Category  |  Santapan Rohani

Bunyikan Belnya

Setelah tiga puluh kali menjalani terapi radiasi, Darla akhirnya dinyatakan bebas dari kanker. Sebagai bagian dari tradisi rumah sakit, seorang penyintas kanker akan membunyikan “lonceng bebas kanker” yang menandai berakhirnya pengobatan dan merayakan pemulihan kesehatannya. Darla pun tidak ketinggalan. Namun, saking semangat dan antusiasnya, Darla membunyikan lonceng itu sampai-sampai talinya terlepas! Gelak tawa pun membahana.

Memaknai Musim

Leisa ingin memaknai musim gugur dengan caranya sendiri. Kebanyakan dekorasi musim gugur yang dilihatnya seolah-olah merayakan kematian, terkadang dengan cara-cara yang menakutkan dan mengerikan.

Panggilan Baru

Casey, seorang pemimpin geng remaja dan para pengikutnya kerap membobol rumah dan mobil, merampok toko kelontong, dan berkelahi dengan geng-geng lain. Akhirnya, Casey ditangkap dan dihukum. Di dalam penjara, ia didaulat menjadi orang yang membagi-bagikan pisau buatan para narapidana bila terjadi keributan di penjara.

Allah Bernyanyi Karena Kita

Tujuh belas bulan setelah anak pertama kami—laki-laki—lahir, istri saya melahirkan seorang anak perempuan. Rasa senang saya karena memiliki anak perempuan bercampur dengan perasaan kikuk, karena saya sudah terbiasa dengan anak laki-laki dan tidak begitu paham cara membesarkan anak perempuan. Kami memberinya nama Sarah, dan salah satu sukacita saya adalah meninabobokannya sampai tertidur supaya istri saya bisa beristirahat. Entah mengapa, ketika saya mulai mencoba meninabobokannya, saya memilih lagu “You Are My Sunshine” (Kaulah Cahaya Matahariku). Entah ketika saya menimangnya atau berdiri di samping tempat tidurnya, saya pasti bernyanyi karena kehadirannya, dan saya sangat menikmatinya. Sekarang putri saya sudah berumur dua puluhan tahun, tetapi saya masih memanggilnya Sunshine.

Apakah Allah Mendengar?

Ketika saya melayani dalam tim pemerhati jemaat, salah satu tugas saya adalah mendoakan berbagai permohonan yang ditulis jemaat pada kartu-kartu doa selama kebaktian. Mendoakan kesehatan seorang bibi. Mendoakan keuangan sepasang suami-istri. Mendoakan seorang cucu agar ia mengenal Tuhan. Jarang sekali saya mendengar hasil dari doa-doa tersebut. Kebanyakan permohonan doa ditulis tanpa nama, sehingga saya tidak bisa tahu bagaimana tanggapan Allah terhadap doa-doa tersebut. Harus diakui, terkadang saya bertanya-tanya, Apakah Allah benar-benar mendengar? Adakah sesuatu yang terjadi sebagai hasil dari doa-doa saya?

Maksud dari Penderitaan

“Jadi, maksud Anda, belum tentu saya yang bersalah?” Perkataan wanita itu mengejutkan saya. Saya baru saja menjadi pembicara tamu di gerejanya, dan kami sedang membahas materi yang saya bagikan pagi itu. “Saya mengidap penyakit kronis,” kata wanita itu, “dan saya sudah berdoa, berpuasa, mengaku dosa, dan melakukan semua yang disuruh supaya saya bisa sembuh. Tetapi saya masih saja sakit, jadi saya pikir, ini semua pasti salah saya.”

Dikuduskan

Taksi roda tiga di Sri Lanka, yang disebut “tuk tuk,” merupakan moda transportasi yang praktis dan menyenangkan bagi banyak orang. Lorraine, seorang warga Kolombo, ibukota Sri Lanka, menyadari bahwa kendaraan tersebut juga merupakan ladang misi. Suatu hari ketika ia naik tuk tuk, Lorraine bertemu dengan pengemudi yang ramah dan senang mengobrol tentang agama. Lorraine pun mengingatkan dirinya sendiri, lain kali ia akan membagikan Injil kepada pengemudi tersebut.

Ujian

Pertama kalinya saya membawa anak-anak lelaki saya mendaki Colorado Fourteener—gunung dengan ketinggian kurang lebih 14.000 kaki (4.267 m)—mereka merasa gugup. Mampukah mereka mendakinya? Mampukah mereka menerima tantangan ini? Anak bungsu saya berhenti beberapa kali di jalur pendakian untuk beristirahat. “Ayah, aku tidak sanggup lagi,” katanya berulang kali. Namun, saya yakin ujian ini baik bagi mereka, dan saya ingin mereka percaya kepada saya. Satu setengah kilometer sebelum tiba di puncak, anak saya, yang tadinya bersikeras menyatakan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi, tiba-tiba kembali mendapat suntikan tenaga dan mendahului kami sampai ke puncak. Ia sangat senang telah mempercayai saya, bahkan di tengah rasa takutnya.

Bicara, Percaya, Merasa

“Jangan bicara, jangan percaya, jangan merasa adalah aturan yang harus kami taati, dan celakalah orang yang melanggarnya,” kata Frederick Buechner dalam memoarnya yang luar biasa, Telling Secrets. Buechner sedang menerangkan pengalaman pribadinya tentang apa yang disebutnya sebagai “aturan tak tertulis dalam keluarga yang karena satu dan lain hal menjadi kacau balau.” Dalam keluarganya sendiri, “aturan” seperti itu membuat Buechner tidak boleh membicarakan atau menangisi ayahnya yang meninggal karena bunuh diri, sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi tempat baginya berbagi derita.