Category  |  Santapan Rohani

Pertarungan Bunga Matahari

Ketika menanam bunga matahari setiap musim semi, saya berharap dapat menikmati keindahan bunganya di musim panas berikutnya. Namun, rusa-rusa yang hidup di lingkungan kami punya niat yang berbeda dan tidak peduli pada hasil akhirnya. Yang mereka inginkan hanyalah mengunyah habis batang dan daun bunga matahari. Pertarungan tahunan pun terjadi ketika saya berusaha mempertahankan bunga matahari itu dapat tumbuh dewasa sebelum rusa-rusa melahapnya. Terkadang saya yang menang; tetapi tak jarang rusa-rusa itu juga menang.

Betapa Besarnya Allah Kita!

Meski telah lama digunakan untuk mengidentifikasi seseorang, sidik jari masih dapat dipalsukan dengan membuat salinannya. Demikian pula, pola iris pada mata manusia adalah sumber yang dapat diandalkan untuk mengenali identitas seseorang. Namun, ada pihak-pihak yang sengaja mengubah polanya dengan lensa kontak untuk mengacaukan hasilnya. Penggunaan biometri untuk mengidentifikasi individu pun dapat diakali. Jadi, apa yang memenuhi syarat sebagai pengidentifikasi yang unik? Ternyata pola pembuluh darah setiap orang itu unik dan hampir tidak mungkin dipalsukan. “Peta vena” pada diri Anda adalah pengidentifikasi unik, yang membedakan Anda dari siapa pun juga di muka bumi ini.

Seperti Kasih Ibu

Juanita bercerita kepada keponakannya tentang pengalamannya tumbuh dewasa selama masa Depresi Besar. Keluarganya yang miskin hanya makan apel, ditambah apa pun hasil buruan ayahnya. Setiap kali ayahnya membawa seekor tupai untuk makan malam, ibunya berkata, “Berikan kepalanya untukku. Aku cuma ingin makan itu. Daging kepala itu bagian yang terbaik.” Bertahun-tahun kemudian Juanita baru menyadari, tidak ada daging pada kepala tupai. Ibunya tidak memakannya. Ia hanya berpura-pura itu bagian terbaik “agar kami, anak-anak, bisa makan lebih banyak dan tidak usah mengkhawatirkan dirinya.”

Dia Tahu

Lea akan berangkat bekerja sebagai perawat di Taiwan. Dengan bekerja di sana, ia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dengan lebih baik daripada di kota Manila yang sangat terbatas dalam menawarkan kesempatan kerja. Pada malam sebelum keberangkatannya, ia berpesan kepada saudara perempuannya yang akan mengasuh putrinya yang baru berusia lima tahun. “Ia mau minum vitamin asal diberi sesendok selai kacang,” ujar Lea. “Dan jangan lupa, ia pemalu, pelan-pelan ia pasti mau bermain bersama sepupu-sepupunya. Ia juga takut gelap . . .”

Bapa Kami

Hampir setiap pagi saya mengucapkan Doa Bapa Kami. Saya merasa belum siap menyambut hari yang baru sampai saya menghayati kata-kata dalam doa tersebut. Baru-baru ini, ponsel saya berdering ketika saya baru mengucapkan dua kata pertama—“Bapa kami”. Saya terkejut karena jam baru menunjukkan pukul 05.43. Siapa yang menelepon sepagi ini? Di layar ponsel muncul tulisan “Bapak”. Sebelum sempat mengangkatnya, telepon saya sudah berhenti berdering. Saya rasa ayah saya tadi salah pencet. Ternyata memang begitu. Apa itu hanya kebetulan? Bisa saja, tetapi saya percaya kita hidup dalam dunia yang diliputi belas kasihan Allah. Hari itu saya memang sedang membutuhkan kepastian hadirnya Bapa di surga.

Hati yang Melayani

Sebuah pelayanan di Carlsbad, New Mexico, mendukung komunitas lokal dengan menyumbangkan lebih dari dua belas ton makanan gratis kepada warga setempat setiap bulannya. Pemimpin pelayanan tersebut menyatakan, “Semua orang boleh datang, karena kami menerima mereka dan melayani apa yang mereka butuhkan. Tujuan kami adalah . . . memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari supaya kami dapat menjawab kebutuhan spiritual mereka.” Sebagai orang percaya, Allah ingin kita menggunakan karunia dan berkat yang diberikan-Nya kepada kita untuk memberkati orang lain, supaya komunitas kita bisa lebih mengenal-Nya. Bagaimana kita dapat mengembangkan hati yang melayani, yang memuliakan Allah?

Merindukan Rumah

Anne, karakter utama dalam novel Anne of Green Gables, ingin sekali memiliki keluarga. Sebagai yatim piatu, ia tak lagi berharap akan menemukan tempat yang akan menjadi rumahnya. Namun, kemudian seorang lelaki tua bernama Matthew Cuthbert dan adiknya Marilla bersedia menerima Anne di rumah mereka. Dalam perjalanan ke rumah mereka, Anne meminta maaf karena terlalu banyak bicara. Akan tetapi, Matthew yang pendiam berkata, “Kamu boleh bicara sesukamu, aku tidak keberatan.” Anne senang sekali mendengarnya. Ia sempat merasa tidak seorang pun menginginkannya, apalagi mendengarkan ia bicara. Sesampainya di rumah, ia kecewa ketika anak-anak Matthew dan Marilla yang lain mengira mereka mendapatkan anak laki-laki untuk membantu di kebun. Anne takut sekali akan dipulangkan ke panti, tetapi kemudian kerinduan Anne untuk memiliki rumah yang penuh kehangatan terpenuhi ketika ia diterima sebagai bagian dari keluarga Cuthbert.

Bapa Segala Dusta

Lama-lama Victor kecanduan pornografi. Banyak temannya menyukai pornografi, dan akhirnya ia terjerumus juga. Namun, sekarang ia mengerti kalau itu salah—ia berdosa terhadap Allah—dan kebiasaan itu melukai hati istrinya. Ia berjanji akan menjaga hidupnya sehingga ia tidak akan melihat hal-hal cabul lagi. Namun, ia khawatir tindakan itu sudah terlambat. Dapatkah pernikahannya diselamatkan? Mungkinkah ia kembali bebas dan sepenuhnya diampuni?

Jadilah Terang

Ketika putri saya masih sangat kecil, saya sering menyebutkan nama benda-benda yang ia temukan. Biasanya saya memperkenalkan sebuah benda atau membiarkan ia menyentuh sesuatu yang belum pernah ia kenal, dan memberitahukan nama benda itu agar ia mengerti dan menambah kosakata tentang dunia yang dijelajahinya. Saya dan suami pernah berharap kata pertama yang ia ucapkan adalah Mama atau Papa, tetapi ia mengejutkan kami dengan satu kata yang sama sekali tidak terduga. Bibirnya yang mungil menyebut kata telang, versi cadel dari kata terang yang baru saya ajarkan padanya.