Nama yang Sempurna
Pada suatu hari yang panas dan lembap di bulan Agustus, istri saya melahirkan putra kedua kami. Namun, hingga berhari-hari kemudian ia belum diberi nama, karena kami masih mencari-cari nama yang cocok. Setelah berjam-jam mendiskusikannya sambil menikmati es krim dan jalan-jalan naik mobil, kami belum juga memutuskan nama yang tepat. Setelah selama tiga hari hanya disebut sebagai “Bayi Williams”, akhirnya kami menamainya Micah.
Memberi dengan Sukacita
Nicholas, yang lahir pada abad ketiga, tidak tahu bahwa berabad-abad setelah kematiannya, ia akan dikenal sebagai Sinterklas. Ia hanyalah orang biasa yang mengasihi Allah dan dengan tulus memperhatikan orang lain. Ia dikenal murah hati dan selalu memberi dengan sukacita. Ia juga banyak melakukan perbuatan baik. Konon, jika mendengar ada keluarga yang mengalami kesulitan keuangan, Nicholas mendatangi rumah mereka pada malam hari dan melemparkan sekantong emas melalui jendela yang terbuka. Emas itu mendarat di dalam sepatu atau stoking yang dihangatkan di dekat perapian.
Menggambarkan Kitab Suci
Ubin keramik biru-putih bermotif yang sering ditemukan di rumah-rumah di Belanda, awalnya dibuat di Delft. Ubin ini berlukiskan pemandangan khas Belanda: alam yang indah, kincir angin, dan orang-orang yang bekerja serta bermain.
Generasi Zaman Sekarang
“Jangan pernah mempercayai siapa pun yang berusia lebih dari tiga puluh tahun,” kata aktivis lingkungan Jack Weinberg pada tahun 1964. Komentarnya menjadi stereotip seluruh generasi; sesuatu yang akhirnya disesali Weinberg. Saat mengingatnya lagi, Weinberg berkata, “Perkataan yang saya lontarkan tanpa berpikir itu . . . akhirnya dibelokkan dan disalahpahami.”
Identitas yang Benar
Seorang teman mengamati foto-fotonya hasil jepretan saya, lalu menunjuk bagian-bagian tubuh yang dianggapnya tidak sempurna. Saya memintanya untuk melihat lebih dekat lagi. “Aku melihat putri cantik kesayangan Raja segala Raja yang Mahakuasa,” kata saya. “Aku melihat sosok seseorang yang sangat mengasihi Allah dan sesama, yang kebaikan, kemurahan, dan kesetiaannya yang tulus telah memberi dampak dalam hidup begitu banyak orang.” Ketika melihat air mata menggenang di matanya, saya berkata, “Kurasa kamu butuh mahkota!” Sore itu kami memilih mahkota yang sempurna untuk teman saya agar ia tidak pernah melupakan identitas sejatinya.
Merayakan Keberagaman
Pada acara wisuda sebuah SMA di tahun 2019, 608 siswa-siswi bersiap menerima ijazah mereka. Kepala Sekolah menyuruh murid-murid berdiri saat ia membacakan nama negara tempat mereka dilahirkan: Afghanistan, Bolivia, Bosnia . . . Kepala Sekolah terus membacakan enam puluh nama negara dan semua murid berdiri serta bersorak bersama. Enam puluh negara; satu sekolah.
Kita Membutuhkan Komunitas Gereja
Saya anak pertama seorang pendeta Gereja Baptis Selatan. Sudah jelas apa yang diharapkan dari saya setiap hari Minggu: saya harus ke gereja. Perkecualiannya? Mungkin kalau saya demam. Namun, terus terang saja, saya senang ke gereja, bahkan meskipun sedang demam. Namun, dunia berubah, dan jumlah jemaat yang rutin datang ke gereja tidak seperti dulu lagi. Tentu saja pertanyaannya, mengapa demikian? Jawabannya banyak dan beragam. Penulis Kathleen Norris menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang diterimanya dari seorang pendeta. Ketika ditanya, ”Mengapa kita pergi ke gereja?” pendeta itu menjawab, “Kita pergi ke gereja untuk orang lain, karena mungkin saja seseorang membutuhkan Anda di gereja.”
Terang yang Besar
Pada tahun 2018 di Thailand, dua belas anak laki-laki dan pelatih sepak bola mereka masuk ke dalam gua yang berlika-liku, dengan maksud untuk menikmati petualangan di sore hari. Karena air pasang yang tidak terduga menggenangi gua itu, mereka terpaksa masuk semakin dalam dan tidak bisa keluar lagi. Dibutuhkan waktu dua setengah minggu untuk menyelamatkan mereka. Meski dirintangi permukaan air yang tinggi, regu penyelam terus berusaha menyelamatkan mereka, sementara anak-anak itu duduk di atas batu dengan hanya diterangi enam senter yang sekarat. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam dalam gelap, sambil berharap terang—dan bantuan—akan datang.
Tetap Beriman Meski Ditentang
Esther dibesarkan di sebuah suku di Filipina yang menentang iman Kristen. Ketika sedang berjuang melawan penyakit yang mengancam nyawa, Esther menerima keselamatan dalam Tuhan Yesus lewat doa bibinya. Hari ini, Esther melayani dengan memimpin kelas pendalaman Alkitab di komunitas lokalnya di tengah sejumlah ancaman kekerasan dan pembunuhan terhadapnya. Ia masih melayani dengan penuh sukacita, dan berkata, “Aku tidak bisa berhenti memberi tahu orang tentang Yesus karena aku sudah mengalami sendiri kuasa, kasih, kebaikan, dan kesetiaan Allah dalam hidupku.”