Kekuatan Dalam Penderitaan
Pada tahun 1948, seorang pendeta gereja bawah tanah bernama Harlan Popov diciduk dari rumahnya untuk “sekadar ditanya.” Dua minggu kemudian, ia diinterogasi sepanjang hari dan tidak diberi makan selama sepuluh hari. Setiap kali menyangkal sebagai mata-mata, ia dipukuli. Namun, Popov tidak hanya bertahan hidup setelah mengalami perlakuan kejam itu, tetapi juga membimbing para tahanan lainnya untuk mengenal Yesus. Sebelas tahun kemudian, ia akhirnya dibebaskan. Ia terus bersaksi tentang imannya kepada orang-orang dan baru dua tahun kemudian berhasil meninggalkan negaranya dan bersatu kembali dengan keluarganya. Setelah itu, selama bertahun-tahun ia aktif berkhotbah dan mengumpulkan dana untuk menyalurkan Alkitab ke negara-negara yang masih tertutup bagi iman Kristen.
Pribadi yang Menyelamatkan
Desmond dijuluki “salah satu orang paling berani yang pernah hidup” meski keberaniannya tidak seperti bayangan kebanyakan orang. Ia adalah seorang tentara yang menolak menyandang senjata. Sebagai tenaga medis, ia pernah seorang diri menyelamatkan tujuh puluh lima tentara yang terluka dalam suatu pertempuran, termasuk orang-orang yang pernah menyebutnya pengecut dan mengolok imannya. Saat berlari di tengah medan pertempuran, Desmond terus berdoa, “Tuhan, tolong aku menemukan satu orang lagi.” Ia pun dianugerahi Medali Kehormatan untuk aksi heroiknya itu.
Kerinduan Kita yang Terdalam
Semasa muda, Duncan pernah takut bakal kekurangan uang, maka di awal usia dua puluhan, ia sangat ambisius membangun masa depannya. Dengan meniti karier di sebuah perusahaan terkemuka di Silicon Valley, Amerika Serikat, Duncan berhasil meraih kekayaan melimpah. Ia mempunyai tabungan besar, mobil sports mewah, dan rumah senilai jutaan dolar di California. Ia memiliki semua yang ia dambakan; tetapi masih merasa sangat tidak bahagia. “Saya terus merasa cemas dan tidak puas,” kata Duncan, “Bahkan, kekayaan dapat membuat hidup lebih buruk.” Uang banyak ternyata tidak memberinya persahabatan, komunitas, atau sukacita—justru sering mendatangkan sakit hati.
Apa yang akan datang?
Pada malam tanggal 3 April 1968, Dr. Martin Luther King berpidato untuk terakhir kalinya dengan judul “Saya Sudah Pernah ke Puncak Gunung.” Dalam pidato itu, Dr. King mengisyaratkan bahwa ia yakin hidupnya tidak akan lama lagi. Katanya, “Hari-hari ke depan akan sulit. Namun, itu tidak masalah bagi saya sekarang. Karena saya sudah pernah ke puncak gunung. Dari sana saya melayangkan pandangan saya. Dan saya sudah melihat tanah perjanjian itu. Mungkin saya tidak akan sampai di sana bersama kalian. . . . [Namun] saya bahagia malam ini. Tidak ada yang saya khawatirkan. Tidak ada yang saya takutkan. Mata saya telah melihat kemuliaan Tuhan yang akan datang.” Keesokan harinya, ia tewas dibunuh.
Memberi dengan Sukacita
Bertahun-tahun lalu, istri saya menerima sejumlah kecil potongan harga dari barang yang dibelinya. Ia sama sekali tidak mengharapkannya, tetapi potongan itu tiba suatu hari melalui surat. Di saat yang hampir bersamaan, teman baiknya bercerita tentang kebutuhan mendesak dari beberapa wanita di negara lain. Mereka adalah para wanita berjiwa wirausaha yang sedang berusaha meningkatkan taraf hidup mereka melalui jalur pendidikan dan…
Berdoa Seperti Yesus
Setiap mata uang memiliki dua sisi. Sisi depan disebut “kepala” dan, sejak zaman Romawi kuno, biasanya menampilkan gambar kepala negara. Sisi belakang disebut “ekor”, suatu istilah yang kemungkinan berasal dari mata uang sepuluh pence di Inggris yang mencantumkan gambar ekor terangkat dari sosok seekor singa yang menjadi lambang negara.
Warisan Hanya Perlu Diterima
“Terima kasih untuk traktiran makan malamnya, Ayah,” saya berkata sambil meletakkan serbet di atas meja restoran. Saat itu saya sedang pulang ke rumah semasa libur kuliah dan, setelah sekian lama meninggalkan rumah, saya merasa janggal ketika orangtua mentraktir saya. “Sama-sama, Julie,” jawab ayah saya, “tetapi kamu tidak perlu selalu berterima kasih. Ayah tahu kamu sudah hidup sendiri, tetapi kamu tetap anak Ayah dan bagian dari keluarga.“ Saya tersenyum. “Terima kasih, Ayah.”
Roti yang Diberkati
Ketika putri tertua kami beranjak remaja, saya dan istri memberinya sebuah buku harian yang sudah kami tulis sejak kelahirannya. Di dalamnya, kami mencatat hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, polah tingkah dan celetukan-celetukannya yang menggemaskan. Di beberapa bagian, tulisan di dalamnya lebih terlihat seperti surat, berisi penggambaran apa yang kami lihat dari dirinya serta karya Allah dalam dirinya. Ketika kami memberikan buku harian itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ketiga belas, ia begitu terpesona. Ia menerima kesempatan yang berharga untuk mengetahui bagian penting dari permulaan identitas dirinya.
Tersambung Dengan Allah
Di sebuah toko barang bekas, saya menemukan lampu yang rasa-rasanya cocok untuk ruang kerja saya di rumah—warna, ukuran, dan harganya pas. Namun, ketika saya mencolokkan lampu itu ke stop kontak di rumah, tidak terjadi apa-apa. Lampunya tidak menyala. Tidak ada daya yang mengalir.