Category  |  Santapan Rohani

Perjamuan Kudus di Bulan

Ketika Eagle, modul bulan dari Apollo 11, mendarat di area yang disebut Sea of Tranquility pada permukaan bulan tanggal 20 Juli 1969, para penjelajah ruang angkasa mengambil waktu beberapa saat untuk memulihkan diri sebelum menginjak permukaan bulan. Astronot Buzz Aldrin telah mendapat izin untuk membawa roti dan anggur supaya ia dapat melakukan perjamuan kudus. Setelah membaca Alkitab, ia mencicipi makanan pertama yang pernah dimakan manusia di bulan. Di kemudian hari, ia menulis: “Saya menuangkan anggur ke dalam cawan yang diberikan gereja saya. Oleh gravitasi bulan, cairan anggur tersebut bergulung pelan dengan indahnya menaiki dinding cawan.” Lewat perjamuan kudus yang dilakukannya di bulan, Aldrin menyatakan imannya pada pengorbanan Kristus di kayu salib dan jaminan akan kedatangan-Nya yang kedua.

Serahkan Pekerjaan Kita kepada Allah

Saat hendak menulis artikel untuk sebuah majalah yang “bergengsi”, saya bergumul untuk menyajikan artikel terbaik yang dapat diterima oleh redaksinya. Karena tekanan untuk memenuhi standar yang ada, berkali-kali saya menulis ulang isi pikiran dan gagasan saya. Namun, apa masalah saya sebenarnya? Apakah memang soal topik yang menantang? Ataukah kecemasan saya bersifat pribadi? Saya bertanya-tanya dalam hati, akankah redaksi majalah bergengsi itu menyukai saya dan bukan hanya tulisan saya?

Lari dari Dosa

Selama musim panas ini, dua kali badan saya gatal-gatal karena terkena semak beracun. Keduanya terjadi ketika saya sedang mencabuti tanaman liar di kebun kami. Dua kali itu juga saya sudah melihat tumbuhan berdaun tiga yang beracun tersebut mengintai di dekat saya. Saya mengira dapat mendekati tanaman itu tanpa terkena racunnya. Namun, ternyata dugaan saya salah. Daripada berusaha mendekati tumbuhan kecil beracun itu, seharusnya saya langsung lari jauh-jauh!

Kawan dari Sahabat Allah

Perasaan akrab dapat langsung muncul pada perkenalan pertama ketika dua orang mengetahui bahwa ternyata mereka memiliki teman yang sama. Dengan sikap hangat, seorang tuan rumah yang berbesar hati dapat menyambut tamunya sambil berkata, misalnya, “Senang bertemu dengan Anda. Teman Sam, atau Samantha, adalah temanku juga.”

Pemeliharaan Allah

Bersama ibunya, Buddy yang berusia tiga tahun pergi ke gereja setiap minggu untuk membantu menurunkan bahan makanan dari truk yang melayani pembagian makanan. Suatu hari, setelah mendengar ibunya bercerita bahwa truk tersebut rusak, Buddy berkata, “Aduh . . . bagaimana mereka bisa membagi makanan?” Ibunya menjelaskan bahwa gereja harus mengumpulkan uang untuk membeli truk baru. Buddy tersenyum. “Aku punya uang,” katanya, seraya meninggalkan ruangan. Ia kembali dengan membawa stoples plastik berhias stiker warna-warni berisi uang receh, yang berjumlah 38 dolar lebih sedikit. Meski uang Buddy tidak banyak, Allah menggabungkan persembahannya dengan persembahan dari jemaat lain untuk membeli truk pendingin yang baru, sehingga gereja dapat terus melayani komunitas mereka.

Berjalan bersama Orang Lain

Billy, seekor anjing yang lucu dan setia, menjadi terkenal di dunia maya pada tahun 2020. Russell, pemiliknya, mengalami patah pergelangan kaki dan harus menggunakan kruk untuk berjalan. Tak lama kemudian Billy juga mulai berjalan terpincang-pincang setiap kali berjalan bersama pemiliknya. Karena prihatin, Russell membawa Billy ke dokter hewan, tetapi dokter berkata tidak ada masalah apa pun dengan anjing itu! Billy dapat berlari ketika sedang sendirian. Ternyata, anjing tersebut berpura-pura pincang saat berjalan dengan pemiliknya. Itulah gambaran kesungguhan untuk ikut merasakan penderitaan orang lain!

Di Saat Kelam, Berdoalah!

“Saya pernah mengalami masa kelam.” Lima kata itu menggambarkan penderitaan batin seorang pesohor wanita selama pandemi COVID-19. Menyesuaikan diri dengan kenormalan yang baru adalah salah satu tantangan yang dihadapinya, dan di tengah pergumulannya itu, ia mengaku bergulat dengan niat bunuh diri. Namun, upayanya untuk keluar dari situasi yang menjerumuskan itu terbantu ketika ia menceritakan pergumulannya kepada seorang teman yang mempedulikannya.

Di Balik Salib

Pada pertengahan abad ke-20, di wilayah India tengah pernah terjadi ketegangan antara orang-orang non-Kristen dan umat Kristen. Seorang pemuda disuruh memanjat gedung setinggi tiga tingkat dan mencabut salib dari atapnya. Namun, bukan saja tidak berhasil, ia juga terjatuh dari atap ke jalan di bawahnya dan terluka parah. Ketika dibawa ke rumah sakit, ia ditempatkan di sebuah kasur lipat bersebelahan dengan seorang pasien Kristen.

Tindakan Drastis

Sebuah hiasan busur dan tempat anak panah telah bertahun-tahun tergantung pada dinding rumah kami di Michigan. Ayah saya, yang mendapatkannya sebagai kenang-kenangan ketika kami melayani sebagai misionaris di Ghana, mewariskannya kepada saya.