Keraguan dan Iman
Ming Teck bangun dengan sakit kepala yang parah dan mengira migrainnya kambuh. Namun, ketika turun dari ranjang, ia langsung jatuh ke lantai. Ia pun dilarikan ke rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa ia terkena serangan otak. Setelah empat bulan menjalani masa rehabilitasi, kemampuan berpikir dan berbicaranya mulai pulih, tetapi jalannya masih tertatih-tatih. Ming sering bergumul dengan perasaan putus asa, tetapi ia merasa sangat terhibur membaca kitab Ayub.
Pria yang Tidak Bisa Bicara
Di sebuah panti wreda di Belize, seorang pria duduk di atas kursi rodanya mendengarkan dengan gembira sekelompok remaja asal Amerika Serikat bernyanyi tentang Yesus. Kemudian, ketika beberapa dari mereka berusaha berkomunikasi dengannya, mereka baru tahu bahwa pria itu tidak bisa bicara. Serangan otak telah merenggut kemampuannya berbicara.
Perantara Dalam Doa
Pada suatu Sabtu sore, kami sekeluarga mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Saat pramusaji meletakkan wadah berisi hamburger dan kentang goreng renyah di atas meja, suami saya mendongak dan menanyakan namanya. Suami saya berkata, “Kami sekeluarga terbiasa berdoa sebelum makan. Adakah yang bisa kami doakan untukmu hari ini?” Pramusaji bernama Allen itu pun melihat kami dengan pandangan terkejut bercampur waswas. Ia terdiam sejenak sebelum memberi tahu kami bahwa setiap malam ia menumpang tidur di sofa dalam rumah temannya, mobilnya baru saja mogok, dan ia sendiri tidak punya uang.
Pengampunan yang Mustahil
Pasukan yang berhasil membebaskan para tawanan di kamp konsentrasi Ravensbruck tempat hampir 50.000 wanita dibinasakan oleh Nazi menemukan secarik kertas lusuh bertuliskan doa ini: Ya Tuhan, janganlah hanya mengingat orang-orang baik, tetapi ingat jugalah mereka yang jahat. Namun, janganlah mengingat penderitaan yang mereka perbuat terhadap kami. Ingatlah buah-buah yang kami hasilkan berkat penderitaan ini—persahabatan, kesetiaan, kerendahan hati, keberanian, kemurahan hati, kebesaran hati kami yang tumbuh dari peristiwa ini. Ketika kelak mereka menghadap-Mu untuk dihakimi, biarlah semua buah yang telah kami hasilkan membawa pengampunan bagi mereka.
Kekuatan dalam Perjalanan
Pada suatu musim panas, saya menghadapi tugas yang tampaknya mustahil diselesaikan. Saya diminta untuk menulis tentang topik yang besar dengan tenggat yang pendek. Setelah beberapa hari berkutat sendirian, berusaha keras menuangkan buah pikiran saya ke atas kertas, saya merasa begitu lelah dan ciut sehingga rasanya ingin berhenti saja. Seorang teman yang bijaksana bertanya kepada saya, “Kapan terakhir kalinya kau merasa disegarkan? Mungkin sekali-sekali kau perlu beristirahat dan menikmati makanan yang enak.”
Gerhana
Saya sudah memakai pelindung mata, memilih posisi ideal, dan menyiapkan cemilan pai bulan buatan sendiri. Bersama jutaan warga Amerika Serikat lainnya, keluarga saya menyaksikan gerhana matahari total yang langka—peristiwa ketika bulan menutup permukaan matahari sepenuhnya.
Allah yang Melihat
“Oh, tidak!” Terdengar teriakan istri saya saat ia memasuki dapur. Di saat yang sama, Max, anjing Labrador kami yang berbobot empat puluh kilogram, melesat keluar ruangan.
Komunitas yang Mengingat
Dalam buku Restless Faith, teolog Richard Mouw membahas pentingnya mengambil dan mengingat hikmah dari peristiwa-peristiwa masa lalu. Ia mengutip perkataan sosiolog Robert Bellah, “Bangsa yang sehat harus menjadi ‘komunitas yang mengingat.’” Bellah menerapkan prinsip yang sama pada ikatan sosial lain seperti keluarga. Mengingat merupakan bagian penting dalam hidup bersama.
Hidup Bagai Dahan
Waktu saya menceritakan kepada konselor tentang emosi saya yang naik turun setelah menjalani satu minggu yang penuh tekanan, ia mendengarkan dengan saksama, lalu meminta saya mengarahkan pandangan saya ke luar jendela. Saya diajak melihat pepohonan yang lebat dengan daun berwarna kuning keemasan khas musim gugur dan dahan-dahan yang bergoyang-goyang ditiup angin.