Category  |  Santapan Rohani

Rumah Ibadah

Ketika gedung Majelis Rendah Inggris dijatuhi bom pada Perang Dunia II, Perdana Menteri Winston Churchill memberi tahu Parlemen bahwa mereka harus membangun kembali gedung itu sesuai dengan rancangan semula. Bangunan tersebut harus cukup kecil supaya debat-debat bisa tetap dilangsungkan dengan tatap muka. Bangunan itu juga harus berbentuk persegi panjang, bukan setengah lingkaran, sehingga para politisi dapat “leluasa bergerak di bagian tengahnya.” Dengan demikian, sistem kepartaian di Inggris terus dipertahankan, dengan pihak Kiri dan Kanan saling berhadapan langsung, sehingga masing-masing pihak harus berpikir cermat sebelum mengalihkan dukungan mereka. Churchill menyimpulkan, “Kita membentuk bangunan-bangunan kita, dan setelah itu bangunan-bangunan tersebut yang membentuk kita.”

Pakailah Aku

James Morris pernah disebut sebagai “seorang awam yang buta huruf dan penuh kehangatan,” tetapi Allah memakainya untuk membawa Augustus Toplady mengenal iman yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus. Toplady, penulis himne “Batu Karang yang Teguh” dari abad ke-18, menceritakan kesan yang diterimanya saat mendengar khotbah Morris. “Saya merasa aneh . . . seperti dibawa mendekat kepada Allah . . . di tengah-tengah sekumpulan umat Allah yang bertemu dalam sebuah lumbung, oleh pelayanan dari seseorang yang bahkan tidak bisa mengeja namanya sendiri. Pastilah itu karya Tuhan, dan itu sungguh menakjubkan.”

Baru dan Pasti

Selama tiga tahun, teman saya Susan tidak membeli apa pun bagi dirinya sendiri selain untuk kebutuhan rumah tangga. Pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi pendapatannya, dan ia kini menjalani hidup yang sederhana. “Suatu hari saat membersihkan apartemen, aku melihat betapa kumal dan usangnya barang-barangku,” ia bercerita. “Saat itulah aku rindu mempunyai barang-barang baru—sesuatu yang segar dan menyenangkan. Sekelilingku tampak usang dan tua. Rasanya tidak ada lagi yang kunanti-nantikan.”

Allah yang Membebaskan

Sudah 2,5 tahun berlalu sejak Presiden Abraham Lincoln mengumumkan pembebasan para budak dan pihak Selatan yang kalah perang saudara juga sudah menyerah, tetapi negara bagian Texas masih belum juga mengakui pembebasan tersebut. Namun, pada tanggal 19 JUNI 1865, jenderal tentara Utara, Gordon Granger, memasuki kota Galveston, Texas, dan menuntut agar semua budak dibebaskan. Bayangkan betapa terkejut dan bahagianya orang-orang yang diperbudak itu saat kebebasan diumumkan dan semua belenggu mereka dilepaskan.

Sahabat bagi Orang Kesepian

Saat pindah ke London untuk bekerja, Holly Cooke tidak memiliki teman seorang pun. Ia merasa sedih manakala akhir pekan tiba. Kota itu sendiri menduduki peringkat teratas dalam hal perasaan murung. Menurut survei global, 55 persen warga London menyebut diri mereka kesepian, jauh berbeda dari warga kota Lisbon, Portugal, yang hanya 10 persen.

Iman yang Murah Hati

Beberapa tahun lalu, gereja kami diundang untuk menjadi tuan rumah bagi sejumlah pengungsi yang melarikan diri dari negara mereka yang mengalami kekacauan akibat perubahan kepemimpinan politik. Seluruh keluarga pengungsi itu datang dengan hanya membawa satu tas kecil. Beberapa jemaat kami memberikan tumpangan kepada mereka, termasuk mereka yang hanya dapat menyediakan sebuah ruang berukuran kecil.

Harapan Kesembuhan

Orang-orang yang lumpuh akibat cedera tulang belakang kini mempunyai harapan baru. Para peneliti di Jerman telah menemukan cara untuk merangsang pertumbuhan saraf dan menghubungkan kembali jalur saraf antara otot dan otak. Dalam hasil percobaan mereka, pertumbuhan tersebut telah memungkinkan tikus yang lumpuh untuk berjalan kembali, dan masih akan terus dilakukan pengujian untuk menentukan apakah terapi itu aman dan efektif bagi manusia.

Hati yang Melayani

Ketika Paman Emory meninggal dunia, banyak orang dari beragam kalangan memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Semua penghormatan itu memiliki kesamaan: Mereka menghargai Emory yang telah menunjukkan kasihnya kepada Allah dengan melayani sesama. Sikap itu paling jelas terlihat selama masa dinasnya dalam Perang Dunia II. Di sana ia bertugas sebagai tenaga medis yang tidak menyandang senjata. Ia tidak hanya menerima penghargaan militer atas keberaniannya, tetapi juga dikenang karena pengabdiannya yang penuh kasih, baik selama maupun sesudah perang.

Dilema dan Iman yang Makin Teguh

Dalam sebuah kelompok pendalaman Alkitab di akhir pekan, seorang ayah menceritakan kebingungannya karena putri tercintanya yang pernah kabur dari rumah sekarang telah kembali ke kota mereka. Namun, perilaku anak itu membuat sang ayah merasa tak nyaman untuk menyambutnya pulang. Anggota kelompok yang lain merasa kurang enak badan sebagai akibat dari penuaan dan juga penyakit yang telah lama dideritanya. Ia sudah berobat ke banyak dokter, tetapi hanya mengalami sedikit kemajuan. Sekarang ia merasa putus asa. Dalam rencana Allah, hari itu kelompok mereka mempelajari Markus 5. Setelah membahas bagian itu, tampak jelas ada harapan dan kegembiraan pada wajah mereka.