Dengarkanlah Lonceng Natal
“I Heard the Bells on Christmas Day” (Dengarkanlah Lonceng Natal, Nyanyian Pujian no. 52) adalah lagu Natal yang sungguh luar biasa. Lagu ini didasarkan pada puisi karya Henry Wadsworth Longfellow dari tahun 1863. Alih-alih bertutur tentang kegembiraan Natal seperti lazimnya, lagu itu justru menyuarakan ratapan, “Mungkin hati jadi cemas / Oleh bantahan yang keras / Di manakah sesungguhnya / Damai sejaht’ra di bumi?” Meski demikian, ratapan ini berubah menjadi pengharapan yang meyakinkan kita bahwa “Allah hidup berkuasa / Kejahatan digagalkan / Damai sejaht’ra di bumi.”
Berpeganglah pada Apa yang Baik
Kalau kami memarkir mobil di dekat lapangan terbuka dan berjalan melintasinya untuk sampai ke rumah, kami hampir selalu menemukan sejumlah tanaman berduri yang disebut cocklebur menempel pada pakaian kami, terutama di musim gugur. “Penumpang” mungil ini menempel pada pakaian, sepatu, atau apa pun yang lewat dan “menumpang” hingga tujuan mereka berikutnya. Begitulah cara alam menyebarkan benih-benih cocklebur di tempat saya tinggal dan di seluruh dunia.
Lari kepada Perlindungan Kita
Pertandingan bola basket kelas enam sekolah dasar itu berlangsung seru. Banyak orangtua dan kakek-nenek menyemangati para pemain, sementara adik-adik dari anggota regu yang bertanding asyik bermain di lorong sekolah. Tiba-tiba saja sirene meraung dan lampu tanda bahaya di gimnasium menyala berkedip-kedip. Alarm kebakaran berbunyi, dan anak-anak kecil yang panik itu langsung berlarian memasuki gimnasium untuk mencari orangtua masing-masing.
Meringankan Beban
Ketika para wanita dalam kelompok pendalaman Alkitab kami yang baru terbentuk menghadapi serangkaian tragedi, kami pun membagikan pengalaman pribadi kami kepada satu sama lain secara mendalam. Ada yang kehilangan ayah, ada yang merasakan pedihnya menghadapi ulang tahun pernikahan setelah bercerai, ada pula yang melahirkan anak yang tuli total, dan yang lain harus melarikan anak ke IGD. Semua itu adalah pengalaman yang terlalu berat untuk dilalui siapa saja seorang diri. Kerapuhan masing-masing dari kami menjadikan semua orang lebih terbuka. Kami menangis dan berdoa bersama, sehingga kami yang tadinya tidak saling mengenal ini akhirnya menjadi teman-teman dekat, hanya dalam waktu beberapa minggu.
Penguatan dari Makanan Cepat Saji
Maria membawa makan siang cepat sajinya ke meja yang kosong. Saat ia menggigit burgernya, pandangannya tertumbuk pada seorang pria muda yang duduk beberapa meja darinya. Pakaian pria itu kotor, rambutnya lengket, dan ia memegang sebuah gelas kertas yang kosong. Jelas, ia terlihat lapar. Bagaimana Maria dapat menolong? Memberinya uang sepertinya tidak bijaksana. Namun, jika ia membelikan makanan, apakah pria itu akan merasa malu?
Allah yang Mengejar
Beberapa tahun lalu, seorang pria dengan tangan penuh bawaan berjalan sekitar satu blok jauhnya di depan saya. Tiba-tiba ia tersandung dan semua barang bawaannya berserakan. Beberapa orang membantu pria itu berdiri dan menolong mengumpulkan barang-barangnya, tetapi dompetnya ketinggalan. Saya pun memungut dompet itu dan berlari mengejar si pria, ingin mengembalikan benda penting itu kepadanya. Setelah saya berteriak, “Pak, Pak!” akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke arah saya. Saat saya menyodorkan dompetnya, pria itu terlihat terkejut, sekaligus lega dan penuh syukur. Saya takkan pernah melupakan ekspresinya saat itu.
Pengharapan Besar
Pada suatu hari yang sibuk menjelang Natal, seorang wanita lanjut usia mendekati gerai di kantor pos lokal yang sedang ramai. Melihat gerakannya yang perlahan, seorang petugas kantor pos yang sabar menyapanya, “Halo, Kak! Ada yang bisa saya bantu?” Maksud petugas itu baik, tetapi sapaannya bisa diartikan orang bahwa “usia muda” itu lebih baik.
Bergantung dari Hari ke Hari
Suatu hari anak-anak kami yang masih kecil bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan sendiri. Sabtu pagi itu, saya dan istri bermaksud bangun lebih siang karena merasa capek setelah melewati satu minggu yang melelahkan. Tiba-tiba, saya mendengar suara barang pecah! Saya melompat dari tempat tidur lalu bergegas turun. Di dapur, saya melihat sebuah mangkuk telah pecah dan havermut berserakan di lantai. Jonas, anak kami yang berumur lima tahun, sedang berusaha keras menyapu semua kotoran di lantai (tetapi lebih seperti melumuri lantai). Anak-anak saya lapar, tetapi mereka memutuskan untuk tidak meminta bantuan. Mereka memilih untuk mandiri, tidak mau bergantung pada kami, dan hasilnya berantakan.
Bekerja dengan Kasih
Dr. Rebecca Lee Crumpler adalah perempuan Afrika-Amerika pertama yang berhasil memperoleh gelar dokter. Namun, selama hidupnya (1831–95) ia sering sekali “diabaikan, diremehkan, dan dianggap tidak penting”. Meski demikian, ia tetap setia mengobati sesama dan menggenapi tujuan hidupnya. Meski ada orang yang menilainya hanya berdasarkan ras dan jenis kelamin, Crumpler berkata bahwa ia selalu “bersemangat dan siap memenuhi tugas kapan dan di mana saja diperlukan”. Itulah juga yang selalu dikerjakannya. Ia meyakini, dengan merawat wanita dan anak-anak, serta mengobati para budak yang sudah dimerdekakan, ia sedang melayani Allah. Sayangnya, semua pencapaiannya baru dihargai setelah hampir satu abad kemudian.