Category  |  Santapan Rohani

Benih Iman

Musim semi lalu, pada malam sebelum halaman kami digemburkan, angin kencang meluruhkan benih-benih pohon maple kami dalam satu tiupan. Jadi saat mesin bajak menggemburkan tanah yang padat, dengan menarik banyak “inti” yang kecil-kecil dari tanah, ratusan biji maple jadi tertanam di halaman saya. Hanya dalam dua minggu, saya melihat cikal bakal hutan maple yang tumbuh di halaman saya!

Anjing yang Salah Dimengerti

Surat kabar menyatakan bahwa Pep telah membunuh kucing milik istri gubernur, padahal Pep tidak melakukannya. Satu-satunya kesalahan yang mungkin Pep lakukan adalah menggigiti sofa di rumah sang gubernur.

Selalu Setia

Saya mudah khawatir. Dini hari adalah waktu yang sulit karena saya sering bergumul dengan pikiran saya sendiri. Untuk menghadapinya, saya menempelkan kutipan berikut dari Hudson Taylor pada cermin kamar mandi, agar saya dapat membacanya ketika sedang merasa rapuh: “Allah yang hidup itu sungguh ada. Dia telah bersabda di dalam Alkitab. Dia bersungguh-sungguh dengan perkataan-Nya dan akan setia pada semua janji-Nya.”

Tertawa Terbahak-bahak

Komedian John Branyan pernah berkata, “Tawa bukanlah hasil pemikiran manusia; itu bukan ide kita. Tawa diberikan kepada kita [oleh Allah] yang tahu bahwa kita akan membutuhkannya dalam menjalani kehidupan. [Karena] Dia tahu kita akan menanggung penderitaan, Dia tahu kita akan menghadapi berbagai pergumulan, Dia tahu . . . banyak hal akan terjadi. . . . Tawa adalah anugerah.”

Menyirami Ilalang

Musim semi kali ini, ilalang merajalela di pekarangan belakang rumah kami hingga membuatnya seperti hutan dalam film Jurassic Park. Begitu besarnya salah satu ilalang sehingga saat saya berusaha mencabutnya, saya khawatir akan mencederai diri sendiri. Sebelum sempat mengambil sekop untuk mencungkilnya, saya melihat putri saya justru menyirami ilalang itu. “Kenapa kamu menyiraminya?” sergah saya. “Aku ingin melihat sebesar apa tumbuhnya nanti!” jawabnya sambil nyengir nakal.

Perkasa dan Baik

Pembina mahasiswa yang masih muda itu sedang resah. Namun, ia tampak bimbang ketika saya memberanikan diri untuk bertanya apakah ia sudah berdoa, untuk meminta tuntunan Allah dan memohon pertolongan dari-Nya. Berdoa tanpa henti, seperti anjuran Paulus. Namun, ia mengaku, “Aku tidak yakin apakah aku masih mempercayai kuasa doa.” Ia mengernyit. “Aku juga tidak yakin Allah mendengarkan doa. Lihat saja keadaan dunia ini.” Si pemimpin muda itu sedang “membangun” pelayanan dengan kekuatannya sendiri, dan sayangnya, ia gagal. Mengapa? Karena ia menolak Allah.

Melepaskan

Autobiografi Agustinus yang berjudul Confessions (Pengakuan-Pengakuan) menggambarkan perjalanannya yang panjang dan berliku hingga berjumpa dengan Yesus. Pada satu kesempatan, ia pergi ke istana untuk menyampaikan pidato berisi sanjungan bagi kaisar. Ketika sedang mencemaskan isi pidatonya yang bagus tetapi tidak tulus, ia melihat seorang pengemis mabuk sedang “bersenda gurau dan tertawa”. Ia tersadar si pemabuk sudah menikmati kebahagiaan sesaat dari apa yang ia kerjakan, dan dengan usaha yang jauh lebih sedikit. Maka, Agustinus pun berhenti mengejar kesuksesan duniawi.

Tali yang Terlalu Pendek

Kebiasaan berhemat Bibi Margaret sangatlah legendaris. Setelah beliau meninggal dunia, keponakan-keponakannya mulai memilah barang-barang miliknya sambil mengenang sang bibi. Mereka menemukan dalam sebuah laci, tersusun rapi dalam kantong plastik kecil, aneka ragam potongan tali kecil yang diberi label “Tali yang terlalu pendek untuk digunakan”.

Mengasihi Seperti Yesus

Seorang pria muda yang mengenakan celana bahan dan kemeja rapi duduk di sebuah bangku stasiun sembari menunggu kereta di Atlanta, Georgia. Melihat pria itu kesulitan memasang dasi, seorang wanita tua mendorong sang suami untuk membantunya. Saat lelaki tua itu membungkuk dan mengajari si pemuda mengikat dasinya, seorang asing mengambil foto ketiganya. Ketika foto tersebut menjadi viral, banyak yang meninggalkan komentar positif tentang pentingnya berbuat baik kepada sesama.