Category  |  Santapan Rohani

Siapa yang Harus Kita Dengarkan

“Saya harus mengumumkan situasi genting. Pilot saya meninggal dunia.” Dengan gugup, Doug White mengucapkan kata-kata itu kepada menara kendali yang memantau penerbangannya. Beberapa menit setelah lepas landas, pilot pesawat pribadi yang disewa keluarga Doug mendadak meninggal dunia. Doug pun masuk ke kokpit hanya dengan berbekal pelatihan tiga bulan dalam menerbangkan pesawat yang tidak begitu canggih. Lalu, dengan saksama Doug mendengarkan petugas kontrol dari bandara setempat yang membimbingnya dalam upaya mendaratkan pesawat. Setelahnya, Doug berkata, “[Mereka] telah menyelamatkan keluarga saya dari kematian yang nyaris tak terelakkan.”

Yesus Penyelamat Kita

Perjalanan kereta gantung yang biasa melintasi sebuah lembah di Pakistan itu tiba-tiba berubah menjadi pengalaman yang mengerikan. Tak lama setelah berjalan, dua utas kabel penopang kereta gantung itu putus, sehingga delapan penumpang—termasuk murid-murid sekolah—terkatung-katung setinggi ratusan meter di udara. Situasi tersebut memicu operasi penyelamatan yang penuh tantangan selama 12 jam oleh militer Pakistan. Mereka menggunakan zipline, helikopter, dan sarana lainnya untuk menyelamatkan para penumpang.

Saling Menguatkan di dalam Kristus

Suatu kali, seorang guru di negara bagian Indiana, AS, mendorong siswa-siswinya untuk menulis pesan yang berisi dorongan dan penguatan bagi satu sama lain. Beberapa hari kemudian, ketika sebuah tragedi terjadi di suatu sekolah di negara bagian lain, pesan-pesan yang mereka tulis tadi berhasil menguatkan sesama murid di tengah ketakutan dan kekhawatiran akan terjadinya peristiwa yang serupa di antara mereka.

Iman Seorang Nenek

Saat kami sekeluarga duduk mengelilingi meja makan, cucu laki-laki saya yang berusia sembilan tahun berkata sambil tersenyum, “Aku mirip dengan Nenek. Aku suka membaca!” Kata-katanya membawa sukacita dalam hati saya. Saya ingat tahun lalu saat ia jatuh sakit dan tidak bersekolah. Setelah ia tidur siang, kami duduk bersebelahan dan membaca buku. Saya senang sekali dapat mewariskan kegemaran membaca yang saya sendiri terima dari ibu saya.

Cinta Kuat seperti Maut

Jika Anda menyusuri tembok kuno yang terbentang memisahkan pekuburan Protestan dan Katolik di Roermond, Belanda, Anda akan menemukan suatu pemandangan menarik. Pada masing-masing sisi, sejajar dengan dindingnya, berdiri dua buah menara batu nisan yang identik; satu untuk seorang suami beragama Kristen Protestan dan satu lagi untuk istrinya yang beragama Kristen Katolik. Peraturan yang berlaku di sana pada abad ke-19 mengharuskan mereka dimakamkan di tempat yang terpisah. Akan tetapi, mereka tidak menerima begitu saja keadaan itu. Jadi, dibangunlah batu nisan yang tidak lazim untuk masing-masing dari mereka dengan ukuran lumayan tinggi, hingga bagian atasnya menyembul sekitar 30-60 cm di atas tembok yang memisahkan keduanya. Di puncak masing-masing batu nisan, terdapat pahatan berupa sepenggal tangan yang terulur dan bergenggaman dengan tangan dari sisi lainnya. Pasangan tersebut menolak dipisahkan, dalam kematian sekalipun.

Kehadiran Allah yang Terus Menjaga

Cucu-cucu saya terkesima melihat gaya rambut dan pakaian yang sudah ketinggalan zaman, serta mobil-mobil “jadul” yang terpampang dalam foto-foto di buku tahunan SMA saya. Saya melihatnya dengan cara yang berbeda—pertama, senyuman teman-teman lama, yang beberapa di antaranya masih berhubungan dengan saya hingga sekarang. Namun, lebih dari itu, saya melihat kuasa pemeliharaan Allah. Di saat saya merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri, kehadiran-Nya yang lembut senantiasa melingkupi saya. Kebaikan-Nya terus-menerus menjaga saya—kebaikan yang Dia anugerahkan kepada semua orang yang mencari-Nya.

Tempat bagi Yesus

Suatu kali, saya sangat menikmati akhir pekan saya di New Orleans—menonton pawai di French Quarter, mengunjungi Museum Perang Dunia II, dan mencicipi tiram bakar. Namun, saat berbaring dalam kamar tamu di rumah seorang teman, saya merindukan istri dan anak-anak saya. Saya senang mendapat kesempatan untuk berkhotbah di kota-kota lain, tetapi sesungguhnya yang paling saya nikmati adalah berdiam di rumah.

Allah akan Menjawab

Ketika Pendeta Timothy mengenakan kerah rohaniwan saat bepergian, ia sering diajak bicara oleh orang-orang yang tak dikenalnya. “Tolong doakan saya,” pinta orang-orang di bandara saat melihat kerah yang dikenakan di atas setelannya yang berwarna gelap. Dalam penerbangan baru-baru ini, seorang wanita berlutut di samping kursi Pendeta Timothy dan memohon, “Apakah Anda seorang pendeta? Maukah Anda mendoakan saya?” Pendeta Timothy pun bersedia.

Pemberian yang Sempurna

Pada sebuah pelayanan dalam kunjungan misi jangka pendek ke Peru, saya sempat dimintai uang oleh seorang pemuda. Namun, karena alasan keamanan, regu kami telah diinstruksikan untuk tidak memberikan uang kepada siapa pun. Jadi, bagaimana saya dapat menolong pemuda itu? Saya pun teringat tanggapan Rasul Petrus dan Yohanes kepada pria yang lumpuh dalam Kisah Para Rasul 3. Saya jelaskan kepada pemuda tadi bahwa saya tidak bisa memberinya uang, tetapi saya bisa membagikan kabar baik tentang kasih Allah. Ketika ia menceritakan bahwa dirinya seorang yatim piatu, saya memberitahunya bahwa Allah ingin menjadi Bapanya. Ia menangis mendengar hal itu. Saya kemudian menghubungkannya dengan salah seorang anggota gereja lokal untuk dilayani lebih lanjut.