Pegang Kuat-Kuat Firman Allah
Sebuah cincin besi tempa yang berat terpasang kokoh pada kusen pintu rumah pertanian tua milik paman saya, tak tergoyahkan oleh musim dingin Minnesota yang dahsyat. Kira-kira 30 meter lebih jauhnya dari sana, sebuah cincin lain juga terpasang kuat pada suatu bagian dari bangunan gudang susu. Ketika badai salju melanda, paman saya akan memasang tali yang menghubungkan kedua cincin tersebut sehingga ia dapat menemukan jalan antara rumah dan gudang. Dengan berpegangan kuat pada tali tersebut, ia tidak akan tersesat dalam badai salju yang membutakan.
Bersama Lebih Baik
Marie adalah orangtua tunggal yang bekerja, tetapi ia hampir tidak pernah absen dari kebaktian atau acara pendalaman Alkitab di gerejanya. Setiap minggu, ia pulang pergi bersama kelima anaknya dengan bus, membantu bersih-bersih, dan menyiapkan kebutuhan gereja.
Kesempatan untuk Bersinar
Pada bulan Maret 2020, ketika mengajak anjingnya berjalan-jalan di Central Park, New York, Whitney, seorang pensiunan pakar keuangan, melihat truk, tumpukan terpal, dan tenda-tenda putih yang dibubuhi tanda salib dan nama sebuah organisasi amal yang belum pernah didengarnya. Ketika ia tahu bahwa mereka sedang membangun rumah sakit darurat untuk penduduk New York yang terkena COVID-19, ia bertanya apakah ia boleh membantu. Selama berminggu-minggu, meski berbeda aliran keyakinan dan politik, ia dan keluarganya membantu semampu mereka. Whitney berkata, “Semua orang yang saya temui sangat baik.” Ia juga kagum saat mengetahui bahwa setiap orang di sana melayani dengan sukarela untuk “menolong kota kami saat kami sangat membutuhkannya.”
Berharap kepada Allah
Menjelang masa libur hari raya, biasanya pengiriman paket sering mengalami penundaan karena pemesanan lewat daring tiba-tiba melonjak. Saya ingat suatu masa ketika keluarga saya memilih pergi ke toko untuk berbelanja karena tahu kami tidak dapat mengandalkan pengiriman lewat pos. Meski demikian, ketika ibu saya berlangganan sebuah akun yang dilengkapi layanan pengiriman yang lebih cepat, ekspektasi itu berubah. Sekarang dengan jaminan pengiriman dua hari, kami terbiasa menerima barang-barang dengan cepat, dan merasa frustrasi jika terjadi keterlambatan.
Ketika Kelemahan Menjadi Kekuatan
Dua tahun lamanya Drew dipenjara karena melayani Tuhan Yesus. Ia pernah membaca kisah-kisah para misionaris yang terus merasakan sukacita selama di penjara, tetapi ia mengaku bahwa bukan itu yang ia rasakan. Ia mengatakan kepada istrinya bahwa Allah telah salah memilih orang untuk menderita bagi-Nya. Namun, sang istri menjawab, “Tidak. Menurutku, Dia justru memilih orang yang tepat. Ini pasti bukan kebetulan.”
Demi Kepentingan Injil
Pada tahun 1916, Nelson baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran di Virginia, Amerika Serikat, tempat kelahirannya. Di tahun yang sama, ia dan istri yang dinikahinya enam bulan sebelumnya, tiba di Tiongkok. Pada usia dua puluh dua tahun, ia menjadi dokter bedah di Love and Mercy Hospital, satu-satunya rumah sakit di daerah yang berpenduduk tidak kurang dari dua juta orang. Nelson dan keluarganya tinggal di sana selama dua puluh empat tahun, memimpin rumah sakit, melakukan tindakan operasi, dan mengabarkan Injil kepada ribuan orang. Nelson Bell semula dijuluki “iblis asing” oleh mereka yang mencurigai orang asing, tetapi ia akhirnya dikenal sebagai “The Bell (Lonceng) yang Mengasihi Orang-orang Tiongkok.” Putrinya, Ruth, kelak menikah dengan penginjil bernama Billy Graham.
Seperti Saudara
Ketika seorang pembimbing retret meminta saya untuk berbicara empat mata dengan Karen, saya menemukan dirinya sedang menangis di ruang konseling. Karen berusia empat puluh dua tahun dan ingin menikah, dan seorang pria menaruh perhatian padanya. Namun, pria ini adalah atasannya sendiri, dan sudah beristri.
Walk On
Walk On adalah memoar menarik dari Ben Malcolmson. Ia seorang siswa yang nyaris tidak memiliki pengalaman bermain futbol dan menjadi seorang “walk on”—pemain yang tidak direkrut—untuk tim Universitas Southern California yang berhasil meraih gelar juara Rose Bowl tahun 2007. Tadinya, sebagai jurnalis di majalah kampus, Malcolmson ingin menulis tentang proses perekrutan pemain yang melelahkan. Tak disangka-sangka, ia berhasil lolos masuk tim.
Mempercayai Petunjuk Arah dari Allah
Saat kami berkendara ke lokasi yang tidak dikenal, suami saya tersadar bahwa GPS kami tiba-tiba menunjukkan arah yang tampaknya keliru. Setelah memasuki jalan bebas hambatan empat jalur yang nyaman, kami disarankan untuk keluar dan menyusuri jalan satu jalur yang sejajar dengan jalan raya. “Aku ikuti saja,” kata suami saya, meski jalan bebas hambatan terlihat lancar-lancar saja. Namun, setelah berkendara kira-kira 16 kilometer jauhnya, lalu lintas di jalan tol di sebelah kami melambat hingga nyaris berhenti total. Apa penyebabnya? Ada sebuah proyek pembangunan. Dan jalan arteri yang kami lewati? Karena lalu lintasnya tidak padat, kami pun tiba di tujuan tanpa hambatan. “Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan,” kata suami saya, “tetapi GPS ini bisa.” Atau, seperti yang kami sepakati, “seperti Allah juga bisa melihatnya.”