Category  |  Santapan Rohani

Bayi Natal

Bayangkanlah Dia yang menumbuhkan pohon aras dari benih, memulai hidup-Nya kembali sebagai janin. Dia yang menciptakan bintang-bintang, menyerahkan diri-Nya ke dalam kandungan seorang perempuan. Dia yang menguasai surga, menjadi sesuatu yang pada zaman sekarang hanyalah titik-titik kecil di layar ultrasonografi. Walau dalam rupa Allah, Yesus telah mengosongkan diri-Nya sendiri (Flp. 2:6-7). Sungguh pemikiran yang menakjubkan!

Raja Damai

Ketika flu yang diderita John memburuk jadi radang paru-paru, ia pun harus dirawat di rumah sakit. Saat itu, di rumah sakit yang sama, ibunya juga dirawat karena kanker. Hati John begitu diliputi kekhawatiran tentang sang ibu dan kesehatannya sendiri. Pada suatu malam Natal, saat radio memutar lagu Malam Kudus, John diliputi perasaan damai yang mendalam dari Allah. Ia menyimak lirik lagu yang bercerita tentang kelahiran Sang Juruselamat: “Yang susah penat bersukacitalah, kar’na Raja mulia lahirlah!” Saat itu juga, kekhawatiran tentang dirinya dan ibunya pun sirna.

Dikenal Sebagai Pengikut Yesus

“The Gathering” adalah sebuah gereja interdenominasi dan internasional di Thailand utara. Pada hari Minggu baru-baru ini, orang-orang percaya dari Korea, Ghana, Pakistan, Tiongkok, Bangladesh, Amerika Serikat, Filipina, dan negara-negara lain berkumpul dalam sebuah ruang konferensi hotel yang sederhana. Mereka menyanyikan pujian In Christ Alone dan I Am a Child of God dengan lirik-lirik yang sangat menyentuh dalam kondisi tersebut.

Kehadiran Virtual

Ketika virus corona menyebar ke seluruh dunia, para ahli kesehatan menyarankan agar kita menjaga jarak untuk memperlambat penyebaran. Banyak negara meminta warganya melakukan isolasi mandiri atau mengungsi ke tempat isolasi yang aman. Para karyawan diharuskan bekerja dari rumah sebisa mungkin, sementara yang lain bergumul dengan masalah finansial karena kehilangan pekerjaan. Seperti banyak orang lain, saya beribadah dan melakukan pertemuan kelompok kecil melalui platform digital. Sebagai warga dunia, kita mempraktikkan bentuk-bentuk kebersamaan yang baru, meski tidak bertemu secara fisik.

Kompas Milik Allah

Pada Perang Dunia II, Waldemar Semenov bertugas sebagai insinyur junior di kapal SS Alcoa Guide. Suatu hari, kapal selam Jerman muncul dan menembaki kapalnya dalam posisi kira-kira 483 km dari perairan Carolina Utara. Alcoa Guide terkena tembakan, terbakar, lalu tenggelam. Semenov dan krunya menurunkan sekoci, dan dengan petunjuk kompas berlayar menuju jalur lalu lintas kapal. Tiga hari kemudian, pesawat patroli melihat sekoci mereka dan kapal USS Broome mengevakuasi mereka keesokan harinya. Berkat kompas tersebut, Semenov dan dua puluh enak awak kapal lainnya diselamatkan.

Jangan Takut

Linus, karakter dalam komik Peanuts, dikenal dengan selimut biru yang ia percaya akan melindunginya. Ia membawa selimut itu ke mana-mana dan tidak malu dengan kelakuannya. Kakaknya, Lucy, sangat kesal dengan selimut itu dan sering kali mencoba membuangnya. Ia menguburnya, menjadikannya layang-layang, dan memakainya untuk pameran sains. Linus sendiri tahu ia seharusnya tidak boleh terikat dengan selimutnya, dan sesekali meninggalkan selimut itu, tetapi selalu saja gagal.

Diingat dalam Doa

Dalam sebuah gereja besar di Afrika, seorang pendeta berlutut dan berseru kepada Allah, “Ingatlah kami!” Ketika pendeta itu memohon, jemaatnya membalas dengan berseru, “Ingatlah kami, ya Tuhan!” Ketika menyaksikannya di YouTube, tanpa terasa air mata saya menitik. Seruan doa ini direkam beberapa bulan sebelumnya. Namun, video tersebut membawa saya kembali kepada kenangan masa kecil ketika pendeta keluarga kami menyerukan doa yang sama. “Ingatlah kami, ya Tuhan!”

Itu Sangat Baik!

Sekolah tempat putra saya, Brian, melatih futbol, kalah dalam perebutan juara wilayah lewat suatu pertandingan yang sengit. Lawan mereka tidak pernah kalah dalam dua tahun terakhir. Saya mengirim pesan singkat kepada Brian untuk menunjukkan simpati dan menerima jawaban pendek darinya: “Mereka sudah habis-habisan!”

Hancur dengan Indah

Bus kami akhirnya tiba di tujuan yang sudah dinantikan—suatu area penggalian arkeologi di Israel tempat kami akan melakukan penggalian kami sendiri. Pimpinan area itu menjelaskan, benda apa pun yang mungkin kami temukan, semua itu sudah ribuan tahun tidak tersentuh. Saat menggali pecahan tembikar yang terkubur dalam tanah, kami merasa seolah-olah bersentuhan dengan sejarah. Setelah beberapa saat, kami diantar ke bengkel kerja tempat pecahan-pecahan tersebut—dari vas-vas besar yang pecah ribuan tahun lalu—disusun kembali.