Prediksi yang Salah
Pada tahun 1854, seorang perwira artileri Rusia yang masih muda menyaksikan pembantaian yang terjadi jauh di bawah pos jaganya yang terletak di puncak bukit. “Ini semacam kesenangan yang aneh,” tulis Leo Tolstoy, “melihat orang saling membunuh. Namun, tetap saja setiap pagi dan malam, aku . . . menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyaksikannya.”
Iman yang Berapi-api
Suhu di tempat kami tinggal di Colorado bisa cepat berubah—bahkan kadang-kadang dalam hitungan menit. Karena itu, suami saya, Dan, merasa penasaran dengan perbedaan suhu di dalam dan luar rumah. Sebagai penggemar gawai, ia sangat bersemangat menggunakan “mainan” terbarunya—suatu termometer yang dapat memantau suhu dari empat “zona” di rumah kami. Awalnya saya menganggap gawai itu hanya main-main, tetapi kemudian saya sendiri jadi sering menggunakannya. Mengetahui perbedaan suhu di dalam dan luar rumah kami benar-benar membuat saya takjub.
Melarikan Diri
Pelajaran pertama dalam aikido, seni bela diri tradisional Jepang, sungguh tak terduga. Sensei, atau guru kami, berkata bahwa ketika ada ancaman serangan, reaksi pertama kita haruslah “melarikan diri”. “Jika benar-benar tidak bisa melarikan diri, barulah kamu bertarung,” kata beliau dengan serius.
Pemberian yang Murah Hati
Jenderal Charles Gordon (1833–1885) mengabdi kepada Kerajaan Inggris dalam dinas ketentaraannya di Tiongkok dan tempat-tempat lain. Ketika tinggal di Inggris, ia pernah menyumbangkan 90 persen pendapatannya. Saat mendengar terjadinya bencana kelaparan di Lancashire, ia menggores tulisan dari medali emas murni yang diterimanya dari seorang pemimpin dunia, lalu mengirimkannya ke sana dengan pesan agar mereka meleburnya dan menggunakan uangnya untuk membeli roti bagi orang miskin. Hari itu ia menulis dalam buku hariannya: “Harta duniawi terakhirku yang berharga di dunia ini telah kuserahkan kepada Tuhan Yesus.”
Pada Akhirnya
Saya sering diberi kesempatan istimewa untuk memimpin suatu retret rohani. Menyepi selama beberapa hari untuk berdoa dan melakukan refleksi dapat menjadi pengalaman yang memperkaya iman. Pada acara retret seperti itu, adakalanya saya meminta para peserta melakukan latihan ini: “Bayangkan hidup Anda telah berakhir dan berita kematian Anda dimuat di surat kabar. Apa yang Anda inginkan tertulis dalam berita itu?” Sebagai respons terhadap pertanyaan tersebut, sejumlah peserta retret mengubah prioritas hidup mereka, dengan tekad untuk mencapai garis akhir hidup mereka dengan baik.
Sesuatu yang Kuat dan Menyatukan
Amina, seorang imigran asal Irak, dan Joseph, seorang warga negara Amerika Serikat sejak lahir, berada dalam kubu yang berseberangan pada sebuah unjuk rasa politik. Kita sudah dididik untuk meyakini bahwa orang-orang yang berbeda etnik dan pandangan politik umumnya saling bermusuhan dengan sengit. Namun, ketika sekelompok orang mendekati Joseph untuk membakar baju yang dikenakannya, Amina bergegas menghampiri dan membelanya. “Saya rasa, sebagai manusia, kami sangat jauh berbeda,” kata Joseph kepada seorang wartawan, “meski demikian, pada saat itu kami sama-sama merasa ‘ini tidak bisa dibenarkan’.” Amina dan Joseph disatukan oleh sesuatu yang lebih kuat daripada politik.
Buah yang Menjual Pohonnya
Seorang pemilik kebun bibit sedang ingin menjual pohon persiknya. Ia memikirkan berbagai cara yang tepat untuk menjualnya. Apakah sebaiknya ia memajang anakan-anakan pohon berdaun lebat dalam wadah karung goni dan menatanya dengan indah? Atau ia perlu menyusun katalog berwarna yang menampilkan pertumbuhan pohon persik dari musim ke musim? Akhirnya ia sadar bahwa hal yang paling menjual dari pohon persik adalah buah yang dihasilkannya: buah berwarna jingga tua yang berbulu halus dan beraroma manis. Cara terbaik menjual pohon persik adalah dengan memetik buahnya yang ranum, membelahnya sampai sari buahnya menetes di lengan, lalu memberikan seiris kepada calon pembeli. Setelah mencicipi buahnya, mereka akan tertarik untuk membeli pohonnya.
Disegarkan di Rumah Simon
Kunjungan saya ke rumah Simon sungguh tak terlupakan. Di bawah langit bertabur bintang di Nyahururu, Kenya, kami memasuki rumahnya yang sederhana untuk makan malam. Lantai tanah dan penerangan dari lentera menggambarkan kehidupan Simon yang serba sederhana. Saya sendiri tidak ingat apa yang dihidangkan malam itu. Namun, saya takkan melupakan sukacita Simon atas kunjungan kami. Kasih dan keramahtamahannya begitu serupa dengan Yesus—tanpa pamrih, menyentuh hati, dan menyegarkan.
Makanan dari Surga
Pada bulan Agustus 2020, penduduk kota Olten di Swiss dikejutkan oleh turunnya hujan cokelat! Rusaknya sistem ventilasi di sebuah pabrik cokelat setempat telah menyebabkan partikel-partikel cokelat berhamburan di udara. Alhasil, serpihan-serpihan cokelat yang dapat dimakan menyelimuti mobil-mobil dan jalanan, sehingga seluruh kota beraroma seperti toko permen.