Category  |  Santapan Rohani

Perkataan yang Benar

Dalam satu-dua tahun terakhir ini, sejumlah penulis mendorong orang-orang Kristen untuk meninjau kembali “kosa kata” yang dipakai dalam lingkungan iman kita. Seorang penulis, contohnya, menekankan bahwa kosa kata yang kaya makna secara teologis sekalipun dapat kehilangan dampaknya. Karena telah terbiasa dan terlalu sering digunakan, kata-kata tersebut tidak lagi membuat kita mengagumi kedalaman Injil dan kebutuhan kita akan Allah. Ketika itu terjadi, si penulis menyarankan, mungkin kita perlu mempelajari ulang bahasa iman kita “dari nol”, dengan melepaskan asumsi yang ada sampai kita dapat melihat kembali keindahan Injil untuk pertama kalinya.

Berat tetapi Tetap Berharap

Dalam komik Peanuts, tokoh Lucy yang sangat rajin digambarkan memasang iklan yang menawarkan “bantuan kejiwaan” dengan tarif lima sen. Linus datang ke tempat Lucy dan mengeluhkan dirinya sedang “depresi berat.” Ketika Linus bertanya apa yang dapat ia lakukan untuk mengatasi masalahnya, Lucy berujar, “Tinggalkan saja depresimu! Nah, mana uang lima sennya?”

Siapa yang Kau Kenal

Pada awal tahun 2019, Charlie VanderMeer tutup usia dalam umur delapan puluh empat tahun. Selama beberapa dekade, ia dikenal ribuan orang sebagai Paman Charlie, pembawa acara radio nasional Children’s Bible Hour (Satu Jam Belajar Alkitab bersama Anak). Sehari sebelum berpulang ke surga, Uncle Charlie sempat berkata kepada sahabatnya, “Yang penting bukanlah apa yang kau tahu, tetapi siapa yang kau kenal. Tentu yang kumaksud adalah Yesus Kristus.”

Api yang Berkobar

Ketika dua petugas pemadam kebakaran yang kelelahan dan berlumuran jelaga mampir di sebuah restoran untuk sarapan, seorang pramusaji mengenali mereka dari siaran berita yang baru saja ditontonnya dan menyadari bahwa keduanya baru saja bertugas semalaman memadamkan api yang membakar sebuah gudang. Untuk menunjukkan penghargaannya kepada mereka, pramusaji itu menulis pada kertas tanda terima, “Sarapannya sudah saya bayar. Terima kasih . . . untuk pelayanan Anda berdua yang dengan gagah berani masuk ke tempat-tempat yang dijauhi orang . . . Api yang berkobar tak menciutkan keberanian Anda berdua, dan itu sungguh patut diteladani.”

Ajaran Yesus yang Tidak Populer

Selama lima belas tahun, Mike Burden menyelenggarakan pertemuan-pertemuan yang sarat kebencian di toko kenang-kenangan yang ia kelola di sebuah kota kecil. Namun, ketika pada tahun 2012 istrinya mulai mempertanyakan keterlibatannya, hatinya melunak. Ia pun memutuskan untuk berubah setelah menyadari betapa salahnya pandangan rasialis yang selama ini dipegangnya. Kelompok militan yang selama ini bertemu di tempat Mike membalas dengan mengusir keluarganya dari apartemen yang mereka sewa dari salah seorang anggotanya.

Yang Tidak Bisa Dilihat

Sejarawan mengatakan bahwa Zaman Atom dimulai pada tanggal 16 Juli 1945 ketika bom nuklir pertama diledakkan di tengah gurun terpencil di New Mexico. Namun, filsuf Yunani Demokritos (±460–370 SM) sudah  meneliti keberadaan dan kekuatan atom jauh sebelum ada penemuan apa pun yang dapat memampukan orang melihat bagian terkecil penyusun alam semesta itu. Karena memahami lebih daripada yang bisa dilihatnya, Demokritos pun menghasilkan teori tentang atom.

Diam di dalam Hati Kita

Terkadang perkataan anak kecil dapat mengagetkan kita dan membawa kita kepada pengertian yang lebih mendalam tentang kebenaran Allah. Suatu malam ketika anak perempuan saya masih kecil, saya menceritakan kepadanya salah satu rahasia besar dari iman Kristen—bahwa Allah melalui Anak dan Roh Kudus-Nya tinggal di dalam diri anak-anak-Nya. Ketika saya menidurkannya, saya berkata bahwa Yesus hadir bersamanya dan di dalam dirinya. “Jadi Dia ada dalam perutku?” tanya anak saya, “Kamu tidak menelan-Nya sih,” jawab saya. “Tetapi Dia benar-benar berada di dalam dirimu.”

Susu Terlebih Dahulu

Pada abad ketujuh, daerah-daerah yang sekarang membentuk Kerajaan Inggris merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang. Ketika Raja Oswald dari Northumbria percaya kepada Tuhan Yesus, ia memanggil seorang misionaris untuk mengabarkan Injil ke tengah wilayah kekuasaannya. Diutuslah seseorang bernama Corman, tetapi pelayanannya tidak berjalan baik. Ia mendapati orang Inggris itu “keras kepala”, “biadab”, dan tidak tertarik pada khotbahnya. Ia pun pulang dengan perasaan frustrasi.

Bekerja Bersama

Joe bekerja lebih dari dua belas jam sehari, sering kali tanpa istirahat. Memulai sebuah badan amal telah menuntut begitu banyak waktu dan energi sehingga tidak banyak yang bisa ia lakukan bersama istri dan anak-anaknya ketika ia pulang. Setelah Joe dirawat di rumah sakit karena menderita stres kronis, seorang teman menawarkan diri untuk membentuk sebuah tim untuk membantunya. Meski enggan melepaskan kendalinya, Joe tahu ia tidak bisa terus bekerja gila-gilaan seperti itu. Ia pun setuju untuk mempercayai temannya—dan juga Allah—dengan melimpahkan sejumlah wewenang kepada sekelompok orang yang mereka pilih bersama. Setahun kemudian, Joe sendiri mengakui bahwa badan amal itu, dan juga keluarganya, mungkin tidak akan bertahan seandainya ia menolak pertolongan yang dikirimkan Allah kepadanya.