Investasi Iman
Pada hari Natalnya yang kedua belas, seorang anak lelaki dengan bersemangat menunggu saatnya membuka hadiah-hadiah yang diletakkan di bawah pohon Natal. Ia ingin sekali mendapat sepeda baru, tetapi harapannya pupus—hadiah terakhir yang ia buka adalah sebuah kamus. Pada halaman pertamanya tertulis pesan, “Untuk Charles dari Ibu dan Ayah, 1958. Teriring kasih dan harapan besar untuk keberhasilanmu di sekolah.”
Menantikan Berkat
Sebuah restoran yang terkenal di Bangkok, menyajikan sup dengan kuah kaldu yang sudah direbus selama empat puluh lima tahun dan isinya ditambahkan sedikit-sedikit setiap hari. Sama seperti beberapa makanan “sisa” yang terasa lebih enak setelah disimpan beberapa hari, waktu memasak yang panjang itu memadukan dan menciptakan rasa yang unik. Restoran itu pun telah meraih sejumlah penghargaan untuk kategori kaldu terlezat di Thailand.
Dipangkas agar Semakin Berbuah
Ketika memperhatikan seekor lebah hinggap pada tanaman Russian sage, saya dibuat kagum oleh rimbunnya daun dan bunga-bunga yang berwarna ungu terang. Warna bunga itu memikat mata saya dan juga memikat lebah. Namun, pada musim gugur lalu, saya sempat mengira tanaman itu tidak akan berbunga lagi. Ketika mertua saya memangkas tanaman tersebut hingga tersisa batangnya, saya kira mereka hendak memusnahkannya. Namun, sekarang saya menyaksikan indahnya hasil pemangkasan yang awalnya terlihat brutal itu.
Rumah di Atas Batu
Sebanyak 34.000 rumah di salah satu negara bagian Amerika Serikat berisiko ambruk karena fondasinya yang cacat. Tanpa disadari, perusahaan beton menggunakan bebatuan dari tambang yang bercampur suatu bahan mineral yang setelah beberapa lama menyebabkan betonnya retak dan hancur. Fondasi dari sekitar enam ratus rumah sudah hancur, dan besar kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah dengan pesat seiring berjalannya waktu.
Masa Depan Penuh Pengampunan
Pada tahun 1994, negara Afrika Selatan, yang bertransisi dari pemerintahan bersistem apartheid (pemisahan berdasarkan ras) kepada demokrasi, menghadapi pertanyaan sulit tentang penuntasan kasus kejahatan yang dilakukan di masa silam. Para pemimpin tidak dapat mengabaikannya, tetapi menjatuhkan hukuman keras terhadap para pelakunya berisiko memperparah luka bangsa. Dalam buku No Future Without Forgiveness (Tiada Masa Depan Tanpa Pengampunan), Uskup Agung Desmond Tutu berkata, “Kita bisa saja menegakkan . . . keadilan pidana, tetapi Afrika Selatan akan hancur lebur.”
Menyatakan Keberanian Kita
Andrew tinggal di suatu negara yang melarang pengabaran Injil. Ketika saya bertanya apakah ia merahasiakan imannya, ia menjawab tidak. Ia bahkan memakai pin yang mempromosikan gerejanya, dan setiap kali ditangkap, ia mengatakan kepada polisi bahwa “mereka juga butuh Yesus.” Andrew memiliki keberanian karena ia tahu siapa yang berada di pihaknya.
Berlebihan dalam Bekerja
Sebuah toko bangunan dekat rumah saya menyediakan sebuah tombol besar berwarna hijau di salah satu bagiannya. Jika tidak ada pegawai toko di situ, Anda cukup menekan tombol tersebut, dan penghitung waktu pun menyala. Jika tidak ada pegawai yang melayani Anda dalam waktu satu menit, Anda akan mendapat potongan harga untuk barang-barang yang Anda beli.
Iman yang Berharga
“Aku suka sekali menjahit!” kata teman saya. Ia ingat bagaimana sewaktu kecil ia tinggal bersama neneknya yang suka menjahitkan baju untuknya. Setiap kali mendengar bunyi mesin jahit neneknya, ia jadi bersemangat membayangkan baju apa yang sedang dibuat sang nenek untuknya.
Akhirnya Bebas
Dua puluh tahun berlalu sebelum jurnalis asal Inggris, John McCarthy, yang pernah disandera selama lima tahun di Lebanon pada masa perang saudara, bertemu dengan orang yang menegosiasikan pembebasannya. Ketika akhirnya bertemu dengan utusan PBB Giandomenico Picco, McCarthy hanya berkata, “Terima kasih untuk kebebasanku!” Ucapan terima kasihnya yang tulus itu sangat berarti karena Picco sendiri telah mempertaruhkan nyawanya sepanjang negosiasi yang berbahaya untuk memastikan agar McCarthy dan para tahanan lainnya dibebaskan.