Dinyatakan di dalam Kita
Setelah kepergian sang ibu, Joni Eareckson Tada merenungkan bagaimana tubuh manusia bagaikan “bejana tanah liat” yang menyimpan harta kehadiran Kristus. Dari dunia saat ini, ia menggambarkan tubuh duniawi kita bagaikan kotak kardus. Ia tahu bahwa “kotak kardus” ibunya, dengan sisi dan sudutnya yang usang, kini telah kosong. Namun, kata Joni, kotak itu begitu berharga, “karena pernah menjadi wadah bagi Roh Kristus untuk berdiam.”
