Category  |  Santapan Rohani

Serahkan Hasilnya kepada Allah

Bertahun-tahun lalu, saya diundang berbicara kepada anggota sebuah organisasi sosial dalam suatu universitas. Karena para anggotanya memiliki reputasi yang kurang baik, saya membawa seorang teman untuk menemani saya. Saat itu suasana hati mereka sedang senang karena kampus mereka baru saja memenangkan kejuaraan football. Saat makan malam, suasana mendadak rusuh! Lalu, ketua organisasi itu mengumumkan: “Kita kedatangan dua orang yang akan berbicara kepada kalian tentang Tuhan.”

Buah Termanis 

Saat kami membeli rumah, kami juga memperoleh kebun anggur yang sudah jadi. Karena belum berpengalaman, kami sekeluarga menghabiskan banyak waktu untuk belajar menyiangi, mengairi, dan merawatnya. Ketika panen pertama tiba, saya kecewa karena ternyata buahnya asam dan tidak enak. 

Runtuhkan Rumah Ini

Di kota Pontiac, Michigan, Amerika Serikat, sebuah perusahaan penghancur bangunan telah meruntuhkan bangunan yang salah. Para penyelidik yakin pemilik rumah yang seharusnya diruntuhkan itu memindahkan nomor rumahnya ke rumah tetangganya, supaya rumahnya tidak dihancurkan.

Waktu Bersantai

Ramesh senang bercerita tentang Yesus kepada orang lain. Ia tidak segan-segan bersaksi kepada rekan-rekan kerjanya, dan sebulan sekali ia pulang kampung untuk mewartakan Injil dari rumah ke rumah. Sikapnya yang antusias itu menular—terutama sejak ia belajar pentingnya bersantai dan beristirahat.

Pemelihara Pohon

Sebagian orang menjulukinya “pemelihara pohon.” Tony Rinaudo sebenarnya adalah penanam pohon yang bekerja bagi lembaga World Vision Australia. Ia misionaris sekaligus agronomis yang sudah tiga puluh tahun memberitakan kabar baik tentang Yesus Kristus sambil memerangi penggundulan hutan di Sahel, sebuah kawasan di selatan gurun Sahara, Afrika.

Allah Mendengar Semuanya

Salah satu jangka waktu keterlambatan pengiriman surat yang terlama dalam sejarah adalah delapan puluh sembilan tahun. Pada tahun 2008, seorang pemilik rumah di Inggris menerima undangan pesta yang dikirim pada tahun 1919 dan ditujukan kepada pemilik rumahnya di masa lalu. Undangan itu diletakkan dalam kotak suratnya oleh petugas pos, tetapi alasan mengapa undangan itu baru diterima setelah sekian puluh tahun masih tidak diketahui.

Sebuah Taco

Setelah lulus dari sebuah universitas Kristen, Ashton dan Austin Samuelson mempunyai kerinduan yang besar untuk melayani Tuhan. Namun, keduanya tidak merasa terpanggil melayani seperti kebanyakan orang di gereja. Mereka ingin melakukan pelayanan yang berbeda di tengah dunia. Jadi, mereka memadukan kerinduan mereka untuk mengentaskan kelaparan anak-anak di dunia dengan keterampilan wirausaha yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Pada tahun 2014, mereka pun membuka restoran yang menjual taco, suatu makanan khas Meksiko. Namun, tidak seperti restoran lainnya, Samuelson bersaudara menerapkan prinsip “beli satu-beri satu.” Jadi, untuk setiap makanan yang dibeli, mereka akan mendonasikan uang bagi penyediaan makanan yang khusus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak yang kurang sehat. Sejauh ini, mereka sudah berkontribusi di lebih dari enam puluh negara. Mereka ingin mengambil bagian dalam upaya pengentasan kelaparan yang terjadi pada anak-anak—lewat setiap taco yang mereka jual.

Puing-Puing dan Allah

Setelah mendoakan apa yang Allah kehendaki untuk mereka lakukan di masa depan, Mark dan Nina yakin bahwa mereka harus pindah dan tinggal di pusat kota. Mereka baru saja membeli sebuah rumah kosong dan merenovasinya ketika badai tornado datang menerjang. Mark mengirim pesan kepada saya: “Kami mendapat kejutan pagi ini. Tornado yang baru melanda Jefferson City telah menghancurkan rumah kami hingga tinggal puing-puing. Allah pasti sedang merencanakan sesuatu.”

Setiap Orang Butuh Mentor

Saat berjalan menuju kantor atasan saya yang baru, saya dipenuhi rasa khawatir dan waswas. Atasan saya sebelumnya sering memperlakukan bawahannya dengan sikap keras dan merendahkan, sehingga tidak jarang saya (dan rekan-rekan lain) menangis dibuatnya. Sekarang saya bertanya-tanya, Seperti apakah atasan yang baru ini? Namun, begitu saya memasuki ruang kerja atasan saya yang baru, ketakutan saya hilang. Beliau menyambut saya dengan hangat dan meminta saya bercerita tentang diri saya serta apa saja yang membuat saya merasa frustrasi. Ia mendengarkan dengan saksama, dan melalui raut wajahnya yang baik hati dan kata-katanya yang lembut, saya tahu ia benar-benar peduli. Selain sebagai saudara seiman dalam Tuhan, ia pun menjadi mentor, penyemangat, sekaligus sahabat saya di kantor.