Siapa Nama Anda?
Setelah suaminya meninggal dunia, Jen menikah lagi. Anak-anak suaminya yang baru tidak pernah menerimanya. Sekarang setelah suami keduanya itu juga meninggal dunia, anak-anaknya makin membenci Jen karena ia masih tinggal di rumah masa kecil mereka. Suami Jen tidak meninggalkan banyak warisan untuknya, tetapi anak-anaknya menuduh Jen telah mencuri warisan mereka. Dapat dimengerti jika situasi ini membuat Jen putus asa dan merasakan kepahitan.
Kita adalah Orang Asing
Bagi keluarga pendatang itu, segala sesuatu terasa sangat berbeda di negara mereka yang baru—bahasa, sekolah, kebiasaan, lalu lintas, dan cuaca. Mereka bahkan tidak yakin akan bisa beradaptasi. Namun, beberapa anggota jemaat dari gereja dekat tempat tinggal mereka bersepakat untuk datang dan membantu mereka menjalani kehidupan yang baru. Suatu hari, Patti mengajak pasangan tersebut berbelanja di pasar lokal untuk menunjukkan apa saja yang tersedia dan cara membelinya. Ketika sedang berkeliling pasar, mereka terbelalak dan tersenyum lebar melihat buah favorit yang berasal dari tanah air mereka—delima. Mereka membeli buah itu untuk masing-masing anak mereka, bahkan memberikan sebiji untuk Patti sebagai ucapan terima kasih. Buah kecil dan teman-teman baru itu telah memberikan mereka rasa nyaman di negeri asing yang kini mereka diami.
Serupa Guru Agung Kita
Dalam sebuah video yang viral, seorang murid karate sabuk putih berusia tiga tahun mencoba meniru instrukturnya. Dengan penuh semangat dan keyakinan, gadis kecil itu mengucapkan kredo sebagai murid bersama sang guru. Kemudian, dengan tenang dan fokus, gadis mungil yang antusias itu menirukan semua yang dikatakan dan dilakukan gurunya dengan cukup bagus.
Kebahagiaan dalam Air Mata
Saya menerima surel dari seorang pemuda di Inggris, yang menerangkan bahwa ayahnya (baru berumur enam puluh tiga tahun) sedang sekarat dan kini terbaring kritis di rumah sakit. Meski kami belum pernah bertemu, pekerjaan saya dan ayahnya ternyata sering berkaitan. Karena ingin menghibur sang ayah, pemuda itu meminta saya mengirimkan video berisi doa dan dorongan semangat. Saya sangat tersentuh dan akhirnya merekam pesan singkat serta doa untuk kesembuhannya. Saya diberi tahu bahwa ayahnya menonton video tersebut dan sempat menyatakan rasa terima kasih dengan mengacungkan jempolnya. Sayangnya, beberapa hari kemudian, saya menerima email berikutnya yang mengabarkan bahwa beliau telah meninggal dunia. Beliau mengembuskan napas terakhir sambil menggenggam tangan sang istri.
Penopang Berkat
Pada tanggal 15 Januari 1919, sebuah tangki raksasa berisi sirop meledak di Boston. Lebih dari tujuh setengah juta liter gelombang sirop setinggi empat setengah meter tumpah ke jalan dengan kecepatan lebih dari 48 kilometer per jam, menyapu gerbong-gerbong kereta, gedung-gedung, orang-orang, dan binatang. Sirop mungkin terdengar tidak membahayakan, tetapi hari itu hal tersebut berakibat fatal: 21 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 150 orang luka-luka.
Kehabisan Daya
“Rasanya aku tak mampu lagi,” kata teman saya sambil berlinang air mata. Ia menceritakan perasaan tidak berdaya yang dihadapinya sebagai perawat di tengah krisis kesehatan yang melanda dunia. Ia mengaku, “Aku tahu Allah memanggilku untuk menjadi perawat, tetapi aku benar-benar kewalahan dan emosiku terkuras habis.” Melihat rasa penat yang menggayutinya, saya berkata, “Aku tahu kamu sedang merasa tidak berdaya, tetapi mintalah agar Allah memimpinmu ke arah yang kamu rindukan dan memberimu kekuatan untuk bertahan.” Saat itu, ia memutuskan untuk tekun mencari Allah melalui doa. Tak lama kemudian, kawan saya itu kembali disegarkan dengan tujuan yang baru. Ia bukan saja bersemangat melanjutkan pekerjaannya sebagai perawat, tetapi Allah juga memberinya kekuatan untuk melayani lebih banyak orang dengan berkeliling ke banyak rumah sakit di seluruh negeri.
Teror Tujuh Menit
Ketika Perseverance, kendaraan penjelajah Mars, mendarat di planet merah itu pada tanggal 18 Februari 2021, para petugas yang memonitor pendaratannya sempat mengalami “teror tujuh menit”. Setelah menempuh perjalanan sepanjang 470 juta kilometer, kendaraan tersebut harus melewati prosedur pendaratan yang rumit tanpa bantuan dari pihak luar. Sinyal dari Mars membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai ke Bumi, jadi NASA tidak dapat mendengar apa-apa dari Perseverance selama proses pendaratan tersebut. Bagi tim yang telah mengerahkan begitu banyak upaya dan sumber daya dalam misi tersebut, putus kontak itu terasa sangat menakutkan.
Mantel Merah Muda
Saat berjalan menuju pintu keluar mal, mata Brenda terpikat oleh sesuatu berwarna merah muda di etalase. Ia berbalik lalu berdiri terkesima menatap “mantel berwarna gulali”. Wah, Holly pasti suka mantel itu! Koleganya itu, seorang ibu tunggal, sedang bergumul dengan kesulitan finansial. Brenda tahu bahwa Holly membutuhkan baju hangat, tetapi ia yakin Holly tidak akan mengeluarkan uang sebesar itu untuk membeli mantel. Setelah berpikir sebentar, Brenda tersenyum, mengambil dompet, dan mengatur supaya mantel itu dikirimkan ke rumah Holly. Ia menambahkan kartu tanpa nama, “Seseorang mengasihimu”. Langkah-langkah Brenda terasa ringan, karena hatinya sangat senang.
Belas Kasihan untuk Kita
Salah satu konsekuensi dari pandemi COVID-19 adalah berlabuhnya kapal pesiar dan karantina terhadap para penumpangnya. Sebuah artikel dalam The Wall Street Journal memuat wawancara dengan beberapa turis di kapal pesiar. Banyak dari mereka menganggap masa karantina memberi lebih banyak kesempatan untuk bercakap-cakap. Seorang penumpang dengan bergurau menceritakan bagaimana pasangannya—yang memiliki ingatan tajam—mampu menyebutkan kembali setiap kesalahan yang pernah ia lakukan, bahkan ia punya firasat bahwa istrinya belum mengatakan semuanya!