Category  |  Santapan Rohani

Mendoakan Isi Hati Kita

Brenda dan Eddie masuk ke mobil dan juga masuk ke dalam kebiasaan Kamis malam mereka. “Mau makan di mana?” tanya Eddie. “Oh, Eddie, terserah, di mana saja boleh,” jawab Brenda. Ini bukan situasi yang baru bagi Eddie. “Oke, bagaimana kalau di The Windmill?” Brenda langsung kesal, “Tidak mau. Di mana saja asal tidak di situ!” Eddie menghela napas. “Jadi mau di mana?” Brenda tetap bersikukuh, “Di mana saja boleh.”

Allah Melihat Saya

Ketika suami Sun terserang stroke, hidupnya berubah drastis. Ia harus membantunya menjalani aktivitas sehari-hari dan menghadapi luapan emosi yang muncul. Selama 17 tahun, ia setia merawat suaminya. Namun, ketika suaminya terjatuh dan kesehatannya semakin memburuk, perawatan pun menjadi beban yang terlalu berat. Sun lalu jatuh dalam depresi. “Aku merasa telah kehilangan iman,” akunya, “dan aku tidak dapat melihat Allah.”

Berjalan bersama Allah

Suatu hari di gym, istri saya bergabung dengan para pejalan kaki yang mengikuti aturan berjalan searah jarum jam. Tiba-tiba, seorang perempuan melangkah masuk ke lintasan dan berjalan berlawanan arah. Beberapa temannya menyusul, dan tak lama kemudian orang-orang lain mengikuti. Lintasan yang semula tertib pun berubah menjadi kacau. Butuh beberapa menit untuk mengembalikan keteraturan dan memastikan semua kembali ke arah yang benar.

Percaya Melampaui yang Kasatmata

Pada akhir abad ke-19, tidak banyak orang yang pernah menginjakkan kaki di hutan besar pohon sequoia di Amerika Serikat, dan banyak yang meragukan keberadaan pohon-pohon raksasa itu. Namun, pada tahun 1892, empat penebang pohon berani menjelajahi Hutan Big Stump di California dan menghabiskan 13 hari untuk menebang sebuah pohon raksasa bernama Mark Twain. Pohon ini sudah berumur 1,341 tahun, menjulang setinggi 91 meter, dengan diameter mencapai 15 meter. Seorang pengamat menyebutnya sebagai pohon “dengan proporsi yang sangat indah, salah satu pohon paling sempurna di hutan itu.” Potongan dari pohon yang luar biasa dan kini telah hancur itu lalu dikirim ke Museum Sejarah Alam Amerika, agar orang-orang dapat melihat keagungan pohon sequoia.

Bertumbuh melalui Penderitaan

Otak manusia itu luar biasa kecil, dan stres bisa membuatnya menyusut lebih jauh. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat menyebabkan penyusutan pada korteks prefrontal, yakni bagian otak yang mengatur emosi, dorongan hati, dan interaksi sosial. Penyusutan ini dikaitkan dengan pengalaman kecemasan dan depresi; dan ini menunjukkan akibat yang diakibatkan oleh stres yang berlangsung dalam waktu yang lama. Namun, ada kabar baik: karena memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, otak manusia dapat pulih melalui latihan rutin seperti olahraga, meditasi, dan usaha membangun hubungan yang bermakna dengan sesama.