Minta Saja!
Tiba-tiba saja, dari rubanah terdengar pekik gembira istri saya, Shirley. Setelah berjam-jam berkutat dengan suatu proyek buletin, ia nyaris menyerah. Dalam kecemasan dan kebimbangan tentang kelanjutan proyek itu, ia pun berdoa meminta pertolongan Allah. Ia juga meminta bantuan teman-temannya di Facebook, dan tak lama kemudian proyek itu selesai—sebagai hasil kerja bersama.
Ketika Butuh Pertolongan
Senin pagi itu, sahabat saya Chia-ming tidak berada di kantor. Ia ada di rumah, sedang membersihkan kamar mandi. Sebulan sudah aku menganggur, pikirnya, dan belum ada tawaran pekerjaan. Perusahaannya gulung tikar karena dampak pandemi COVID-19 dan kekhawatiran akan masa depan membuat Chia-ming gentar. Aku perlu menafkahi keluargaku, pikirnya. Ke mana aku dapat mencari pertolongan?
Titik Pendaratan
Hewan impala, yang termasuk keluarga antelop, dapat melompat hingga ketinggian tiga meter dan sejauh sembilan meter. Kemampuan yang luar biasa ini sangat penting bagi kelangsungan hidup impala di alam liar Afrika. Namun, di banyak kandang impala dalam kebun binatang, Anda akan menemukan hewan ini terkurung di balik dinding setinggi tak sampai satu meter. Bagaimana mungkin dinding serendah itu dapat menahan hewan yang atletis ini? Hal itu mungkin karena impala tak pernah melompat kecuali mereka dapat melihat tempat mendaratnya. Dinding serendah itu dapat menahan impala tetap berada dalam kandang karena hewan ini tak dapat melihat apa yang ada di balik dinding.
Bertumbuh Sepanjang Hidup
“Ada banyak pertanyaan yang dapat dilontarkan seorang seniman muda,” kata Linford Detweiler, penyanyi sekaligus penulis lagu dari duo musik folk eklektik Over the Rhine. “Salah satunya adalah, ‘Apa yang harus kulakukan agar terkenal?’” Detweiler memperingatkan bahwa tujuan seperti itu “mengundang berbagai kekuatan destruktif, dari dalam maupun dari luar.” Detweiler dan istrinya memilih jalur karier musik yang tidak terlalu menyolok, yang membuat mereka dapat “terus bertumbuh di sepanjang hidup”.
Meneruskan Kebenaran
Karena tidak mampu bertemu langsung para cucu dengan risiko terinfeksi, banyak kakek-nenek mencari cara baru agar tetap terhubung selama pandemi COVID-19. Survei terbaru menunjukkan banyak kakek-nenek mulai belajar mengirimkan pesan teks dan membuka akun media sosial untuk menjaga relasi yang berharga dengan cucu-cucu mereka. Sebagian bahkan beribadah bersama keluarga besar melalui panggilan video.
Dua Jenis Rumah
Untuk menguji daya tahan dua jenis rumah, para insinyur memperagakan angin topan Kategori 3 dengan menggunakan kipas-kipas bertenaga besar yang menghasilkan embusan angin berkecepatan 160 kilometer per jam selama sepuluh menit. Rumah pertama dibangun tanpa mengikuti standar tahan badai, sementara rumah kedua dibangun dengan lantai dan atap yang diperkuat. Rumah pertama berguncang hingga akhirnya runtuh, tetapi rumah kedua tetap bertahan tegak dengan hanya sedikit kerusakan di bagian luar. Salah satu insinyur menyimpulkan eksperimen tersebut dengan bertanya, “Rumah manakah yang ingin Anda diami?”
Pengembara yang Bercahaya
Di bawah langit malam pada musim semi tahun 2020, para peselancar menunggangi ombak yang bercahaya sepanjang pantai San Diego. Pertunjukan cahaya ini disebabkan oleh organisme mikroskopik yang disebut fitoplankton, nama yang berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti “pengembara” atau “pengelana”. Pada siang hari, organisme ini menghasilkan perubahan warna air dan menyerap sinar matahari yang berubah menjadi energi kimia. Ketika terusik dalam gelap, fitoplankton akan menghasilkan cahaya listrik berwarna biru.
Sekuat Besi
Hewan kumbang besi dikenal karena lapisan kulit luarnya yang sangat keras, yang melindunginya dari pemangsa. Salah satu jenis kumbang besi bahkan memiliki kekuatan luar biasa saat berada di bawah tekanan. Alih-alih retak, kulit luar yang keras itu justru melentur dan menyatu. Dengan bentuknya yang datar dan rendah, kulit kumbang besi tidak mudah patah. Uji coba yang dilakukan para ilmuwan membuktikan kumbang besi dapat menahan tekanan nyaris 40.000 kali lipat bobot tubuhnya.
Ayah yang Sayang
Setelah Gabriel yang berusia delapan tahun menjalani operasi untuk mengeluarkan tumor dari otaknya, terdapat bekas jahitan yang cukup terlihat pada sisi kepalanya. Waktu bocah itu berkata kepada ayahnya bahwa ia terlihat seperti monster, sang ayah mendapat ide: untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada anak lelakinya itu, ia membuat tato pada sisi kepalanya dengan bentuk yang mirip dengan bekas jahitan di kepala Gabriel.